Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 40 KETIKUNG


__ADS_3

"Mau mencoba itu?" tawar Zen sekali lagi sambil menunjuk layar ponsel Ruby menggunakan dagunya.


Ruby melirik ponselnya, spontan tangannya menekan tombol power untuk mematikan layar ponselnya. Siapa yang menyangka kalau adegan ciu*man yang tadi hanya menempel saja sekarang sudah terlihat menggebu.


Nafas Ruby rasanya sudah benar-benar tercekat memenuhi rongga dada. Rasanya sangat sulit untuk bernafas. Apa lagi saat Ruby terpaku melihat senyum Zen dan tatapan penuh arti menunggu sebuah jawaban darinya.


Zen sampai menelan salivanya secara kasar, di dalam hati Zen bahkan merutuki dirinya sendiri. Tidak habis pikir kenapa dirinya bisa bertindak nekat seperti ini.


Bagiamana kalau Ruby kesal dan marah. Bagaimana kalau setelah ini Ruby membencinya. Entahlah, karena sudah terlanjur, lebih baik Zen melanjutkan aksinya. Perkara dapat atau tidak, itu urusan belakangan.


Ruby tetap diam, mungkinkah diam sama dengan iya, sama dengan mau, atau sama dengan mengizinkan. Membuat Zen mengulas kembali senyumannya, tangannya mengusap wajah Ruby yang begitu terasa lembut.


Getaran aneh tiba-tiba menjalar di seluruh tubuh Ruby. Baru kali ini Ruby mendapatkan sentuhan yang rasanya sangat sulit untuk di jabarkan. Rasanya tiba-tiba jadi penasaran, jika hanya sebuah sentuhan tangan saja membuat seluruh tubuh Ruby seperti mendapatkan sengatan, lalu bagaimana jika berciuman. Atau bahkan lebih dari itu.


"Ruby bodoh, kenapa kamu memejamkan mata," rutuk Ruby pada dirinya sendiri. Sentuhan tangan Zen yang tiba-tiba saja ingin Ruby nikmati.


Tubuh Zen rasanya sudah bergejolak. Apalagi sekarang Ruby memejamkan kedua matanya. Tak ingin menunggu lama, Zen mendapatkan dua kecupan yang begitu lembut di kedua kelopak mata yang tertutup rapat.


Tangan Ruby semakin mencengkram erat ponselnya sendiri. "Sepertinya Om ini lagi ngelindur," batin Ruby dengan polosnya.


Dengan cepat Ruby membuka kedua matanya. Membalas tatapan Zen yang hanya berjarak beberapa centimeter.


"Om sudah melewati batas," ucap Ruby cepat saat Zen siap mendaratkan bibirnya.


Rasa yang sejak tadi sudah menggebu seolah sudah mendapatkan sinyal baik dari Ruby, seketika harus Zen tahan sekuat tenaga.


"Maaf," Zen langsung menjauh dari tubuh Ruby. Lelaki dewasa itu bergegas turun dari atas ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Seluruh tubuhnya yang sudah terasa panas, memang harus di dinginkan dengan air.


Ingin sekali rasanya, Zen tadi nekat memaksa Ruby. Tapi Zen sadar, itu bukan tindakan yang tepat. Apa lagi baru kemarin mereka bertemu dan menikah.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Zen akhirnya memilih keluar dari kamar mandi, dengan harapan saat ia keluar, Ruby sudah terlelap terbuai mimpi.


"Om mandi jam segini?" tanya Ruby saat melihat Zen sedang mengusap rambutnya yang basah.


Satu jam yang rasanya sia-sia. Zen kembali menghela nafasnya. "Iya."


"Aneh banget sih, ini Malang bukan Jakarta. Bisa-bisanya mandi jam segini."


"Ini juga gara-gara kamu bocil," batin Zen. "Kamu kenapa belum tidur? Ini sudah tengah malam By. Takutnya kamu mengantuk saat sekolah besok."


"Ya gimana orang mau tidur, kalau Om tadi bikin aku senam jantung," batin Ruby. Kedua matanya masih terpaku melihat Zen. "Kenapa aku jadi ragu kalau Om ini ga*y," batin Ruby menilai Zen perkara kejadian tadi. "Tapi tadi dia nggak paksa aku kok, artinya dia memang ga*y. Dia cuma mau permainkan perasaan aku pasti," batinnya sangat yakin.


Huuufffttt...


Ruby langsung mengedipkan matanya cepat-cepat saat Zen meniup wajahnya. Membuat terputusnya segala lamunan Ruby tentang Zen.


"Kesambet kamu nanti By, tengah malam melamun." Zen langsung melenggang begitu saja, menuju tempat bagian tidurnya. Memasukkan tubuhnya ke dalam selimut. "Good night istri kecil ku," ucap Zen yang sudah memejamkan mata.


"Suruh siapa nyasar ke kamar lelaki, untung kamu nyasarnya ke kamar ku."


"Nggak tahu untungnya dari sisi mana," ucap Ruby.


.


.


.


"Mau pencitraan dulu di rumah mertua," gumam Ruby sambil menuruni anak tangga. Ruby langsung memilih turun begitu selesai solat subuh.

__ADS_1


"Tapi apa yang mau aku lakukan?" batin Ruby sambil melangkah ragu menuju dapur.


Ruby kan tidak pernah melakukan apapun di rumah. Gadis cantik itu memang hanya sekedarnya saja melakukan pekerjaan rumahan.


"Morning Nda," sapa Ruby setelah meyakinkan diri masuk ke ruang dapur. Di sana ada Nissa dan Bibi.


"Pagi sayang." Nissa tentu tersenyum menyambut hangat menantunya.


Ruby memainkan jari jemarinya karena bingung. Biasanya setiap pagi ia selalu mencium pipi Bundanya, Apa Ruby harus melakukan hal yang sama?.


"Apa aku cium saja pipi Nda Nissa, untuk mengambil hatinya?" batin Ruby ragu-ragu.


"By kenapa? Sudah minum air putih belum?"


"Sudah Nda. Emmm ... Buat salam selamat pagi apa boleh By cium pipi Nda, seperti biasanya By cium pipi Bunda."


Nissa dan Bibi tentu terkekeh mendengar ucapan pelan Ruby yang terdengar malu-malu.


"Ya ampun, mantu ku gemesin banget sih. Tentu boleh sayang. By boleh manja sama Nda seperti By manja sama Bunda. Sini-sini, siapa coba yang nolak di cium pipinya sama anak yang bikin gemes kaya gini."


"Apa aku berhasil ambil hati Nda. Ruby, ide kamu memang cemerlang," batin Ruby memuji diri sendiri. Gadis itu langsung mendekati Nissa dan mendaratkan kecupan di pipi Nissa.


"Lucu banget sih istri Mas Zen ini Bu," ucap Bibi ikutan gemes.


Zen yang entah sejak kapan berada di ambang pintu dapur, hanya bisa melongo melihat istrinya dengan Nda nya.


"Bisa-bisanya Nda dengan sangat mudah mendapatkan ciuman dari Ruby," gumam Zen iri.


"Kasian ketikung," ejek Yusuf berbisik.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2