
"Tolong jangan marah. Aku tahu ini tugas ku, dan Om juga berhak mendapatkannya. Tapi aku minta maaf jika aku belum bisa sekarang."
"Aku nggak marah By," ucap Zen lembut.
Ruby semakin mengeratkan kedua tangannya yang melingkar di tubuh Zen. Saat Zen berusaha melepaskan belitan tangan Ruby.
"Aku akan serahkan diri aku secara suka rela, di saat aku sudah sangat yakin Om. Jadi tolong sabar hadapi aku."
"Aku juga menuntut perasaan mu By." Zen melepas paksa belitan tangan Ruby. Lalu balik badan agar mereka saling berhadapan. "Dengarkan aku sekali lagi, aku sangat mencintai kamu By. Dan aku bisa merasakan bagaimana perasaan Yang ada di hati kamu sebenarnya."
Ruby langsung memejamkan matanya saat Zen mendaratkan kecupan di bibirnya.
"Dari dulu hingga sekarang, kenapa wajah kamu masih saja cantik, mungil, dan menggemaskan," tutur Zen sambil menarik pipi Ruby.
"Apa dulu, sebelum menikah kita pernah bertemu?" Ruby sangat penasaran saat ini.
Bukannya menjawab Zen malah tersenyum membuat Ruby semakin penuh tanya. "Rahasia," ucap Zen sambil mencolek hidung Ruby. "Besok pagi, aku mau ke luar negeri bersama Alan."
"Berapa hari?"
"Sekitar 4 atau 5 harian, By. Karna aku juga sekalian lihat Vian. Nda yang akan jemput kamu kesini."
"Ok!"
"Tidurlah. Ini sudah larut malam."
Zen bergegas keluar dari kamar Ruby dan langsung lari menuju kamarnya sendiri.
"Si*al! kenapa dia masih tegang saja," gerutu Zen sambil melangkah cepat menuju kamar mandi.
__ADS_1
.
.
.
Sudah 2 hari Ruby tinggal di rumah utama. Sore ini, Ruby bingung mau melakukan apa. Sejak tadi, gadis itu hanya rebahan manja di atas ranjang.
"Di sini ada buku yang bisa di baca buat hiburan nggak sih?" gumam Ruby sambil beranjak dari atas ranjang. "Mau ke ruang baca males banget turun."
Ruby melangkah menuju lemari kecil yang terdapat beberapa buku yang memang Zen simpan di sana.
"Apa ini album foto? My love," gumam Ruby.
Ruby tentu saja terkejut saat melihat foto kedua orang tuanya yang nampak sudah lama, bersama Nissa dan satu anak laki-laki menggunakan setelan baju olah raga.
Ruby langsung lari, keluar dari kamar untuk menuju lantai bawah.
"Bibi lihat Nda nggak?"
"Ibu ada di ruang keluarga Mbak Ruby," jawab ART.
"Terimakasih," Ruby bergegas menuju ruang keluarga.
"Nda?"
Nissa yang sedang menonton acara ku menangis, langsung menoleh melihat anak mantunya yang baru saja datang. "Akhirnya jalan lurus yang aku pilih sudah memperlihatkan hilalnya," ucap Nissa bahagia di dalam hati, saat melihat album foto yang belum lama ini Nissa ketahui, di mana Zen menyembunyikan semuanya.
"Ada apa By? Sini duduk."
__ADS_1
"By mau tanya perihal foto yang ada di dalam sini Nda."
Nissa langsung melihat saat Ruby membuka lembar pertama. "Wah Nda nggak menyangka Zen menyimpan kenangan pertama kali bertemu dengan orang tua kamu By," ucap Nissa sok syok melihat foto dirinya duduk di kursi bersama Zantisya, sedangkan Arjuno merangkul Zen sambil tersenyum lebar dan duduk di bawah.
"Jadi Nda sama Mas, sudah kenal lama sama Ayah dan Bunda?"
Nissa mengangguk. "Dan di foto ini, pertama kali kami bertemu. Saat Bunda hamil By sama Safir. Bunda ngidam gula kapas yang lagi di makan Zen. Dengan terpaksa Zen kasih gula kapasnya ke Bunda tapi dengan syarat Ayah Arjuno mau lomba lari keliling alun-alun," Nissa bercerita sambil bernostalgia kembali dengan kenangan di mana dia masih muda dulu.
Nissa juga mengatakan kalau di pertemuan pertama, Zen meminta anak Zantisya dan Arjuno. Kalau yang lahir anak perempuan.
Nissa membuka lembar foto album selanjutnya. "Kalau ini pertemuan kami yang ke dua," ucap Nissa menampilkan fotonya bersama Zen, Yusuf, Arjuno, dan Zantisya yang berada di Arko Restoran.
Nissa menceritakan kalau Zantisya menginginkan es krim yang sedang di makan Zen. Bahkan Zen juga mengatakan telah melamar janin perempuan yang ada di rahim Zantisya.
"Ini pertemuan kami yang Ke tiga, di saat Al sudah umur dua tahun."
Nissa menceritakan semua tentang pertemuan mereka saat di pantai dulu. Ruby bahkan sampai malu sendiri saat melihat fotonya bersama Zen yang sedang berciuman.
"Sudah sejak lama Zen mencintai By," Nissa mengusap puncak kepala Ruby. "Ayah dan Nda datang bertamu itu sebenarnya berniat melamar Ruby untuk Zen. Tapi ternyata anak Nda sudah bergerak cepat. Sudah melamar By lebih dulu, dan betapa senangnya kami saat tahu lamaran Zen sudah By terima."
Deg
Betapa terkejutnya Ruby mendengar penuturan Nissa, bahwa dirinya telah menerima lamaran Zen.
"Itu artinya, lelaki yang melamar Ruby adalah Mas Zen, Nda?"
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1