
"Itu artinya, lelaki yang melamar Ruby adalah Mas Zen, Nda?" Ruby jelas belum percaya dengan kebenaran saat ini.
"Benar Nak. Kalau Ruby nggak percaya, coba Ruby lihat di lingkaran bagian dalam cincin lamaran itu. Di sana ada ukiran kecil nama Ruby dan Zen."
Entah kejutan apalagi yang akan di terima Ruby saat ini. Semuanya begitu sangat mengejutkan. Pantas saja hubungan dua keluarga ini nampak sangat dekat dan begitu akrab.
"Kenapa Mas Zen nggak pernah kasih tahu ini semua sejak awal?"
"Karena Zen ingin berjuang mendapatkan cinta Ruby. Apalagi kalian menikah di saat seperti itu. Sejujurnya sudah sejak lama Nda ingin memberi tahu Ruby perihal ini semua. Tapi kami menghargai usaha Zen."
Wajah Ruby masih nampak terkejut dan belum percaya perihal ini semua.
Nissa mengusap puncak kepala Ruby. "Tolong cintai anak Nda ya nak. Di dalam hidupnya hanya tentang Ruby, tidak ada perempuan lain. Jangan menanggapi berita di luar sana. Karena itu hanyalah sebuah gosip yang ingin menjatuhkan suami By, menjatuhkan perusahaan kita," Nissa takut Ruby salah paham dengan gosip yang menyebar tanpa bisa di cegah.
Nissa menarik nafas dalam, merasa lega karena rencananya berjalan mulus untuk mengungkapkan semuanya. Toh Ruby juga sudah jelas terlihat memiliki perasaan yang sama dengan Zen.
"Nda tolong buatkan teh hangat," ucap Yusuf tiba-tiba. "Sepertinya seger sore-sore begini minum teh di halaman belakang."
"Seger mah minumnya es teh Ayah, bukan teh hangat," tutur Nissa.
"Ayah maunya teh hangat," Yusuf langsung berlalu begitu saja.
__ADS_1
Sedangkan Ruby hanya menahan tawa melihat interaksi mertuanya.
"Ayo ikut Nda, By."
***
"Ini tehnya ayah," ucap Ruby sambil meletakkan satu gelas teh hangat.
"Terimakasih By. Sini duduk dulu sama Ayah," Yusuf menepuk kursi kayu, agar Ruby mau duduk di dekatnya.
Yusuf langsung mengambil teh hangat yang ada di depannya, setelah Ruby duduk. Menyesap pelan teh yang sudah di suguhkan.
"Ini buatan Ruby?"
"Padahal Ayah hanya asal menebak. Terimakasih ya nak sudah buatkan Ayah teh yang luar biasa."
"Itu hanya segelas teh, tapi kenapa ayah mengapresiasi seolah itu hadiah yang sangat mahal," tutur Ruby tanpa filter dan apa adanya, karena merasa heran.
"Justru hal yang menurut Ruby mungkin sepele tapi menurut ayah ini adalah hal berharga. Karena yang membuatkan segelas minuman ini adalah orang yang sangat kami sayangi."
Ruby hanya menatap wajah senang Yusuf, wajah yang sudah tidak lagi muda.
__ADS_1
"Ayah sempat khawatir, saat anak lelaki Ayah tidak juga membawa seorang gadis pulang ke rumah ini untuk di kenalkan pada Ayah dan Nda. Kami bahkan sampai lelah sendiri mengenalkan Zen dengan anak perempuan, rekan bisnis Ayah. Seorang pun tidak ada yang nyangkut di hati Zen. Kalau kami tahu gadis kecil yang di sukai Zen selama ini, kami tidak akan memaksanya untuk mencoba mengenal gadis di luar sana. Tidak ada seorang pun yang tahu perihal gadis pujaan hati Zen, kecuali Alan."
"Pantas saja Zen meminta ayah untuk sabar menunggu tiga sampai empat tahun lagi, ternyata perempuan yang di sukai Zen masih sangat muda untuk di jadikan istri," Yusuf tersenyum melihat Ruby, tangannya mengusap puncak kepala Ruby.
"Tapi Ayah tahu, Ruby cukup mengerti dan cukup paham bagaimana menjadi seorang istri, nak."
Yusuf kembali menyesap teh yang mulai dingin. "Setiap hari Ayah selalu mendoakan kebahagiaan kalian. Agar kebahagiaan yang kalian tunjukan di depan kami adalah kebahagiaan sesungguhnya."
"Eh, Ayah dan Nda tahu kalau kami akting?" tanya Ruby dengan polosnya.
Yusuf jelas terkekeh, karena apa yang di lakukan Zen dan Ruby di depannya dan Nissa adalah hal yang pernah ia lakukan dulu. Merasa melihat kisahnya bersama Nissa yang kembali di ulang Zen dan Ruby.
"Kalian berdua sangat menghibur kami," tutur Yusuf. "Ayah berharap di berikan panjang umur, agar ayah berkesempatan untuk melihat kalian bahagia, syukur-syukur kalau kalian cepat di kasih bonus kembar laki-laki. Rasanya ayah ingin bermain bola dengan mereka nanti."
"Jangan dengarkan ayah kamu By," ucap Nissa yang entah sejak kapan menguping pembicaraan. "Lebih enak ngurus anak perempuan kembar By."
"Ayah maunya kembar laki-laki."
"Nda maunya kembar perempuan. Kalau Ruby maunya yang mana?"
"Eh. Ruby nggak tahu Nda," Wajah Ruby sampai memerah seperti stroberi. Bagiamana mungkin memikirkan jenis kela**min apa untuk anaknya nanti. Melakukan proses pembuatan saja belum. Membayangkan saya membuat wajah Ruby terasa panas.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️