Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 112 DIA?


__ADS_3

Setelah makan malam, Semua orang berkumpul di ruang keluarga lagi. Para kaum lelaki asik berkumpul sendiri sambil bermain dengan anak Amira dan anaknya Qia yang masih balita. Sedangkan para kaum hawa, duduk dan berkumpul bersama.


"Mai, harus banget ya ngerjain tugas sekarang?" protes Queen. Karena sejak tadi Ruby duduk dilantai beralaskan karpet bulu. Sedangkan didepan Ruby, ada laptop yang menjadi daya tarik utama bagi Ruby.


"He'em. Besok harus di kumpul. Bentar lagi selesai kok."


"Jangan ganggu Maira, Queen," peringatan dari Reina.


"Iya Ma."


Para ibu-ibu saling berbincang, sedangkan 3 perempuan muda nampak sedang menikmati camilan yang ada.


"Hai gadis cantik, kenalan sini sama Om yang super duper ganteng dan menggemaskan," ucap Zen pada balita yang usianya sekitar satu tahunan, anak Amira dan suami. Balita itu di nampak tenang di pangkuan Arjuno.


Bukannya merespon Zen. Balita itu justru menyembunyikan wajahnya pada dada Arjuno.


"Heeemmm pasti malu-malu ya lihat pesona Om yang super ini," ucap Zen sambil mencolek-coleh tangan balita.


"Dia bukan terpesona tapi takut Zen," ucap Arjuno.


"Zen jangan menggoda adik mu," tegur Yusuf. Ia tahu anak Amira memang pilih-pilih orang untuk di ikuti.


"Zen baik kaya gini, masak takut?" dengan rasa penasaran, Zen mengambil alih balita di pangkuan Arjuno lalu menggendongnya.


Huaaa ...


Seketika Balita itu menangis kencang dan meronta minta di turunkan.


"Loh loh, lakok nangis. Cup nak cup," Zen menepuk pelan punggung balita itu agar segera tenang.


Semua pada menahan tawa melihat wajah panik Zen. Arjuno beranjak untuk mengambil alih balita.


"Sini sama kakek sini,"


"Hyuh Yah, masih muda begini kok di panggil kakek. Ohhh Zen tahu ..."


"Tahu apa?" tanya Arjuno setelah mengambil alih balita itu.


"Ayah pasti ngarep punya cucu dari Zen kan?" tebak Zen jahil.


"Jan pengen tak slentek arek iki," Arjuno mulai gemes dengan Zen. "Kalau nggak ngarepin cucu dari kamu terus dari siapa lagi? Safir?"


"Kenapa bawa-bawa Safir sih Yah," protes lelaki yang sejak tadi memilih diam dan menjadi penonton saja.

__ADS_1


"Ide bagus itu Yah. Nikahkan saja Safir, tuh ada dua gadis jomblo nganggur," tunjuk Zen pada dua keponakannya.


"Ngapain jadi bawa-bawa kita sih Om?" protes Divya dan Queen bersamaan.


"Biar laku,"


"Dikira Kakak dan adek ku, barang obralan," batin Vian.


"Daripada nyuruh yang belum nikah kasih cucu mending kamu dan Ruby yang masih cucu, buat kedua Ayah mu Zen," ucap Adam.


"Santai Om, sekali Zen ngegas langsung tokcer jadi 3 atau 4 sekaligus," ucap Zen sombong.


"Nggak usah ngomong tok, buktiin," tantang Adam.


"Ok Om. Otw,"


"Heh bocah, mau kemana kamu?" tanya Arjuno sambil menarik pelan telinga Zen.


"Ngegas lah Yah, apa lagi?" jawabnya jujur.


"Ngegas-ngegas, tuh anak ku lagi ngerjain tugas," tunjuk Arjuno kearah Ruby yang masih fokus dengan laptopnya.


"Yaaahhh ngerem dong," ucap Zen lemas.


Ruby menutup laptopnya saat tugasnya sudah selesai. Pandangan tertuju pada Yusuf yang sedang menimang anak Qia, sedangkan Zen dan Arjuno asik bermain dengan anak Amira. Terlihat jelas wajah ketiganya sangat bahagia.


