
Bukan hal mudah bagi Zen untuk membawa Ruby pindah ke Jakarta. Apalagi semenjak perdebatan antara mereka berdua terakhir kali, membuat Ruby menjaga jarak dengan Zen. Ruby bahkan sudah menegaskan bahwa dirinya tidak akan mau ikut Zen ke Jakarta. Dan egoisnya gadis itu, belum mau mendengarkan penjelasan yang ingin Zen utarakan.
Ruby bahkan sudah mendaftar untuk studi selanjutnya di salah satu Universitas terbaik di kota Malang. Hingga pada akhirnya, Ruby mau ikut pindah ke Jakarta karena merasa tidak tega melihat Zen yang selalu pulang pergi dari Jakarta ke Malang. Padahal Ruby sudah menyelesaikan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus.
Sudah sejak tiga hari yang lalu, Zen dan Ruby berada di Jakarta. Hal itu membuat Nissa senang.
"Ayah, Nda. Karena mulai hari senin Ruby sudah mulai kuliah, kami berdua sepakat akan tinggal di apartemen."
Tentu saja hal itu membuat raut wajah Nissa mulai berubah. Baru beberapa hari dirinya merasakan keramaian karena adanya Ruby, tapi sekarang anaknya mengatakan demikian.
"Kenapa begitu? Kalau kalian tinggal di apartemen, saat Ruby tidak ada jadwal kuliah, Ruby pasti kesepian apa lagi Zen pulang kerjanya selalu malam."
Ruby yang sejak tadi duduk di samping Nissa, tangannya langsung menggenggam tangan Nissa.
"Kalau By sedang tidak ada jadwal kuliah, By pasti pulang ke sini Nda."
"Benar Nda. Bukannya apa-apa, kami masih butuh waktu pribadi kami. Lagi pula kalau kami tinggal di apartemen, jarak ke kampus sama ke kantor lebih dekat," tambah Zen.
"Baiklah, Nda dan Ayah dukung keinginan kalian jika memang itu yang menurut kalian baik. Nda juga berharap kalian segera beri kami cucu," goda Nissa sambil mengusap puncak kepala Ruby.
Wajah Ruby seketika memerah, menahan malu. Di sisi lain, Ruby merasa tidak enak hati. Karena apa yang di harapkan Nissa tidak akan cepat terjadi.
"Sepertinya cucu kembar laki-laki seru ya Nda?" tambah Yusuf.
Nissa jadi berpikir, kalau cucunya laki-laki, kemungkinan besar kelakuannya pasti seperti Zen saat kecil dulu.
__ADS_1
"Nda maunya kembar perempuan, Ayah."
"Laki-laki."
"Perempuan."
"Laki-laki Nda."
"Perempuan Ayah."
Zen hanya bisa menepuk jidatnya sendiri perkara ke dua orang tuanya malah berdebat perihal jenis kela*min cucu mereka nanti.
Zen jadi berpikir, bagaimana mungkin ia bisa memberikan cucu, kalau hubungannya dengan Ruby belum membaik. Kalaupun hubungan Zen dan Ruby dalam ke adaan baik, Zen juga tidak mungkin membiarkan Ruby hamil cepat-cepat. Mengingat usia Ruby yang masih sangat muda.
"Ayo kita istirahat duluan By. Biarkan Ayah sama Nda berdebat sampai pagi" ajak Zen sambil menggenggam pergelangan tangan Ruby.
Mereka berdua langsung beranjak. Zen merangkul Ruby seperti biasanya, agar mereka terlihat baik-baik saja.
Nissa dan Yusuf langsung diam, tidak melanjutkan perdebatan mereka berdua. Ketawa pasangan suami istri itu langsung pecah saat di perkirakan, Zen dan Ruby sudah masuk ke dalam lift.
"Hahaha ..." tawa Nissa dan Yusuf memenuhi ruang keluarga.
Mereka tentu sadar, hubungan Zen dan Ruby yang tidak lah baik-baik saja. Namun, pasangan suami istri itu sangat menikmati drama romantis yang di tunjukkan Zen dan Ruby di hadapan mereka.
"Mereka mau mengelabui kita Ayy," ucap Nissa sambil menekan perutnya yang terasa nyeri akibat tertawa.
__ADS_1
"Suhu kok mau di kacangi sama bocah yang baru kemarin nikah," ucap Yusuf yang lebih berpengalaman.
.
.
.
"Kita sudah di dalam lift, Om," pinta Ruby sambil menggerakkan pundaknya, agar tangan Zen lepas dari pundaknya. Perasaan Ruby semakin tidak menentu saat berdekatan dengan Zen seperti ini.
Pada akhirnya, Zen mengikuti usulan Ruby yang ingin tinggal di apartemen. Dengan syarat yang di ajukan Zen.
Sekalipun di dalam benak hati Ruby tidak ingin melakukan hal ini, tapi Ruby memilih melakukan apa yang menurutnya benar.
Ruby ingin meyakinkan perasaannya sendiri. Benarkah ia cemburu waktu itu, seperti ucapan Zen. Karena Zen sempat masuk media sedang dinner seorang wanita cantik.
"Kamu harus tepati syarat dari ku, saat kita sudah pindah ke apartemen By," tuntut Zen mengingatkan saat mereka sudah memasuki kamar.
"Iya." jawabnya singkat.
Belum sampai ke apartemen saja sudah membuat Ruby deg degan sendiri. Sejujurnya Ruby juga tidak ingin bersikap cuek terhadap Zen, tapi rasanya juga sangat canggung jika Ruby di minta bersikap seperti dulu. Ruby benar-benar terganggu dengan kondisi jantungnya yang berdetak semakin cepat, saat berdekatan dengan Zen.
"Ide mu adalah peluang ku, istri polos ku," gumam Zen setelah ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️