Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 61 DEDEMIT ITU SUAMI KU


__ADS_3

"Apa dia dedemit nakal itu?" batin Ruby. Gadis itu memilih tetap memejamkan matanya saat tubuh lelaki dengan aroma sabun yang begitu menyegarkan itu, semakin mendekat dan duduk di sisihnya.


Ruby perlu memastikan apa yang akan di lakukan Zen. Kenapa Zen berbohong perihal tombol password kamar yang di tempati Ruby. Dan yang lebih penting, apa yang ingin di lakukan Zen.


Detak jantung Ruby semakin bergerak cepat saat tangan Zen yang masih terasa dingin itu, mengusap wajah Ruby pelan-pelan.


"Aku lelah By," ucap Zen setelah menghela nafasnya. "Tapi lelah Ku hilang saat sudah pulang dan lihat kamu."


Ruby mencoba tetap tenang di saat tangan Zen semakin inten meraba wajah Ruby. Sepertinya, Zen sangat menyukai bibir Ruby. Karena kini, jari Zen terus memberikan usapan lembut di sana.


"Sejak dulu hingga sekarang, aku hanya cinta sama kamu By. Mungkin dulu hanya perasaan bocah kecil tapi nyatanya perasaan itu sampai sekarang. Perasaan yang sama, yang semakin memuncak sampai rasanya aku sulit menahan diri.


"Perasaan bocah kecil? Apa dulu kita pernah bertemu saat masih kecil? Tapi kapan? Kenapa Ayah sama Bunda nggak pernah cerita?" batin Ruby semakin penasaran.


Zen menghela nafasnya pelan. "Aku payah dalam hal mengutarakan perasaan ku, By. Aku hanya melakukan sesuai naluri ku. Aku berharap kamu percaya dengan ungkapan hati ku. Tapi secara bersamaan, aku juga sangat takut kamu menjauhi aku karena tubuh ku yang tiba-tiba agresif tanpa bisa aku cegah saat bersama kamu."


Zen mendekatkan wajahnya pada telinga Ruby. Membisikkan kata untuk mengutarakan perasaan yang semakin sulit di bendung.


"Aku cinta kamu, Ruby Al Humaira."


Desiran aneh langsung menjalar begitu saja di dalam tubuh Ruby, saat Zen membisikkan kata cinta. Tangan Ruby semakin mencengkram erat seprai saat benda kenyal berwana merah itu mendarat di keningnya dengan sangat lembut. Bibir Zen juga mendarat di kedua mata Ruby yang tertutup rapat. Meninggalkan banyak kecupan hangat di wajah Ruby yang lelap.

__ADS_1


"Apa ini?" batin Ruby. "Apakah dedemit yang aku pikirkan adalah suami aku sendiri?" batin Ruby semakin penuh tanya.


Detak jantung Ruby semakin bertalu-talu saat bibir Zen mendarat tepat di bibir Ruby. Menye*sap pelan walau tidak ada balasan.


Tangan Zen membelai wajah Ruby, menyusur turun ke leher. Membuat bulu kuduk Ruby merinding. Hingga tangan Zen mendarat tepat di dada Ruby.


Zen langsung menghentikan kecupan bibirnya. "Kenapa orang tidur, detak jantungnya cepat sekali?" batin Zen sambil mengangkat wajahnya.


"O-om," Ruby tergagap pelan di saat netra mereka bertemu tatap. Masih tidak menyangka dengan yang terjadi barusan.


"Apa aku harus memaksa mu By?" tanya Zen pelan.


Semua semakin terasa sulit jika terus menerus menahan diri. Tanpa pikir panjang lagi, Zen langsung menyatukan benda kenyal milik mereka. Menyesap pelan bi*bir Ruby yang selalu berceloteh, cerewet terhadap Zen.


Ke dua tangan Zen langsung mencengkram lengan tangan Ruby agar menghentikan aksinya. Merayap pelan hingga jari-jari mereka saling mengisi celah. Bersatu dan saling menggenggam.


Zen tersenyum di sela-sela penyatuan bi*bir mereka, saat Ruby membalas ciu**mannya. Zen langsung melingkarkan kedua tangan Ruby, setelah tangan Ruby tidak melakukan perlawanan lagi.


Karena di pikir Zen, Ruby sudah siap dan mau melakukan adegan selanjutnya. Tak perlu waktu lama, Zen menyibak selimut yang menutupi tubuh Ruby. Dengan cepat Zen merangkak naik, menindih tubuh kecil Ruby.


Ruby jelas terkejut. Niatnya membalas ciuman Zen agar Zen bergegas keluar dari kamarnya. Agar detak jantung Ruby tidak semakin menjadi di dalam sana. Tapi apa sekarang?.

__ADS_1


Ruby sampai melenguh tertahan saat tangan Zen sudah mendarat di salah satu gumpalan kembar.


"O-om," Desah nafas Ruby lolos begitu saja saat Zen mengakhiri pertemuan bibir mereka. Dan berpindah menyusuri leher Ruby.


"Om." Ruby semakin panik saat Zen menurunkan lengan baju tidurnya. Yang entah sejak kapan kancing piyama itu sudah terlepas.


Zen semakin gencar mengabsen tubuh Ruby menggunakan bibirnya. Apalagi suara lenguhan Ruby yang semakin membakar has*rat Zen yang sudah membara.


"Aaahhh ... Om tolong jangan sekarang, aku belum siap."


Ucapan Ruby seketika membuat mulut Zen yang akan melahap manik mungil di tubuh Ruby, berhenti begitu saja.


"Oh sh*it," umpat Zen yang langsung beranjak dari atas tubuh Ruby.


Ruby yang merasa kalau Zen marah, gadis itu ikut turun dari atas ranjang dan memeluk Zen dari belakang. Menghentikan lelaki yang akan keluar dari kamar.


"Maafin aku Om!"


Zen hanya bisa menghela nafasnya untuk menahan diri yang sudah tersulut. Siap melakukan pertempuran.


"Tolong jangan marah. Aku tahu ini tugas ku, dan Om juga berhak mendapatkannya. Tapi aku minta maaf jika aku belum bisa sekarang."

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2