Waktu sudah semakin malam, Keluarga Arjuno harus segera kembali ke hotel yang sudah di siapkan Yusuf dan Nissa.


Awalnya, Yusuf dan Nissa ingin Arjuno sekeluarga tinggal di rumah ini. Namun, karena semua keluarga Yusuf dan Nissa datang. Tentu saja kamar di rumah ini sudah penuh di tempati.


***


Esok harinya, baru beberapa menit Ruby sampai di kampus, perempuan itu langsung memasuki kelas.


"Cerah banget cantik," ucap Tiara yang baru saja datang.


"By senang Kak, orang tua dan adik-adik By datang ke Jakarta."


"Benarkah?"


Ruby mengangguk. "Disaat Ruby lagi kangen-kangennya orang tua Ruby datang. Serasa seperti ikatan batin gitu Kak," Cerita Ruby dengan wajah berbinar. Ruby menatap Tiara yang tersenyum ke arahnya. Seketika senyum Ruby hilang saat mengingat sesuatu. "Maaf ya Kak."


"Kenapa minta maaf. Nggak apa-apa By. Kakak seneng liat Ruby seneng. Suatu saat nanti, Kakak ingin anak Kakak berwajah menyenangkan seperti By saat merindukan Kakak. Oh iya, kamu sudah selesaikan tugas tulis tangan mu? Kakak belum selesai ini," Tiara langsung mengeluarkan Alat tulis dan kertas tugasnya.

__ADS_1


"Sudah dong Kak," ucap Ruby bangga. Perempuan itu langsung mencari kertas tugasnya. "Loh kak, kok tugas By nggak ada," Pekiknya.


"Cari yang bener By."


"Iiihhh, nggak ada Kak. Masa nanti Ruby harus pulang dulu," keluhnya.


Setelah mata pelajaran kuliah yang pertama selesai, Ruby bergegas menuju parkiran karena Nina sudah menunggunya sejak tadi.


"Ngebut tapi hati-hati ya Mbak."


"Baik Bu."


Perjalanan dari rumah ke kampus yang biasanya menghabiskan waktu hampir satu jam, kini Nina berhasil menempuh dalam waktu setengah jam. Beruntung jalanan lebih longgar.


"Bisa nggak di gaji aku sama Pak Zen kalau tau aku bawa istrinya ngebut kaya tadi," gumam Nina sambil melihat Ruby yang memasuki rumah.


"Kok sepi?" gumam Ruby. "Pada kemana ya?"


Ruby tidak ingin ambil pusing, karena yang ada di pikirannya saat ini adalah tugas kuliahnya.


Ruby bergegas menuju lift. Saat pintu lift akan tertutup, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan pintu lift yang belum rapat.


Jelas Ruby terkejut melihat siapa orang yang ikut masuk ke dalam lift. "Kak Vian," gumamnya. Ruby berusaha tenang namun tetap siaga.


"Aku ingin berbicara dengan mu Mai." ucap Vian.


Ruby melihat tangan Vian yang terus menekan tombol agar pintu lift tidak terbuka di lantai dua.


Ruby mundur memberi lebih banyak jarak. Ruby sadar posisinya tidak aman karena mereka di dalam lift.


"Kalau ingin bicara kenapa harus seperti ini, kita keluar dan bicara baik-baik. Terutama saat ada suami By."


"Tapi aku ingin bicara dengan mu hanya berdua Mai."


Ruby berfikir sejenak. "Kita keluar dari lift ini baru kita bicara berdua, Kak."


"Aku tahu kamu mau mengelabuhi aku kan Mai?" Vian mengambil cincin dari dalam saku celananya, lalu membuka tempat itu. "Aku membelikan ini untuk mu," Vian menyodorkan cincin kehadapan Ruby. Sedangkan tangannya terus menekan tombol agar pintu lift tidak terbuka.


"By nggak bisa terima barang seperti itu, apa lagi dari seorang lelaki dan lebih parahnya, Kakak memberikan itu tidak di depan suami By."


"Aku hanya mau kamu menerima ini dan kamu menyimpannya, Mai. Sembunyikan dari dia. Aku yakin dia tidak akan tahu."


"Dia?" pekik Ruby jengah. "Yang Kakak sebut dia itu Om Zen. Om, Kakak sendiri," ucap Ruby memperingati.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2