Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 39 MAU MENCOBANYA?


__ADS_3

Ruby langsung keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri sejenak sebelum tidur. Ruby melirik Zen yang nampak santai merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Yang benar saja, masak aku harus tidur di sofa," batin Ruby sambil menuju meja rias. Ruby langsung menggunakan perawatan wajahnya yang selalu rutin ia gunakan setiap hari. Kalau di pikir-pikir lagi, ternyata Nissa menyiapkan semuanya yang biasa di kenakan Ruby.


Ruby langsung melangkah mendekati ranjang untuk mengambil bantal dan guling.


"Mau kemana?" tanya Zen menghentikan Ruby yang akan menuju sofa.


"Tidur," jawab Ruby singkat.


"Mau tidur di sofa?" tebak Zen yang sudah pasti benar.


"Ya iya lah. Kalau nggak tidur di sofa, By mau tidur di mana lagi?"


"Ya di kasur lah By,mau di mana lagi?"


"Ruby nggak punya kasur di sini,"


"Lah ini," Zen menepuk kasur tempatnya tidur.


Perasaan Ruby sudah tidak enak saja. Bisa melayang kemana-mana kalau ia ikut tidur di kasur, bersama Zen.


"Mana mungkin aku tidur di sana, kalau Om juga tidur disana," tutur Ruby gugup karena merasa tidak aman.


Zen tertawa, membuat Ruby merasa di ejek. "Apa kamu takut aku apa-apain sekarang? Apa sekarang kamu menganggap aku lelaki normal, makannya kamu tidak mau tidur disini bersama ku?"


Ruby tersenyum. "Yang namanya Ga*y ya tetap saja ga*y," sungut Ruby.


"Lalu?" Zen sengaja memancing Ruby. Agar mau tidur satu ranjang dengannya.

__ADS_1


"Om remehin aku ya?" tuntut Ruby tidak terima.


Zen tersenyum penuh arti. "Dasar gadis polos yang bar-bar," batin Zen terkekeh. "Aku nggak bilang begitu."


Walau hati Ruby tidak yakin melakukan hal yang ia pilih saat ini, tapi dengan beraninya Ruby kembali mendekati ranjang. Menghempas bantal dan guling begitu saja. Gadis itu langsung merangkak naik ke atas ranjang.


"Hanya tidur bersama begini saja mah gampang," Ruby membenarkan guling yang jadi pembatas di antara mereka. "Jangan ngelewatin batas ini loh Om. Kalau sampai berani melewati ini, aku pasti kasih Om pelajaran." Ancam Ruby, merasa sedikit jago beladiri.


"Kena kamu bocil," batin Zen, sambil tersenyum menang.


"Ok, aku nggak akan mungkin melewati ini," ungkap Zen sambil memperhatikan Ruby. "Tapi apa kamu juga mau tidur dengan penampilan mu yang seperti ini?"


Ruby melihat bajunya sendiri. Ruby masih mengunakan baju terusan dan juga jilbab, pakaian lengkap yang ia kenakan setelah selesai mandi.


Biasanya, saat akan tidur Ruby selalu mengganti bajunya menggunakan setelan piyama. Bahkan Ruby selalu melepas pengaman aset berharganya, bagian atas dan bawah. Ruby tidur malam tetap menggunakan penutup aset bagian bawah, hanya saat sedang kedatangan tamu bulanan.


"Aku pasti kesulitan tidur ini nanti," batin Ruby. Gadis cantik itu kembali melihat Zen yang menatapnya lekat. "Ruby memang biasanya kalau tidur begini kok Om. Biar hangat."


"Om periksa baju ku yang di siapkan Nda?" tanya Ruby tak percaya.


"Iya. Aku lihat semua pakaian mu dan ku hafal dengan baik semua ukurannya berapa," dengan usilnya, Zen mengedipkan satu matanya untuk menggoda Ruby.


"Om ini sebenarnya ga*y apa nggak sih?" tanya Ruby sambil menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi da*danya. Entah kenapa, Ruby melihat tatapan Zen yang terlihat lain saat menatapnya.


"Apapun penilaian kamu, mungkin memang itu lah diri ku," ucap Zen santai, lalu merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya. "Ingin aku terkam saja rasanya bocil satu ini," batin Zen menahan diri.


"Ingat ya Om, jangan melewati batas."


"Hemmm."

__ADS_1


Ruby langsung merebahkan diri, dan tidur memunggungi Zen.


Zen menoleh saat merasakan pergerakan tubuh Ruby. Lelaki dewasa yang jelas punya hasrat terpendam itu, hanya mampu menghela nafasnya. "Tahan Zen, Tahan. Dapatkan dia pelan-pelan," Zen mengubah posisi tidurnya menjadi miring, menikmati indahnya punggung Ruby.


Sudah dua jam berlalu, Ruby hanya bisa pura-pura diam dengan posisinya, seolah sudah lelap.


"Bagaimana aku bisa tidur kalau da*da aku sesak banget rasanya," batin Ruby merasa tidak nyaman. "Om Zen sudah tidur belum ya?" pelan-pelan Ruby mengubah posisinya, menoleh melihat Zen yang tidur miring kearahnya dan sudah nampak lelap.


Ruby mengamati wajah Zen. Sekalipun ruang kamar sudah di ganti menjadi lampu temaram. Tapi wajah Zen masih dapat di lihat oleh Ruby.


"Sayang banget Ga*y. Mubazir dong kegantengannya nggak di turunkan," batin Ruby.


Ruby nampak bingung mau melakukan apa agar ia bisa cepat lelap. "Nonton drakor sebentar ah," gumam Ruby saat mengingat drama kesukaannya yang masih ongoing. Dengan cepat Ruby menyambar hape di atas nakas dan langsung mencari aplikasi Netflix. "Aduh aerphone ku di rumah lagi," gumamnya sambil melihat wajah lelap Zen. "Semoga Om nggak ke ganggu dengan suara ponselku.


Ruby kembali memunggungi Zen dan mulai fokus menonton drama. Ruby menahan kekehannya saat adegan lucu, karena memang genre yang ia lihat adalah romantis komedi.


"Wah, setelah melewati ratusan purnama akhirnya Mukbang bi*bir juga," gumam Ruby saat menampilkan adegan ciuman di layar ponselnya.


"Mau mencobanya?" bisik Zen tiba-tiba.


Ruby yang terkejut karena mendapatkan bisikan dan merasakan tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya, membuat Ruby langsung mengubah posisinya menjadi terlentang. Bahkan secara tidak sengaja, hidung Ruby menyentuh bibir Zen.


"Hah!" semakin terkejut Ruby sekarang, karena wajah Zen sudah sangat dekat dengan wajahnya.


"Mau mencoba itu?" tawar Zen sekali lagi sambil menunjuk layar ponsel Ruby menggunakan dagunya.


Ruby melirik ponselnya, spontan tangannya menekan tombol power untuk mematikan layar ponselnya. Siapa yang menyangka kalau adegan ciu*man yang tadi hanya menempel saja sekarang sudah terlihat menggebu.


Bersambung...

__ADS_1


Aman jantung bestie?🤣🤣🤣


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2