
"Zen tahu om. Zen melamarnya sekarang karena Zen takut di tikung orang lain. Zen berharap, Om dan Tante merestui Zen menjadi pendamping hidup Ruby. Zen akan datang lagi, melamar Ruby dengan cara yang benar bersama kedua orang tua Zen, di saat Om dan Tante sudah memperbolehkan Ruby menjadi pendamping hidup Zen."
Arjuno tertawa sejenak membuat Zen kebingungan. Kemudian Arjuno menatap lelaki yang dengan berani melamar anak kesayangannya. "Dengar bocah tengil, bagaimana mungkin aku mau memberikan anak perempuan ku dengan mu, sedangkan kamu sering kali keluar masuk klub malam?"
Zen sadar sekarang, ke dua orang tua gadis yang ia inginkan mengetahui gosip yang beredar di luar sana. Gosip yang tidak pernah di ambil pusing oleh Zen sendiri. Jiwa lawak Zen seketika meronta ingin merasa bangga karena Arjuno mengetahui gosip tentangnya. Tapi waktunya tidak tepat karena sekarang Zen sedang dalam mode serius melamar seorang gadis.
"Yang harus Om dan Tante tahu, Zen pergi ke klub malam bukan untuk mabuk-mabukan atau bahkan sampai main perempuan." Tutur Zen karena gosip di luaran menyebutkan dirinya seorang casanova. "Zen pergi kesana karena menemui klien Zen, dan soal gosip lainnya. Zen ini lelaki normal."
Arjuno dan Zantisya memang tidak ambil pusing perihal gosip tentang Zen yang sering kali muncul jadi bahan pemberitaan. Hanya saja, Arjuno ingin melihat sebuah kejujuran dari penjelasan dari pancaran mata Zen.
"Assalamualaikum, buuunnn Ruby pulang," salam Ruby sangat antusias.
"Waalaikumsalam..." Jawab tiga orang bersamaan.
"Loh, ayah kok sudah pulang?"
Arjuno melirik Zen yang menunduk dalam sambil memejamkan kedua matanya. Saat Ruby melangkah masuk menghampiri Arjuno dan Zantisya.
"Ada tamu penting, jadi ayah pulang lebih awal."
"Safir mana?" tanya Zantisya setelah anaknya menyalaminya dan Arjuno.
"Langsung minta antar pak Totok pergi ke gramedia Bun, katanya ada buku yang ingin di beli." Ruby melihat sebentar lelaki yang diam seperti patung.
__ADS_1
Zantisya mengusap bahu anaknya. "Ya sudah, By cepat istirahat sana. Ayah sama bunda masih ada hal penting dengan tamu kita."
"Iya Bun."
Zen masih tetap memejamkan matanya, jantungnya sudah bekerja sangat cepat padahal ia baru mendengar suara perempuan yang kini sudah menjadi remaja. Bahkan Zen sampai tahan nafas karena terlalu nervous.
"Tidak ingin melihatnya?" tanya Arjuno membubarkan keheningan diri Zen.
"Haahh ..." Zen buang nafas karena merasa lega, paru-parunya kini kembali bekerja dengan normal. "Zen takut pingsan Om," jujur Zen dengan polosnya.
Arjuno dan Zantisya seketika tertawa mendengar jawaban Zen yang apa adanya. Hingga Zen malu sendiri sampai ke dua telinganya memerah.
"Apa kamu tidak penasaran bagaimana wajahnya sekarang? Kamu tidak takut kalau ternyata anak kami buruk rupa?"
Jika Arjuno mendelik mendengar ucapan lelaki yang dulu sering menantangnya, berbeda dengan Zantisya yang kini cekikikan karena seolah kembali ke ingatan masa lalu, saat Zen kecil mengatakan ingin membawa kabur Ruby.
"Lalu bagaimana kamu mau mendapatkan jawaban dari Ruby kalau kamu belum siap melihatnya."
Zen tersenyum penuh arti. "Zen titipkan cincin ini sama Om dan Tante. Tolong bantu Zen sampaikan ke Ruby."
"Baik. Aku akan bantu sampaikan ke Ruby, dan akan aku kembalikan cincin ini kalau Ruby menolak mu."
"Zen yakin kalau Ruby akan menerima Zen, Om." Ucap Zen super percaya dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Kalau anak ku menolak, kamu mau apa?"
"Zen mau Om memaksa Ruby untuk menerima Zen." Jawab Zen santai tanpa merasa bersalah sedikitpun. "Kalau Om tidak memaksa Ruby untuk menerima Zen, dengan terpaksa Zen akan bawa kabur Ruby." Zen sudah tidak bisa menahan pikiran liarnya yang menurut Zen paling tepat.
Arjuno mendelik mendengarkan jawaban Zen barusan. "Dasar bocah tengik." Zantisya malah semakin terkekeh melihat Zen dan suaminya.
.
.
.
"Hahaha ..." Suara tawa dua pasang suami istri itu menggelegar memenuhi ruang tamu.
Yusuf dan Nissa bahkan tidak menyangka jika anaknya akan berlaku demikian pada Arjuno dan Zantisya saat datang melamar.
"Saya ucapkan banyak terimakasih karena telah menerima lamaran anak kami. Tadi kami sempat senam jantung. Jadi merasa di prank sama pak Arjuno," tutur Yusuf.
"Apa Ruby sudah tahu kalau yang melamarnya itu anak kami?" tanya Nissa penasaran.
Bersambung ...
Duh makin gemes sendiri aku🤭 beberapa bab lagi bakal ketemu nih Zen sama Ruby 🥰 part yang sesungguhnya yang pasti sedang di tunggu-tunggu 🤗 harap bersabar ya😘
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️