Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 69 POLOS, PINTAR, DAN BAR-BAR


__ADS_3

Sesuai dengan pengetahuan Zen. Bahwa sebelum melakukan penyatuan raga, sebaiknya melakukan for*eplay, untuk menciptakan kenyamanan satu sama lainnya.


Zen juga tidak boleh grasah grusuh, menyentuh tubuh Ruby. Akan lebih baik, lelaki itu memberikan kepua*san hingga tercapainya pelepasan. Dan hal itu sudah Zen lakukan.


Zen berpikir, karena area lorong surga yang masih lembab akan mempermudah dobrak Zen yang akan menyusup masuk.


Zen sudah sangat gagah memposisikan dirinya untuk melakukan aksinya. Sedangkan Ruby kembali memejamkan mata setelah melihat sesuatu yang nampak tegak siap menghunus tubuhnya.


"Pedang keramat seperti itu apa muat memasuki aku? Bagaimana kalau nanti punya aku sobek?" Ruby kalut dengan kata hatinya sendiri.


Zen mulai menggerakkan tubuhnya. Mencoba menyusup masuk mendobrak gawang Ruby.


"Mas, ahhh ... sakit Mas," rintih Ruby pelan.


Bukan hanya Ruby yang merasakan inti tubuhnya yang terasa sakit karena benda tumpul yang ingin segera masuk. Zen juga ikut merasakan ngilu, apa lagi belum ada setengah perjalanan.


Zen mencoba mendorong diri, namun Ruby kembali merintih kesakitan. Siapa yang tega kalau sudah seperti ini, apalagi kedua mata Ruby sudah mengeluarkan buliran bening yang entah meluncur sejak kapan.


"Kita berhenti saja ya By?" Zen jelas tidak tega.


"Kenapa Mas?"


"Kamu kesakitan ini," ungkap Zen.


Ruby menggelengkan kepalanya yakin. "Kita lanjut Mas. Aku masih bisa menahan rasa sakit. Mas hanya tinggal mengabaikan rintihan aku."

__ADS_1


Jawaban Ruby adalah jawaban yang Zen anggap paling tepat dan Zen tidak akan bernegosiasi tentang hal itu.


Zen kembali bekerja keras, mencoba menyusup masuk mengalahkan pertahanan yang sangat kokoh. Sambil menyesap bibir merona, membuat rintihan Ruby tenggelam dalam pagutan panas yang mereka lakukan.


Seluruh tubuh Ruby rasanya di paksa terbelah menjadi dua, di saat anggota tubuh asing yang terus berusaha masuk. Kedua tangan Ruby mencengkram kuat pundak Zen, sampai meninggalkan goresan kuku sekalipun kuku Ruby pendek.


Keduanya sama-sama melenguh saat Zen berhasil menerobos masukan. Meskipun sakit, tapi Ruby benar-benar lega karena sudah menyerahkan diri pada orang yang sangat mencintainya. Pada lelaki yang telah berhasil mengambil hatinya.


Zen memilih diam terlebih dulu, menikmati bagaimana rasanya saat ini. Membiarkan inti tubuh mereka saling menyapa dan saling berkenalan agar sama-sama terbiasa.


Zen menyusupkan wajahnya pada leher Ruby yang sudah lembab dan banyak jejak.


"Ruby cinta sama Mas," bisik perempuan yang sudah resmi menjadi istri Zen.


Zen langsung mengangkat wajahnya, menatap Ruby tak percaya. Sekalipun Zen sudah tahu dan bisa merasakan bahwa Ruby sudah mencintainya. Tapi bagi Zen, ini masih mengejutkan.


Tangan Ruby mengusap wajah Zen, menatap dalam mata lelaki yang berhasil mengambil hatinya dan keluarganya.


"Ruby cinta sama Mas," ungkapnya ulang.


Zen menyentuh telapak tangan Ruby lalu meninggalkan kecupan di sana. Zen merasa aneh kenapa jari tangan kiri Ruby terdapat cincin di sana.


Zen tentu tersenyum saat melihat jari tangan Ruby terdapat cincin lamarannya. Itu artinya, Ruby sudah tahu bahwa Zen lah orang yang telah datang melamar Ruby pada Arjuno dan Zantisya.


Zen tidak perduli bagaimana Ruby tahu tentang semua ini. Karena yang terpenting adalah cinta dan hati Ruby hanya untuk Zen.

__ADS_1


"Kamu tahu, aku sangat mencintai kamu By," Zen mengusap wajah Ruby dan tersenyum bahagia menatap Ruby. "Kita lanjutkan urusan yang sangat penting ini."


Zen kembali menyesap bibir Ruby sambil mulai menggerakkan inti tubuhnya pelan-pelan agar mereka sama-sama terbiasa terlebih dahulu.


Suara desah nafas Ruby yang awalnya pelan semakin lama semakin kuat mengikuti bagaimana pergerakan Zen yang awalnya pelan, jadi kebablasan. Kedua tangan Ruby mencengkram kuat lengan tangan Zen sambil berusaha bergerak sebisanya.


Zen semakin menggebu dalam menggerakkan tubuhnya. Menciptakan kebisingan bagaimana khasnya suara percin*taan dua insan yang semakin melambung. Mendengung, memenuhi setiap sudut ruang kamar yang menjadi saksi malam pergantian yang baru saja di mulai.


Tubuh keduanya sudah basah oleh keringat yang mereka hasilkan bersama. Mengikuti suasana yang semakin lama semakin panas.


Zen memeluk tubuh Ruby lalu membalik posisi mereka dengan cepat. "Giliran kamu By."


"Hah!"


"Bergerak seperti yang aku lakukan tadi."


Kedua tangan Zen memegang kuat pinggang Ruby, menuntun perempuan itu untuk bergerak.


"Aaahhh!" de*sah nafas Ruby sampai terpekik karena Zen dengan kuat menghentakkan tubuh kecilnya. Namun Ruby merasakan hal yang berbeda dengan posisi yang sebelumnya.


Zen melepaskan pegangan tangannya, saat di rasa Ruby sudah paham dengan caranya bergerak.


"Gadis polos ku yang pintar dan bar-bar," batin Zen sambil mengulas senyuman.


Bersambung ...

__ADS_1


Maaf baru update 🙏 masih rewang di rumah tetangga yang lagi hajatan 😊


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2