
"Morning kesayangan ..." sapa Ruby yang baru saja bergabung di ruang makan. Gadis itu sudah nampak rapih dengan seragam sekolahnya. Tubuhnya terlihat jalan sempoyongan dengan mata yang terlihat malas untuk terbuka.
"Morning."
Ruby langsung mendaratkan kecupan di pipi Arjuno kemudian Zantisya. "Apa Fan lihatin Kakak? Terpesona ya lihat Kakak yang cantik jelita sepanjang masa?"
"Idih pede. Kakak tuh kenapa jalan kaya Zombie?"
"Kakak habis begadang?" tanya Arjuno.
"Kakak pasti nonton ya?" tebak Zantisya.
Ruby duduk di kursinya. "Enggak kok, Semalem tuh By habis ..." Ruby menghentikan ucapannya saat menyadari, hidung Ruby mencium wangi parfum lelaki yang sudah menjadi suaminya. Ruby langsung menoleh ke samping karena wanginya sangat dekat.
Ruby terkejut karena di sampingnya ada Zen. Tempat duduk yang biasanya menjadi tempat duduk Safir. "Kok Om duduknya di sini? Ini tempatnya Safir."
Arjuno dan Zantisya menahan tawa saat mendengar Ruby memanggil Zen dengan sebutan 'Om'.
"Safir hijrah Kak."
Ruby langsung menolah ke arah suara Safir. Kini Ruby baru sadar kalau Safir duduk di dekat Arfan, satu baris dengan Zantisya.
"Ayah yang suruh Safir pindah. Jadi sekarang yang duduk di dekat By, Om Zen," tutur Arjuno.
Arjuno dan Zantisya semakin menahan tawa. Apa lagi sekarang ke dua mata Zen melebar karena terkejut, perkara Arjuno menyebut Zen dengan kata Om.
"Sudah ayo sarapan dulu, nanti kalian telat berangkat sekolah," ucap Zantisya.
Semua orang langsung sarapan, menikmati menu sarapan yang di buat Zantisya pagi ini. Meski yang lain belum selesai, Arjuno lebih dulu beranjak. "Kalian berangkat sekolah sama Mas Zen ya. Pak Totok mau antar Ayah ke luar kota."
"Baik Ayah." jawab Safir dan Arfan.
__ADS_1
"Kalian, Mas tunggu di mobil ya?" Ucap Zen yang sudah selesai menghabiskan menu sarapannya.
"Ok Mas," jawab Safir dan Arfan kompak. Bahkan mereka terdengar sangat akrab.
Tentu saja mereka langsung akrab, tadi saat beranjak dari dapur, Zen mengikuti ke dua adiknya yang sedang olahraga di halaman belakang.
"Nggak bener ini," batin Ruby. Gadis berbulu mata lentik itu menoleh. Memicingkan kedua matanya yang tajam, menelisik punggung Zen yang sudah menghilang.
"Kalian berdua, jangan akrab-akrab sama Om tadi," peringatan Ruby pada kedua adiknya.
"Memangnya kenapa Kak? Mas Zen baik kok," bela Arfan mengungkapkan penilaiannya terhadap Mas iparnya.
Mana mungkin Ruby mengatakan kalau Zen itu seorang g*ay di depan adiknya yang masih kecil. "Pokoknya kalian harus nurut sama Kakak. Titik."
Sedangkan Zantisya, sudah mulai menebak pemikiran anak perempuannya. Ia memilih diam membiarkan anaknya menilai Zen demikian.
"Gimana mau nurut kalau alasannya nggak ada," tentu saja Arfan yang kritis butuh sebuah alasan.
"Tapi sayangnya, mulai sekarang Arfan sudah punya Mas Zen yang bakal kasih Arfan uang tambahan jajan, lebih banyak lagi ngasihnya dari pada kak By."
Sekarang giliran Zantisya yang menatap anak bungsunya. "Arfan di kasih apa minta sama Mas Zen?"
"Di kasih Bun, ya kan Kak?" tanya Arfan pada Safir.
"Benar Bun, Mas Zen sendiri yang kasih uang ke kita."
"Tuh kan Bun. Nggak bener ini Bun," pekik Ruby. "Om itu patut di curigai."
"Nggak boleh negatif thinking sama orang yang sudah baik sama kita Kak. Sudah ah Arfan duluan ke mobil."
"Fan, ke mobilnya bareng sama kak Al."
__ADS_1
Arfan tidak menghiraukan Ruby. Bocah itu langsung lari begitu saja.
"Kakak kenapa sih negatif thinking sama Mas Zen?"
"Kamu juga Fir, jangan dekat-dekat sama Om itu. Dia itu g*ay."
Uhuk ... uhuk ...
Safir yang sedang meneguk air, tentu saja tersedak air minum. Sedangkan Zantisya hanya mengulas senyum karena perkiraannya benar.
"Kakak ini kebanyakan lihat gosip pasti, atau jangan-jangan semalam kakak begadang karena cari tahu informasi tentang Mas Zen?"
"Ya iya lah. Kita tu harus waspada sama orang baru Fir. Iya kan Bun?"
"Betul nak."
Safir hanya tersenyum melihat wajah kesal Ruby. Safir yang lelaki tentu dapat menilai tatapan Zen pada Ruby bagaimana.
"Kakak nih, pagi-pagi sudah suudzon sama suami sendiri," sengaja banget Safir menggoda Ruby.
"Geli sumpah Fir ...,"
Setelah menghabiskan sarapan, Safir dan Ruby langsung menuju mobil, yang akan di kemudikan Zen.
Safir masuk mobil lebih dulu, membuat Ruby mendengar gelak tawa Zen dan Arfan. Tentu saja Ruby langsung melebarkan kedua matanya, takut adiknya di apa-apain sama Zen.
Ruby langsung membuka pintu di bagian Arfan duduk. "Arfan pindah duduk kebelakang," perintah Ruby. Gadis cantik itu harus menjaga jarak antar Zen dan Arfan.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1