
Di kota Malang.
Waktu sudah semakin sore, lelaki yang memiliki saudara kembar itu langsung keluar dari ruang kelas, karena semua mata kuliah sudah selesai hari ini.
Safir Al Ghani, saudara kembar Ruby Al Humaira itu keluar dari kelas dengan wajah yang nampak datar dan cuek.
Anak kedua dari pasangan Arjuno dan Zantisya itu memang tidak mudah bergaul dengan sembarang orang. Safir berinteraksi dengan teman sekelasnya hanya sekedarnya saja.
Sifat yang dingin dan acuh bukanya membuat para gadis yang menjadi teman sekelas Safir itu merasa ilfeel.
Justru kepribadian Safir membuat para gadis menjadi kagum dan penasaran. Bagaimana rasanya kalau bisa meluluhkan hati Safir.
Safir berjalan cepat menuju parkiran. Lelaki itu abai dengan banyak pasang mata yang tertuju padanya.
Semenjak kuliah di salah satu universitas di Malang. Arjuno memberikan izin pada Safir untuk belajar mengemudikan mobil. Tidak selamanya Arjuno mengekang anaknya. Apalagi Safir anak laki-laki, yang harus mandiri karena nantinya ia akan menjadi seorang pemimpin.
Baru saja Safir membuka pintu mobil, kedua matanya mendapati Queen yang sedang celingukan sambil melihat ponselnya.
Safir kembali menutup pintu mobil dan berjalan menghampiri gadis yang menjadi sahabat kembarannya. Sahabat Ruby artinya sahabat Safir juga kan?
"Lagi nunggu siapa?" tanyanya dengan nada yang terdengar cuek.
"Eh Fir. Ini aku lagi nunggu taksi online."
Safir mengernyitkan keningnya. "Tumben pake taksi online? Biasanya juga di jemput."
"Sebenarnya sopir sudah OTW ke sini. Tapi tadi nelpon aku, katanya ban mobilnya bocor. Kelamaan kalau aku nunggu sopir selesai dari bengkel."
Belum sempat Safir menanggapi, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan mereka berdua.
"Mbak Queenza ya?" tanya seorang pengendara mobil setelah membuka kaca pintu mobil bagian samping kemudi.
"Iya benar. Fir aku pulang duluan ya?"
__ADS_1
Safir tidak pernah rela jika Ruby mengendarai taksi seorang diri. Lalu bagaimana mungkin Safir membiarkan Queen, sahabat dekat Ruby, menaiki taksi online seorang diri tepat di depan matanya.
Bukan tangan Queen yang Safir tarik, melainkan tas selempang yang Queen pakai.
"Loh loh Fir. Kok aku di tarik sih?" protes Queen saat baru saja membuka pintu mobil. "Yang sweet kek nariknya di pergelangan tangan gitu. Lah ini kok tas ku yang di tarik. Untung aku nggak ke cekik," omel Queen.
"Maaf Mas, teman saya nggak jadi naik taksi."
"Owalah Mas. Saya ini sudah muter-muter nyari area parkir kok bisa-bisanya nggak jadi naik taksi ini loh."
"Terus aku pulang gimana Fir?"
Tidak ingin melakukan perdebatan terlalu panjang. Safir mengambil uang dari dalam dompetnya. Mengulurkan uang berwarna biru pada sopir taksi online.
"Ini buat beli minum ya Mas. Maaf sekali lagi."
Sopir menerima uang yang di berikan Safir. "Punya pacar cantik jangan di ajakin berantem Mas. Nanti patah hati kalau di tinggalin, kapok."
Kedua mata Safir melebar saat si sopir menilai Queen cantik. Safir jadi merasa lega karena telah menghentikan Queen untuk tidak menaiki taksi hari ini.
"Terus aku pulangnya gimana Fir?"
"Ayo," Safir kembali menarik tas selempang Queen. Membuat tubuh gadis itu tertarik dan harus mengikuti langkah kaki Safir.
"Ih kok malah tas aku yang di gandeng. Ini tangan aku nganggur loh Fir."
"Itu nanti, kalau kamu sudah menikah."
"Sama kamu?"
Langkah kaki Safir berhenti. "Ya nggak tahu siapa yang akan menjadi suami kamu nanti. Safir membuka pintu mobil agar Queen segera masuk. "Masuk."
Tanpa melakukan protes Queen menurut saja. "Dasar Queen bod*oh. Ingat, dia anaknya Om Arjuno dan Tante Tisya. Mana mungkin dia sembarangan menyentuh perempuan," gumam Queen.
__ADS_1
.
.
.
"Seger banget salad buahnya By," tutur Zen sambil terus menikmati salad buah buatan Ruby tadi siang.
Hati Ruby jadi berbunga mendengarnya. Sepertinya keputusan yang akan Ruby ambil sudah sangat tepat. Apa lagi tadi saat melihat Zen makan dengan sangat lahap.
"Mas."
"Hem," tangan Zen terus mengusap kepala Ruby yang tidur di pangkuannya.
"By bosen nggak ada kegiatan setelah selesai kuliah."
"Jadi istri ku ini butuh kegiatan?" Zen membalas tatapan Ruby
Ruby mengangguk. "Apa lagi kalau kuliah pulangnya awal banget, By bosen. Pengen ada tambahan kegiatan gitu."
"Kalau begitu, Setiap kuliah selesai dan aku masih di kantor. Kamu nyusul aku ke kantor saja sayang," Zen menarik pelan hidung Ruby.
"Mau ngapain By ke kantor?"
"Loh katanya tadi butuh kegiatan."
"Memangnya ada pekerjaan kantor yang bisa By lakukan?"
"Tentu saja ada," Zen tersenyum melihat wajah serius Ruby.
"Pekerjaan apa Mas?"
Bersambung ...
__ADS_1
Aku kasih spoiler untuk novel selanjutnya 🤭 Semoga tetap terhibur karena novel ini masih panjang kali lebar ceritanya 🤣
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️