Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 97 MEMBALAS RUBY


__ADS_3

"Telur jadi-jadian?"


"Iya Mas. Telurnya berbulu, By takut."


"Hah!" Zen sudah bingung karena Ruby mengatakan telur jadi-jadian, dan sekarang Ruby mengatakan telurnya berbulu.


Telur seperti apa? Seumur hidup, Zen tidak menemukan telur yang ada bulunya.


"Dimana sih yang, ada telur berbulu?" Zen yang kepo, melangkah sambil menggendong Ruby mendekati area lemari pendingin.


"Mana By?" kedua mata Zen menelisik lantai. Zen pikir, wajah Ruby yang ketakutan seperti tadi pasti telur itu Ruby lempar dan pecah di lantai. "Mana sih By?"


"Turunin By, Mas." Ruby mengamati lantai, dimana ia tadi melempar begitu saja telur berbulu. "Itu Mas. Telurnya ajaib nggak pecah Mas," tunjuk Ruby ke arah sesuatu yang ada di bawah meja makan.


Sangking penasarannya, Zen menunduk dan meraih telur yang kini di sebut ajaib oleh Ruby.


"Ya Allah Ruby kuuu ...," pekik Zen keheranan. "Ini buah kiwi sayaaanggg."


"Loh, buah kiwi Mas?" dengan wajah polosnya, Ruby mendekati Zen dan ikut menyentuh buah kiwi. "Loh tak kira tadi telur Mas. Pantas saja kok ada di dalam kulkas. Lagian siapa yang mindahin buah kiwi ke bagian pintu sih?"


"Hahaha ..." Zen tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit perkara mengingat telur jadi-jadian, berbulu, dan ajaib yang ternyata buah kiwi. "Kamu kok lucu banget sih By," Zen menarik pipi Ruby karena gemas. "Itu kamu mau masak apa yang?"


Akhirnya, Zen yang memasak mie instan. Di waktu dini hari ini, Zen hanya tersenyum senang melihat Ruby menikmati mie instan hasil masakannya.


"Alhamdulillah kenyang," ucap Ruby setelah menghabiskan semangkuk mie dan segelas air minum.


Ruby beranjak dari kursinya, untuk mencuci bekas alat makannya.


"Ayo Mas, solat."


"Solat?" tanya Zen ulang takut salah mendengar ajakan Ruby.


"Iya solat."


"Kamu sudah selesai bulanannya?"


Ruby mengangguk. "Sudah."


"Kenapa nggak bilang sayang. Kan harusnya jatahnya aku buka puasa."

__ADS_1


Ruby paham dengan maksud Zen saat ini. "Ya orang By sudah pake baju seperti ini Mas nggak peka tadi. Ya sudah."


Ruby memang sudah menggunakan gaun penggoda iman sejak Zen pulang. Ruby pikir, Zen masih lelah makanya semalam Zen tidak melakukan aksi sama sekali.


"Maaasss ..."


Tubuh Ruby melayang begitu saja saat akan menuju kamar lebih dulu.


"Aku mau ambil jatah ku sepuas ku pokoknya," ucap Zen sambil melangkah lebar menuju kamar.


"Ya tapi kita solat dulu Mas."


"Solat malam kan sunah, jadi besok malam saja kita solatnya ya."


(Reader jangan di contoh kelakuan Mas Zen yak🤣😂)


Tanpa pikir panjang lagi, Zen langsung menyesap bibir Ruby. Sambil terus melangkah cepat menuju kamar. Yang ada di dalam pikiran Zen saat ini adalah, Membalas perbuat Ruby yang membuatnya merem melek dan membuat Ruby terkapar lemah.


.


.


.


"Mau kemana Kak?" tanya Arfan saat melihat Safir baru memasuki ruang keluarga.


"Keluar lah. Ke restoran, ikut nggak?"


"Nyusul ayah?"


"Memangnya Kakak bilang kalau ke Arko Restoran?"


"Terus Kakak mau kemana?" kini yang bertanya adalah Zantisya.


"Mau ke Restoran X Bun, ketemu klien."


Semenjak lulus SMA, Safir membuka usaha ternak sapi. Safir pikir, dari pada Ayahnya membeli daging sapi dari penyuplai. Alangkah lebih baik Safir membuka usaha ternak sapi untuk menyuplai sendiri ke restoran Ayahnya dan menambah relasi di luar sana. Dengan begitu, Safir juga bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang sekitar yang membutuhkan.


"Ya sudah, hati-hati."

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Zantisya, Safir langsung keluar rumah. Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Walau masih muda, Safir harus memulai usaha sejak dini. Meskipun sebagian modalnya menggunakan uang Arjuno, karena tabungan yang Safir miliki kurang. Namun, suatu saat nanti jika usahanya berkembang, Safir janji akan mengembalikan modal yang telah Ayahnya berikan.


Safir keluar dari mobil, dan langsung memasuki Restoran. Safir melangkah cepat saat seseorang yang sudah berjanjian dengannya, melambaikan tangan.


Dua jam telah berlalu, relasi kerja Safir telah pamit undur diri. Setelah kesepakatan mereka setujui.


"Safir," suara perempuan terdengar menyapa. Membuat Safir yang baru saja akan beranjak dari kursinya pun tidak jadi.


"Eh K-kak Divya," sapa Safir tergagap canggung.


"Sendirian disini?" Divya langsung ikut duduk tepat di depan Safir.


"Tadi sama seseorang, tapi sudah pulang."


"Pacar? Aku pikir kamu pacaran dengan Queen."


Safir terdiam melihat wajah Divya yang tersenyum menatapnya. "Tadi teman kerja. Aku dan Queen, kami hanya berteman."


"Teman kerja? Kamu kerja apa Fir?" Divya terkagum dan membuatnya ingin tahu.


"Hanya mencoba usaha kecil-kecilan kak. Ternak Sapi."


"Oh ya? Hebat kamu masih muda sudah memikirkan usaha sendiri. Aku punya teman yang memiliki usaha bakso. Kalau kamu mau, aku bisa bantu kenalkan."


"Eh kok jadi merepotkan. Tapi usaha ku masih kecil Kak. Jadi kalau mau menyuplai daging dalam jumlah besar sepertinya belum bisa."


"Nggak apa-apa. Kamu kenalan saja dulu, menambah relasi kan gak salah. Nanti kalau sudah berjalan dengan baik dan lancar, kamu gampang menawarkan usaha mu ke teman-teman yang sudah kamu kenal."


Safir mengangguk setuju. "Benar juga. Oh iya, Kakak kesini memang sendirian?"


Divya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku janjian dengan seseorang, sepertinya dia telat datang. Aku bolehkan gabung disini sama kamu, sambil nunggu teman aku?"


Tanpa Safir sadari. Dirinya tiba-tiba berinteraksi dengan Divya seolah mereka sudah kenal akrab. Karena biasanya, Safir hanya menyapa sekedarnya saat bertemu Divya. Sesekali berpapasan saat mengantar pulang Queen.


Bersambung ...


Dari kemarin sudah aku spoiler buat novel selanjutnya 🤭 tapi gak tau kapan rilis karena Ruby dan Zen masih panjang kali lebar 😊


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2