Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 74 BUKAN PERA*WAN TAPI TAWANAN


__ADS_3

"Ndaaa ..." pekik Ruby manja karena terlalu senang melihat mertuanya datang mengunjunginya.


"Mantu ku," pekik Nissa senang lalu memeluk Ruby.


Seperti dua orang yang sudah sekian lama tidak saling jumpa. Nissa sangat erat memeluk gadis kecil itu penuh rasa sayang.


"Duh cantik banget ternyata anak perempuan Nda ini," puji Nissa sambil mengusap puncak kepala Ruby. "Jadi kaya boneka kalau nggak pake jilbab," lanjut Nissa memuji anak gadis yang ternyata berambut panjang, hitam dan tebal.


"Eh By lupa belum pake jilbab," Ruby sampai menepuk kepalanya sendiri.


"Nggak apa-apa, kan cuma ada Nda sama Ruby di sini," Nissa yang gemes sama rambut Ruby, perempuan yang tidak muda lagi itu, membawa kearah belakang rambut panjang yang menjuntai di depan dada.


"Nda kenapa?" tanya Ruby bingung saat melihat kedua mata Nissa terbelakang karena terkejut.


"Lah tak piker gadis yang perawan, bakno gadis yang sudah jadi tawanan keganasan anak lanang ku," batin Nissa bangga. "Bayar mahal kamu Zen," teriak Nissa di dalam hati. "Minimal cucu kembar perempuan lah," request Nissa dalam hati.


"Nggak apa-apa. Ayo ke dapur, Nda bawakan buah-buahan. Pasti sudah habis kan buahnya di kulkas?"


"Nda emang terbaik," puji Ruby mengacuhkan ke dua jempolnya.


Ruby mengikuti langkah kaki Nissa menuju dapur. Perempuan itu sepertinya melupakan apa yang terjadi semalam. Karena dengan mudahnya, Ruby menggelung rambutnya, memamerkan lehernya yang terdapat banyak bentuk. Ruby memang melangkah pelan, tapi ia melupakan rasa sakit yang ada.


"Ya Allah anak lanang ku bombardir bocah cilik iki," batin Nissa saat melirik langkah kaki Ruby yang jelas pelan dan tidak nyaman. Belum lagi leher yang terlihat mengerikan.


Nissa bagai melihat dirinya sendiri, namun dalam hal ini, Ruby terlalu muda menurut Nissa.


"Semoga kamu sehat-sehat ngadepin anak nda ya By," batin Nissa. Perempuan itu sepertinya sangat paham betul bagaimana tabiat dua bibit unggul milik Yusuf.


"By mau masak bareng Nda?"

__ADS_1


.


.


.


"Rating kartun yang tayang setiap sore, presentasinya setiap hari mengalami peningkatan pak. Respon masyarakat di luar sana ternyata sangat baik dan antusias. Apalagi saat ini sudah sangat jarang tonton kartun di tv nasional."


"Bagus. Itu artinya kita tidak perlu membuat sesuatu acara yang mirip seperti di luaran sana yang sedang viral, hanya untuk menaikkan rating. Sekarang kita tambahkan acara setiap hari Sabtu dan Minggu. Pagi dari jam tujuh sampai jam 10 full kartun. Kemudian sorenya, dari jam 3 Sampai 5 sore juga full kartun. Dan setiap satu jam sekali, Kita tetap menayangkan topik terkini agar tetap update berita terbaru."


"Baik Pak."


Zen dan Alan jalan berdampingan meninggalkan ruang meeting. Tentu saja saat ini tujuan mereka adalah ke Ruang kerja Zen.


"Kok seperti ada yang aneh ya Bos?"


"Nggak tahu ini hanya perasaan aku saja atau bagaimana, tapi hari ini Pak bos kelihatan jauh lebih seger, wajahnya cerah, dan sering senyum senyum sendiri dari tadi. Pak Bos abis menang to*gel ya?" tebak Alan.


"Perlu aku konfirmasi terlebih dahulu, kalau aku memang sudah ganteng sejak embrio," ucap Zen kumat tingkat kepedeannya. "Dan satu hal lagi aku bukan memang main togel tapi menang main lotre."


"Astagfirullah Booosss ... Kan sudah punya istri tinggal di mainin, ngapain pak bos malah mainan lon*te," pekik Alan kuat.


Jelas saja langkah kaki Zen langsung berhenti. Balik badan dan menatap Alan kesal. "Heh curek, aku ngomong lotre bukan lon*te, bud*ek," geram Zen.


"Oh lotre."


"Lama-lama ku lempar juga kau ke dokter THT," Zen langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dan langsung mendaratkan tubuhnya di sofa. Begitu juga Alan.


"Al persiapkan acara pesta yang sudah pernah aku rencanakan. Satu bulan ke depan, pastikan semuanya sudah siap."

__ADS_1


"Jadi mau go publik nih Bos?"


"Go publik di kalangan rekan bisnis saja Al. Bukan di media massa hingga orang mengetahui semuanya."


"Apa nggak lebih baik di kenalkan secara live?" usul Alan.


"NO!" Alan sampai terkejut mendengar suara keras Zen. "Ruby masih kuliah, aku nggak mau hal itu mengganggu aktivitasnya sehari-hari."


Alan membuka iPad nya melihat kalender acara Zen yang sudah tersusun. "Tapi kalau acaranya di laksanakan satu bulan ke depan, sepertinya keluarga pak Hendri dan Bu Reina tidak akan mungkin bisa hadir Bos."


"Kenapa?"


"Karna satu bulan lagi, beliau akan menghadiri acara wisuda Alvian."


Seketika Zen menepuk jidatnya sendiri. Bisa-bisanya dirinya lupa dengan acara penting keponakan laki-laki satu-satunya, kalau Vian pernah memintanya untuk datang ke acara wisudanya nanti.


"Bisa-bisanya aku lupa."


"Maklum faktur u," ejek Alan.


"Sembarangan," Zen melempar pulpen yang ada di saku kemejanya ke arah Alan. "Makanya nikah Al, nikah."


"Lah apa hubungannya sama nikah?"


Bersambung ...


Selamat malam dan selamat istirahat 🥰❤️


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2