Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 83 HAIRDRYER


__ADS_3

Pelan-pelan kedua kelopak mata Ruby mulai terbuka. Ruby menggeliatkan tubuhnya dengan rasa malas. Membuat selimut yang menutupi tubuhnya melorot begitu saja.


"Eh!" Ruby kembali menarik selimut saat menyadari tubuh bagian atasnya tanpa benang. Membuat Ruby mengingat apa yang telah terjadi sebelum Ruby terlelap terbuai mimpi. Ruby mengulas sebuah senyuman kecil. "Dasar Om mesum," cibir Ruby.


Perempuan itu turun dari atas ranjang. Membelitkan selimut menutupi tubuhnya. Ruby mengambil bajunya, yang Zen letakkan di tepi ranjang bagian bawah.


Setelah mengambil roti pembalut, Ruby bergegas menuju kamar mandi yang ada di sana. Ruby segera membersihkan diri, agar tubuhnya kembali segar.


Zen memasuki ruang kamar itu bersamaan dengan Ruby yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sudah mandi?" Zen menatap Ruby yang sudah menggunakan pakaian lengkap sedangkan kepalanya masih terbelit handuk.


"Sudah Mas."


"Sini aku bantu keringkan rambut mu By," Zen duduk di tepi ranjang. Membuat jarak antara kedua pahanya, agar Ruby bisa ikut duduk di tepi ranjang juga, tepatnya di depan Zen.


"Memangnya pekerjaan Mas sudah selesai?"


"Kalau pekerjaan, nggak akan ada habisnya By. Selesai satu datang yang baru. Ayo sini!" Ruby menurut saja. Bergegas duduk di depan Zen.


"Kenapa sabunya wangi sekali kalau kamu yang pakai By?" modus sekali lelaki satu ini. Karena sekarang, hidung dan bibir Zen sudah mendarat di pundak Ruby, hingga ke tengkuk.


"Mas jangan bikin By merinding kenapa?" komplainnya. Perbuatan Zen tentu saja menimbulkan sengatan pada raga Ruby.


"Memangnya aku ngapain By?" Zen menahan senyumnya.

__ADS_1


"Nah kan lupa sama kelakuan sendiri."


Zen melepas lilitan handuk yang membungkus rambut panjang Ruby. Mengusap pelan agar rambut hitam dan panjang itu segera kering.


"Sepertinya aku harus beli hairdryer. Agar setiap kali kamu mandi di sini, gampang buat keringkan rambut."


"Buat apa Mas? Ini juga By mandi karena gerah aja kok."


"Aku yakin, nanti juga kamu bakal rajin mandi


di sini By," isi kepala Zen sudah di kelilingi dengan ide yang sangat menguntungkannya.


"Sudah kaya nggak punya rumah saja, By mandi di sini Mas."


Ruby yang aslinya polos, tentu saja tidak paham dengan maksud pembicaraan Zen saat ini.


"Maaasss ..." tentu saja Ruby terkejut saat lehernya di sesap kuat oleh Zen. Ruby beranjak dari sana dan menatap Zen kesal. Karena lagi-lagi tubuhnya di buat merinding.


"Ayo pulang," ajak Zen tanpa menanggapi wajah Ruby.


"Memangnya pekerjaan Mas sudah benar-benar selesai?" tanya Ruby lagi, karena saat ini masih jam empat sore. Belum waktunya jam pulang kantor tentunya.


"Nggak akan ada yang komplain aku pulang jam berapa."


Setelah memberi tahu Alan, Zen membawa Ruby masuk ke dalam lift. Jika biasanya lift langsung menuju basemen. Zen Mengajak Ruby melewati lantai dasar.

__ADS_1


Sejak tadi, grup aplikasi hijau sudah di ramaikan dengan foto pernikahan Zen dan Ruby. Bahkan acara pesta yang akan di selenggarakan, sudah di sertakan di sana.


Tujuan Zen saat ini, agar tidak ada yang menilai negatif dirinya dan Ruby saat berinteraksi di kantor. Zen tentu tidak ingin kejadian yang di ceritakan Ruby saat di lobby tadi terulang kembali.


Para karyawan yang bertugas di lantai dasar, tentu menatap kagum saat melihat Zen melangkah bersama dengan Ruby. Melingkarkan tangannya begitu mesra di pinggang Ruby.


Untuk pertama kalinya, para karyawan melihat atasan mereka menggandeng perempuan. Membuat semua orang berfikir, begitu beruntungnya Ruby yang telah menjadi perempuan pilihan. Menjadi pendamping hidup Zen.


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka, memberikan salam hormat dan sopan.


"Nasib kita bagaimana ini?"


Dua scurity yang bertugas di depan lobby tentu mengkhawatirkan nasib pekerjaan mereka, karena merasa tidak sopan saat Ruby datang tadi.


"Siapa yang tahu anak semungil itu, ternyata istri pimpinan," bisik mereka karena langkah Ruby dan Zen semakin mendekat.


"Selamat sore Pak, Bu," sapa dua scurity bersamaan.


"Selamat sore Pak," balas sapa Zen.


"Kami meminta maaf Pak, Bu. Terutama pada Ibu Zen, karena kami tidak tahu kalau ternyata Ibu ini istrinya Pak Zen."


"Nggak apa-apa Pak," Ruby tersenyum ramah. "Wagu banget sih Mas, By di panggil Ibu," protesnya, karena merasa geli.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2