Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 78 MENUJU KANTOR


__ADS_3

"Selamat pagi gadis yang sudah tidak perawan lagi," sapa Tiara berbisik.


Ruby yang sejak tadi menyembunyikan wajahnya, perempuan itu langsung menatap Tiara.


"Duh yang habis begadang, kayanya ngantuk banget," Tiara mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di samping Ruby.


"Apaan sih Kak," wajah Ruby memerah karena malu dengan godaan yg Tiara lontarkan.


"Sukses kan?"


Ruby mengangguk dan tersenyum malu-malu. "Terimakasih sarannya ya kak."


"Sama-sama By. Kakak yakin seratus persen, setelah ini By pasti bucin banget sama suami By."


"Kok jadi By yang bucin sih Kak?"


"Ya iya lah, kan Ruby sudah tahu gimana enaknya," dengan sengaja Tiara mengedipkan mata untuk memberi kode.


"Astagfirullah ... otak By sudah tercemar ini," ucap Ruby setelah paham maksud Tiara. Membuat Tiara menahan tawanya sendiri.


.


.


.


"Selamat pagi Pak Bos," sapa Alan, karena bersamaan sampai di basemen kantor.


"Eh jomblo," Zen pura-pura kaget saat melihat Alan yang berjalan mendekatinya.


"Duh nyesel ketemu Bos disini," gerutu Alan mengikuti langkah kaki Zen.


"Menyesal lah seumur hidup mu karena kamu terus akan bertemu dengan ku."


"Lah Pak Bos nggak ada niatan mecat aku?"


"Keenakan kamu ntar."


Alan mengintip raut wajah Zen. "Kemarin kayanya cerah ceria, kenapa pagi ini wajah Bapak suram sekali? Bapak nggak dapat jatah amunisi ya?" tebak Alan meledek wajah Zen, karena Alan tidak melihat senyum sumringah Zen seperti kemarin.

__ADS_1


"Lama-lama tak sumpel juga mulut mu Al," kesal Zen.


"Loh Pak, kok aku di tinggal," Alan ikut melangkah lebar mengejar langkah kaki Zen.


***


Karena mata kuliah selanjutnya kosong, Ruby masih menimba-nimba akan kemana ia sekarang. Sedangkan Tiara sudah pulang lebih dulu, memesan taksi online.


"Apa aku samperin Mas Zen di kantor saja ya?" gumam Ruby.


Ruby berpikir cepat untuk memutuskan pilihan. Ruby mengambil ponselnya di dalam tas untuk memesan taksi online.


"Mau menghubungi mbak Nina kelamaan nunggu pasti, mending pesan taksi saja lah."


Meskipun ragu-ragu, Ruby mencoba untuk berpositif thinking. Seumur hidup Ruby, baru kali ini ia naik taksi online seorang diri.


Arjuno yang sangat overprotektif terhadap Ruby, lelaki paruh baya itu tentu tidak memberpolehkan anaknya menaiki kendaraan online seorang diri. Arjuno jelas mewanti-wanti dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak hanya pada Ruby, aturan itu berlaku untuk ketiga anaknya.


"Mbak Ruby ya?" tanya seorang sopir yang nampak sudah paruh baya, setelah membuka kaca mobilnya.


"Benar Pak. Pak Anton ya?" tanya Ruby sambil memastikan foto driver di aplikasi dan orang yang ada di dalam mobil.


"Iya mbak, benar. Ayo silahkan masuk," ucapnya sopan.


"Ke kantor DS Group ya Mbak?" tanya Pak Anton setelah Ruby masuk ke dalam mobil.


"Benar Pak."


Mobil mulai berjalan meninggalkan area universitas. Sudah menjadi hal biasa, jika jalanan ibu kota macet seperti saat ini.


Sejak tadi, Ruby terus memantau rute di aplikasi. Perempuan itu tetap harus waspada, kalau saja sopir tidak jalan sesuai arah di aplikasi.


"Di depan ada rute jalan, untuk mempercepat ke tempat tujuan mbak. Mau lawan arah yang ada di aplikasi atau tidak?" tanya Pak Anton. "Kalau sesuai rute memang sedikit macet," tambahnya.


"Sesuai rute saja Pak."


"Baik Mbak."


Beberapa menit kemudian, Ruby bergegas turun dari mobil setelah kendaraan roda empat itu berhenti di lobby.

__ADS_1


"Berapa Pak?"


"75.000 Mbak."


Ruby langsung mengambil uang berwarna merah dari dalam dompetnya. "Ini Pak."


"Kembali 25.000 ya Mbak," ucap Pak Anton setelah menerima selembar uang berwarna merah.


"Nggak usah pak, buat bapak beli minum. Terimakasih sudah mengantar saya selamat sampai sini pak," tutur Ruby ramah.


"Terimakasih ya Mbak."


Setelah taksi online kembali melaju, Ruby melangkah mendekati dua scurity yang bertugas di bagian depan.


"Selamat siang pak,"


"Iya, selamat siang Dek. Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya ramah.


"Saya mau menemui Mas Zen, ruang kerjanya ada di lantai berapa ya Pak?"


"Adek sudah ada janji dengan Pak Zen?"


Apa perlu seorang istri menemui suaminya sendiri harus membuat janji. Itulah yang ada di dalam pikiran Ruby saat ini.


"Belum Pak."


Kedua scurity di sana tentu menatap heran gadis muda di depan mereka.


"Sepertinya anak ini fansnya Pak Zen," bisik dua scurity itu.


"Maaf ya Dek. Tidak sembarang orang yang bisa menemui Pak Zen. Jadi sebaiknya adek pulang saja sekarang," usirnya secara langsung.


"Sembarang orang?" pekik Ruby tidak terima. "Saya ini is ..."


Ucapan Ruby menggantung. Mau mengakui diri kalau dirinya adalah istri pimpinan DS Group, rasanya percuma. Karena tidak banyak orang yang tahu perihal pernikahan mereka.


Ruby mundur satu langkah dengan wajah tertunduk. Entah kenapa, hatinya terasa sakit saat ini.


Bersambung ...

__ADS_1


Maaf kemarin hanya up 1 bab🙏aku sedang butuh istirahat 😣 Maaf sudah buat menunggu dan buat kecewa 🙏🙏🙏


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2