Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 32 MENGANTAR SEKOLAH


__ADS_3

Ruby langsung membuka pintu di bagian Arfan duduk. "Arfan pindah duduk ke belakang," perintah Ruby. Gadis cantik itu harus menjaga jarak antar Zen dan Arfan.


"Arfan mau duduk di depan, sama Mas Zen, Kak."


"Arfan."


sejujurnya, Zen terkejut dengan ketegasan suara Ruby pagi ini.


"Fan, nurut sama Kak By," ucap Safir.


"Arfan duduk di belakang dulu ya. Nanti saat Mas jemput pulang sekolah, Arfan duduk di depan temani Mas."


"Siap Mas."


Arfan bergegas keluar dari mobil, lalu pindah ke kursi belakang bersama Safir. Kemudian Ruby langsung masuk, duduk di kursi samping kemudi.


Zen tentu saja bersorak di dalam hati, bisa kembali duduk dekat dengan Ruby. Bisa mencium wangi parfum yang beraroma manis yang Ruby kenakan. Membuat detak jantung Zen bekerja tidak karuan.


Zen langsung melajukan mobilnya. Sekolahan yang pertama yang harus mereka tuju adalah sekolahan Arfan.


di sepanjang perjalanan, Ruby memilih diam sambil membaca buku. Gadis cantik itu tentu saja tidak fokus dengan buku yang ada di tangannya. Karena sesekali Ruby melirik ke samping dan mendengarkan dengan seksama, interaksi antara Zen, Safir, dan Arfan.


"Apa ke dua adik ku di jompa-jampi sama Om ini?" batin Ruby penuh kecurigaan.


Wajar saja Ruby berfikir demikian. Mungkin kalau Arfan mudah akrab dengan Zen karena Arfan memang anaknya mudah bergaul. Tapi Safir? Saudara kembar Ruby itu adalah lelaki yang tidak asal berteman. Tidak mudah akrab dengan sembarang orang. Namun, apa yang Ruby lihat hari ini. Interaksi Zen dan Safir bahkan terdengar seperti orang sudah sangat akrab dan seolah mereka sudah kenal lama.


Mobil Zen sudah berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Arfan langsung bersalaman dan mencium punggung tangan Zen, Ruby, dan Bergantian.


"Arfan sekolah dulu ya Mas," pamitnya setelah mencium punggung tangan Zen.


Zen mengacak-acak pelan puncak kepala Arfan. "Belajar yang pintar ya, nanti Mas belikan apapun yang Arfan mau, kalau bisa dapat juara 1."


"Siap Mas."

__ADS_1


Mobil kembali melaju untuk menuju ke sekolahan Ruby dan Safir. Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mobil mewah yang di kemudian Zen itu sudah sampai di parkiran sekolahan.


"Fir, keluar duluan sana. Kakak mau bicara empat mata sama Om ini."


"Ok. Jangan galak-galak sama suami sendiri Kak. Bucin kapok."


Ruby jelas langsung mendelik mendengar cibiran yang di lontarkan Safir barusan. Membuat Safir bergegas keluar dari dalam mobil.


Berduaan seperti ini dengan Ruby, tentu saja hal itu adalah sebuah keinginan terpendam Zen. Apa lagi bisa melakukan hal lain saat berduaan seperti sekarang.


"Tolong jaga jarak sama ke dua adik ku ya Om," tuntut Ruby membuka pembicaraan setelah Safir terlihat mulai menjauh.


"Apa kamu lupa kalau kamu istri ku?" tanya Zen membalas tatapan mata Ruby. "Adik mu itu artinya adik ku juga By," lanjut Zen tenang.


Zen benar-benar menahan deru jantung yang semakin memuncak. Apa lagi saat melihat cincin pernikahan mereka yang tidak terlepas dari jari lentik Ruby. Padahal Zen sudah mengira kalau Ruby akan melepas benda mungil itu.


Ada desiran aneh yang bergejolak di dalam hati Ruby saat mendengar Zen mengatakan bahwa ia adalah istri Zen. Tapi Ruby abaikan perasaan aneh yang hadir tiba-tiba.


"Pokoknya Om nggak boleh dekati adek ku."


Ruby tersenyum mendengar mendengar pertanyaan Zen barusan. "Dekati saja kalau Om bisa."


"Kamu nantang aku By?"


"Iya!" ucap Ruby sangat yakin.


"Ok. Mulai pagi ini jangan menghindar kalau aku dekati kamu."


Ruby tersenyum meremehkan Zen. "Apa setelah menikah dengan aku, selera Om jadi beneran perempuan?"


Zen tersenyum senang mendengar ucapan Ruby. "Jadi semalam kamu begadang karena mencari informasi tentang ku?"


"Aku harus melakukan itu, untuk kebaikan kedua adik ku."

__ADS_1


"Jadi kamu percaya dengan gosip yang kamu baca semalaman suntuk tentang aku, istri ku?"


"Tentu saja. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Maka jangan dekati ke dua adik ku."


"Baiklah."


"O-om mau apa?" tanya Ruby tergagap saat Zen semakin dekat ke arahnya. Ruby sampai memundurkan kepalanya hingga kepala Ruby membentur kaca pintu mobil.


Ruby membuang mukanya ke samping sambil menutup mata, karena wajah Zen benar-benar dekat dengannya.


"Sudah waktunya kamu sekolah istri," bisik Zen tepat di telinga Ruby yang tertutup jilbab, tangan Zen sambil membuka pintu mobil untuk Ruby. "Apa yang kamu pikirkan sampai membuang muka seperti ini?"


Merasa di remehkan, Ruby langsung menatap Zen lagi. Mereka berdua beradu tatap, hanya berjarak satu jengkal tangan Ruby. Wangi nafas keduanya saja sudah saling menerpa dan dapat mereka rasakan.


"Tahan Zen, Tahan," batin Zen menguatkan iman, karena tertarik melihat bibir Ruby yang melambaikan-lambai menggoda matanya.


"Apa kamu pikir aku tertarik dengan mu?"


Ruby tersenyum. "Apakah ada seorang g*ay yang dalam waktu semalam langsung berubah haluan ke perempuan?"


"Kalau begitu jangan menghindar kalau aku mendekati mu. Kalau kamu melakukan itu, Artinya kamu merasa tidak aman dan menganggap ku lelaki normal," Zen terus tersenyum. "Mau berteman dengan ku?"


"Aku bukan orang yang sembarangan berteman dengan orang asing."


"Baiklah."


Ruby menahan nafasnya saat Zen mendekatkan wajahnya lagi. Sepasang mata mereka masih saling menatap.


"Selamat sekolah istri kecil ku," ucap Zen sambil membuka safety belt Ruby.


Kedua tangan Ruby langsung mendorong dada Zen agar mereka berjarak. "Bagaimana aku mau sekolah kalau Om nggak jaga jarak." Sungut Ruby kesal."


Bersambung...

__ADS_1


Maaf baru update 🙏 nanti malam aku sambung lagi kalau sempat ya ❤️


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2