Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 41 TARUHAN


__ADS_3

Cup


Ruby langsung mendaratkan kecupan di pipi Nissa dengan rasa sayang. Nissa sangat tidak menyangka jika apa yang di katakan Zantisya itu benar. Ruby itu pintar mengambil hati dengan caranya sendiri.


"Nanti kalau Nda sudah ke Jakarta, pasti Nda sangat kangen sama Ruby."


"Kalau Nda kangen, nanti kita video call saja Nda."


"Ide bagus."


"Emmm ... Ruby bisa bantu apa Nda?"


Tentu pertanyaan Ruby membuat Nissa tercengang. Dari cerita yang di tuturkan Zantisya, Ruby hanya akan membuat kerusuhan jika sudah ikut masuk ke dalam dapur.


"Mari kita lihat, apa yang akan di lakukan gadis ini," batin Nissa penasaran.


"Memangnya di rumah, biasanya bantuin Bunda di dapur?"


"Enggak juga sih Nda, tapi By pasti bisa bantu salah satu pekerjaan di sini," ucap Ruby yakin.


"Gadis yang jujur," batin Nissa. "Kalau begitu tolong buatkan adonan buat goreng tempe mendoan ya, itu tepungnya sudah Nda taro di wadah. Jangan terlalu kental ataupun cair ya sayang. Pokoknya yang sedang-sedang saja. By bisa kan?"


"Bisa Nda," jawab Ruby yakin.


Nissa melanjutkan pekerjaan memasaknya, begitu juga dengan Bibi.


Sedangkan Ruby, gadis itu langsung meninggikan ke dua lengan bajunya, lalu mengambil air dan centong untuk membuat adonan tempe mendoan.


Sedikit demi sedikit Ruby memasukkan air ke dalam wadah yang berisi tepung. Pertemuan tepung dan air adalah sebuah kolaborasi yang sangat pas dan di sukai Ruby. Membuat Ruby melupakan apa tujuannya tadi.


Bukannya menjadi adonan untuk tempe mendoan, kini tepung yang menjadi kekuasaan Ruby sudah membentuk boneka kecil.


"Nah kalau begini kan bagus," gumam Ruby menilai hasil karyanya.


Semua kelakuan Ruby tidak luput dari pantauan Nissa dan Bibi di sana. Keduanya menahan kekehan mereka berdua agar Ruby tidak merasa terusik.

__ADS_1


Benar kata Zantisya, jika Ruby ikut ke dapur bukannya membantu malah membuat kerusuhan karena asik dengan dunianya sendiri.


"Sudah By?"


"Sudah Nda," jawab Ruby cepat sambil berbalik menatap Nissa. "Sudah jadi boneka Nda," cicit Ruby pelan saat ingat kalau seharusnya, ia membuat adonan tempe mendoan. "Maaf ya Nda," ucapnya merasa salah.


"Sudah nggak apa-apa, sudah sana cari udara segar sama ayah dan suami By di samping rumah."


"Tapi Nda," Ruby jadi merasa mendapatkan citra minus sebagai menantu.


"Nggak apa-apa. By antarkan minuman hangat ini ke ayah sama Om nya Ruby di samping rumah."


Ruby mengangguk dan langsung beranjak sambil membawa tiga gelas minuman hangat.


.


.


.


"Maen game kok sendirian Fan, mana seru," Zen langsung duduk di samping Arfan.


"Biasanya kalau libur sekolah begini, ngegame sama Kak By. Tapi dari tadi kak By nggak turun-turun," sekalipun sering bertengkar dengan Ruby, Arfan pasti rindu kalau Ruby tidak menjahilinya. Apalagi saat libur sekolah begini adanya waktunya quality time mereka main game.


"Arfan pasti selalu menang ya?" tebak Zen asal.


"Sekalipun Arfan nggak pernah menang lawan Kak By, Mas. Kak By jago maen gamenya."


"Ya sudah kalau begitu Arfan maen game sama Mas gimana?"


***


"Yeee ... akhirnya Arfan bisa juga ngalahin lawan, bisa ngerasain menang main game," teriak Arfan senang karena sudah lima kali main, bocah kecil itu bisa mengalahkan Zen.


Zen tersenyum senang bisa melihat wajah berbinar Arfan saat ini. Meskipun korbannya adalah wajah Ganteng dan menawan sudah penuh dengan bedak.

__ADS_1


"Kenapa Fan? Kok girang banget?" tanya Ruby yang baru saja datang. "Hahaha ..." seketika tawa Ruby menggelegar saat Zen menoleh kearahnya. "Om kalah main game sama bocil kaya gini?" tanya Ruby tak percaya, sambil menunjuk Arfan.


"Arfan hebat kan kak?"


"Hebat Fan, bisa kalahin Om Om," puji Ruby sambil mengacungkan jempolnya.


"Kamu mau coba lawan aku By?" tanya Zen saat mendapatkan ide.


"Om lawan Arfan saja kalah, gimana mau lawan aku?" sombong Ruby nggak ada lawan.


"Aku cuma ingin tahu, gimana hebatnya kamu main game," Zen menebar senyum penuh arti.


"Ok. Jangan nangis ya kalau kalah nanti," tuntut Ruby.


"Berani taruhan?" tantang Zen.


"Taruhan?"


Zen mengangguk. "Kita main game lima kali, siapa yang menang paling banyak, yang menang boleh mengajukan tiga permintaan. Apapun itu, yang kalah wajib mengabulkan. Bagaimana?"


Ruby nampak diam berfikir, ia melihat Zen dengan rasa curiga. Perasaan Ruby tiba-tiba tidak enak, tapi gadis cantik itu jadi merasa tertantang. Lawan Arfan saja kalah, sudah pasti Ruby dengan mudah mengalahkan Zen.


"Kok pake mikir sih Kak. Arfan mau ke kamar dulu, selamat nge-game."


"Bagaimana?" tantang Zen tidak sabar.


"Ok. Siapa takut. Ingat ya, Om harus kabulkan 3 permintaan ku nanti."


"Deal," Zen mengulurkan tangannya tanda kesepakatan.


Ruby langsung menjabat tangan Zen. "Deal."


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2