
"Maafkan Nda ya By, dengan terpaksa Nda melakukan ini," batin Nissa dengan hati bahagia. Tangannya kembali mengaduk jus alpukat yang telah ia buat.
Jika di gelas Ruby, Nissa memberikan obat perang**sang. Berharap agar malam ini kedua anaknya mulai aktif berproduksi mencetak cucu untuknya. Berbeda dengan gelas Zen yang Nissa beri obat kuat. Agar Zen semalaman bersenang-senang bersama Ruby tanpa kenal lelah.
"By."
"Iya Nda," gadis cantik yang terus menggunakan jilbabnya itu langsung menghampiri Nissa.
"Bawa ini ke kamar ya. Yang ini gelas punya By, dan yang ini punya suami By. Jangan sampai tertukar ya!"
Walaupun merasa aneh tapi Ruby memilih tidak protes. Lagi pula, mana mungkin mertuanya menaruh hal-hal aneh di dalam minuman di depannya ini.
"Iya Nda."
Nissa langsung mencuci blander dan alat lainnya yang telah ia gunakan, setelah Ruby beranjak dari dapur.
"Uuuhhh nggak sabar nunggu besok pagi," gumam Nissa sambil membayangkan, ia mendapatkan cucu perempuan kembar yang sangat menggemaskan.
"Nda masih di dapur By?" tanya Yusuf saat berpapasan dengan Ruby, yang akan menaiki tangga.
"Iya Ayah, Nda masih di dapur," jawab Ruby, gadis itu melihat Yusuf yang melirik dua gelas jus yang ia bawa. "Ayah mau?" tawar Ruby.
"Enggak usaha, itu kan jus punya By sama Zen," tolak Yusuf.
"Nggak apa-apa, Ayah ambil satu, nanti By bisa buat lagi kok Ayah."
Karena Ruby mengatakan akan membuat lagi, artinya dua gelas jus itu adalah buatan Ruby. Tentu saja dengan senang hati Yusuf mengambil satu gelas bagian Ruby.
"Terimakasih ya nak. Akhirnya ngerasain jus buatan mantu ku."
Ruby hanya tersenyum canggung saat Yusuf mengusap puncak kepalanya. "Apa ayah akan kecewa kalau jus itu bukan buatan By, tapi buatan Nda?" gumam Ruby sambil melihat Yusuf yang langsung balik arah menuju kamar tamu.
***
__ADS_1
Setelah selesai, Nissa bergegas menuju kamarnya. Malam ini, ia dan Yusuf akan tidur nyenyak. Membiarkan kegaduhan yang akan Zen dan Ruby ciptakan.
"Ayy ..." Nissa langsung menutup pintu setelah memasuki kamar. "Ayy kenapa lepas baju sih, nanti masuk angin. Mana ACnya full lagi," Nissa langsung menyambar remote AC untuk menurunkan suhu ruangan yang terasa seperti kulkas.
"Jangan sayang, tubuh aku rasanya gerah banget," keluh Yusuf.
Nissa tentu sangat khawatir sekarang. Tangannya langsung menyentuh tubuh Yusuf yang mulai mengeluarkan keringat. "Kok bisa? Kenapa? Ayy nggak salah makan dan minum sesuatu kan?"
"Nggak lah sayang, aku hanya minum jus barusan."
"JUS?" pekik Nissa kuat. Spontan Nissa langsung melihat meja, jelas di sana terdapat gelas yg nampak kosong. Dan itu adalah gelas bagian Ruby.
"Kenapa Ayy minum jus bagian Ruby, itu ada obat perangsangnya Ayy," omel Nissa.
"APA?"
Nissa langsung keluar dari dalam kamar, melangkah cepat menuju kamar Zen dan Ruby. Berharap Zen belum meminum jus buatannya tadi.
Nissa tidak ingin efek dari obat kuat membuat Zen tidak tahan menahan has*rat, lalu memaksa Ruby untuk melampiaskan segalanya. Nissa tidak ingin anaknya di anggap pemaksaan atau yang lebih parah adalah pemer**kosa.
"Nda, kenapa Nda?"
"Jusnya mana jusnya?"
"Itu di atas meja," tunjuk Zen pada meja di dekat ranjang.
Nissa langsung masuk dan mengambil jus yang masih nampak penuh, belum di minum sedikit pun. Membuat Nissa merasa lega.
"Kenapa Nda?"
"Nggak apa-apa. Kamu sama Ruby segera tidur, jangan keluar kamar sebelum waktu subuh ok!"
Nissa langsung bergegas keluar dari kamar setelah Zen mengangguk paham.
__ADS_1
"Kenapa Om?" tanya Ruby yang baru keluar dari kamar mandi. Gadis itu bingung melihat wajah Zen yang masih terpaku.
"Nggak apa-apa," Zen melihat penampilan Ruby dari atas kebawah. Tubuh yang masih nampak rapat dengan pakaian serba panjang.
Zen hanya bisa menghela nafasnya. "Aku sudah mengungkapkan perasaan ku, tapi kenapa dia belum luluh dan anggap aku main-main," batin Zen sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Om."
"Hem."
"Mau tidur di sini juga?" tawar Ruby pelan.
Mendengar tawaran menggiurkan, tentu saja membuat Zen membuka kedua matanya dengan binar bahagia. "Mau dong. Mau banget."
Melihat wajah antusias Zen saat ini, entah kenapa membuat hati Ruby terusik.
"Om hanya boleh tidur di sini karena ini kamar Om. Jadi jangan macam-macam sama aku."
"Memangnya macam-macam itu yang seperti apa?" tanya Zen sambil mendaratkan tubuhnya di atas ranjang.
"Om kan suka banget sentuh aku tanpa izin."
"Baiklah. By apa boleh sekarang aku peluk kamu?" izin Zen dan langsung memeluk Ruby, lalu merebahkan tubuh mereka berdua.
"Aku belum jawab kenapa Om sudah peluk aku duluan?" protes Ruby. Tapi sungguh hati Ruby merasa senang saat Zen melakukan hal-hal yang mengejutkan seperti ini.
"Izinkan aku tidur nyenyak sambil peluk kamu. Sekali ini saja."
Jika dengan ungkapan cinta Ruby menganggapnya lelucon. Maka Zen harus menggunakan bahasa tubuh mereka, yang saling memberikan kenyamanan.
"Apa benar kata Kak Tiara, kalau ungkapan Om ini jujur dan aku juga punya perasaan yang sama?" batin Ruby sambil menatap lekat wajah Zen yang lelap.
Bersambung...
__ADS_1
Nikmati alur yang aku buat ya🤭 memang lambat menuju bab sesad 🤣 tapi setidaknya Ruby sudah sadar dengan perasaannya dan tahu semua kebenarannya 🤗😘
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️