
"Minta maaf sekarang Vian," Perintah Hendri geram. Rasanya ia benar-benar gagal dalam mendidik anaknya. Entah apa yang membuat Vian menjadi seperti ini. Padahal, semua anaknya mendapat kasih sayang yang sama. Tapi kenapa Vian sangat berbeda.
"Vian," bentak Reina, agar Vian segera minta maaf.
Vian tetap menunduk. Lelaki yang sudah hancur karena di pukuli Zen itu sadar, perbuatannya telah melukai banyak orang. Karena Vian sangat mencintai Ruby.
Vian ingin meminta maaf, tapi entah kenapa, bibir Vian kesulitan untuk di ajak bergerak mengeluarkan kata permohonan maaf.
Hendri menghela nafasnya kasar. Ia langsung meninggalkan tempat dimana semua orang berkumpul dan terpaku ke arah Vian.
Setelah mengambil dompet berisi identitas, Hendri kembali ke tempat dimana Vian masih tetap saja membisu.
Zen tersenyum sinis melihat Vian yang masih saja menunduk. "Zen kembali ke apartemen sekarang," ucapnya dan langsung keluar dari rumah itu.
"Ayah, Nda. Biar saya yang mengurus anak ini," ucap Hendri. Wajah Hendri rasanya sudah di penuhi kotoran hanya sekedar menatap Yusuf dan Nissa.
"Mau di bawa kemana Vian, Mas?" tanya Reina saat Hendri menyeret Vian keluar dari rumah megah itu.
Reina sadar anaknya salah, tapi sebagai seorang ibu, melihat anaknya babak belur seperti itu, membuat hati Reina terasa sakit.
Reina ikut masuk ke dalam mobil setelah Hendri memaksa Vian masuk.
"Mau kemana Mas?"
"Nganter anak ini pulang ke Malang."
__ADS_1
"Apa nggak tunggu pagi saja Mas, kita cari tiket pesawat agar lebih cepat," usul Reina.
"Aku sudah nggak punya muka, jika terlalu lama di rumah Ayah, Re."
"Kita cari apotik 24 jam dulu Mas. Vian harus di obati, takut infeksi."
Hendri fokus mengendarai mobilnya. Sedangkan Reina berada di kursi belakang, sedang mengobati luka-luka yang ada di tubuh Vian.
"Apa yang salah dari cara kami memberikan kasih sayang pada mu Vian?" tanya Hendri setelah sekian lama tidak ada pembicaraan.
Hendri menghela nafas kasar. "Papa mungkin terlalu memanjakan kalian bertiga. Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kalian bertiga hidup kekurangan seperti Papa dulu."
Kedua mata Hendri berkaca-kaca, ia mengusap matanya secepat mungkin agar penglihatannya tetap jelas. Mengingat masa lalu yang serba pas-pasan bahkan kekurangan. Tidak bisa membeli apa yang diinginkan hingga bisa hidup seperti ini, tentu begitu banyak perjuangan yang sudah Hendri lewati.
"Kamu menyakiti Oma dan Om kamu, itu artinya kamu menyakiti Opa, Vian. Kamu benar-benar berhasil membuat Papa dan Mama mu ini malu."
"Papa dulu bukanlah orang yang seperti sekarang ini Vian. Kalau bukan karena Papa bertemu dengan Opa. Sudah di pastikan kamu tidak akan ada di dunia ini, karena tidak mungkin Papa bertemu dengan Mama mu."
Hendri kembali mengingat masa dimana ia pertama kali menginjakkan kaki di kita metropolitan ini.
"Awal Papa bertemu dengan Opa, saat pertama kali Papa menginjakkan kaki di kota ini. Kalau buka ketemu dengan orang baik seperti Opa, Papa sudah pasti kecopetan, karena preman yang Papa tanyai dimana ada penginapan murah."
"Kedua kalinya bertemu dengan Opa, saat Papa bekerja menjadi cleaning servis di sebuah restoran. Papa menemukan, dompet Opa yang tertinggal di toilet."
Hendri tersenyum samar karena terlalu mengagumi orang seperti Yusuf. "Papa bahkan tidak menyangka, orang seperti Opa masih ingat dengan wajah Papa. Masih ingat kalau itu menjadi pertemuan kedua kami."
__ADS_1
Hendri menghela nafasnya. "Apa kamu tahu, Opa bahkan mempercayai Papa sebagia sekertaris keduanya. Padahal kami baru saling mengenal. Belum lagi pendidikan yang akhirnya bisa Papa lanjutkan, dan itu di biayai Opa."
Vian semakin menundukkan wajahnya semakin dalam. Mendengarkan setiap kisah yang di ceritakan Hendri.
"Setelah bertemu dengan Opa. Kehidupan Papa jungkir balik 180°. Papa yang awalnya hanya tinggal di sebuah kost an kecil. Seketika berpindah di sebuah apartemen. Papa yang biasanya kemana-mana menaiki angkutan umum, seketika harus belajar mengemudikan mobil karena Opa memberikan fasilitas mobil pada Papa."
"Semenjak itu juga, Papa bisa membawa Kakek dan Nenek ke kota setelah bisa membeli rumah. Setelah beberapa tahun bekerja menjadi sekertaris pribadi, Opa."
"Itu hanya inti dari sebuah cerita kehidupan Papa. Tidak cukup jika di ceritakan semua sekarang perihal jasa Opa yang begitu berharga untuk Papa."
"Papa tidak mau menceritakan hal seperti ini ke kalian bertiga karena Papa tidak ingin kalian tahu kesusahan Papa dulu."
"Papa hanya ingin kalian hidup tenang tanpa kekurangan apapun." Hendri kembali menghela nafasnya. "Papa harap kamu bisa menyadari kesalahan mu sendiri, dan meminta maaf secara benar, Vian."
Bersambung ...
Untuk yang bingung tentang hubungan darah Keluarga ini, aku akan kasih penjelasan sedikit ya🙏
Reina dan Zen itu satu ayah beda ibu. Sedangkan Reina dan Nissa itu seumuran. Jadi jangan heran kalau Zen menyukai dedek2 gemes karena punya keturunan dari Bapak Yusuf 🤣🤣🤣
Cerita lengkap Nissa dan Yusuf ada disini, yang berkenan silahkan mampir. Tapi maaf, tulisan ku disana sangat acak-acakan
Ini kisah Hendri dan Reina
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️