
Mobil yang menjemput Zen dan Alan di bandara, sudah berhenti di depan rumah tepat pukul 23.45 WIB. Dua lelaki beda status itu langsung keluar dari mobil kemudian memasuki rumah.
Langkah mereka berdua berlainan arah saat Zen hendak menuju lift sedangkan Alan menuju kamar tamu yang menjadi tempat tidurnya jika bermalam di rumah Yusuf.
"Pak Bos," panggil Alan saat Zen akan memasuki lift.
"Ngapian kamu ngikutin aku kesini?" tanya Zen sambil menekan tombol lift.
"Cuma mau mengingatkan."
"Aku inget sama jadwal meeting besok. Sudah sana, nggak ngerti banget ada orang pengen cepat masuk kamar," gerutu Zen sambil mengibas tangannya agar Alan tidak menggangunya lagi.
"Lah belum selesai ngomong sudah di tinggal duluan," gumam Alan.
Zen melangkah pelan mendekati ranjang begitu sudah memasuki kamar. Senyum langsung tergambar jelas di wajah Zen saat melihat wajah tenang Ruby yang sudah lelap.
"Pengen peluk kamu, tapi aku harus mandi dulu," gumam Zen.
Ruby membuka kedua kelopak matanya, saat mendengar alarm ponselnya. Tangan Ruby hendak meraba dimana dia meletakkan benda pipih itu. Namun, Ruby tidak bisa mengulurkan tangannya karena saat ini tubuhnya terasa di kekang.
Ruby membuka kedua matanya lebar-lebar, dapat ia lihat belitan tangan kekar. Detak jantung Ruby seketika bekerja cepat, menyadari siapa yang telah memeluknya saat ini.
Rasa bahagia seketika memuncak begitu saja, saat merasakan rindu yang tertahan selama beberapa hari ini.
__ADS_1
Ruby melepaskan belitan tangan Zen pelan-pelan agar suaminya itu tidak terganggu.
"Aku sungguh tidak menyangka, Mas mencintai aku dengan cara seperti ini. Jujur saja aku masih belum percaya, kalau di dunia ini ada orang yang mencintai seseorang tanpa melihat rupa," batin Ruby sambil menatap wajah Zen yang jelas terlihat lelah.
Ruby mengusap pelan wajah Zen. Menimbulkan desiran hangat di dalam tubuh gadis itu sendiri.
"Kalau aku tahu orang itu adalah Mas, sudah pasti sejak lama aku akan bersikap lebih baik dari biasanya," batin Ruby. "Pantas saja Mas nggak menolak sama sekali saat di minta tanggung jawab sama Ayah," Ruby terus mengingat dari awal mereka menikah. Membuat hati Ruby berbunga-bunga dengan wajah yang merona.
"Karena Mas sudah pulang, aku akan mempersiapkan semuanya," gumam Ruby.
Dengan yakin, Ruby mendekatkan wajahnya pada wajah Zen yang terbuai mimpi. Mendaratkan satu kecupan di bibir lelaki yang pintar mencari kesempatan.
Ruby bergegas turun dari atas ranjang. Mendaratkan satu kecupan saja sudah membuat tubuh Ruby merinding tidak karuan.
Setelah melakukan sholat, Ruby kembali mendekati ranjang untuk membangunkan Zen karena sebentar lagi adzan subuh.
Mendengar Ruby memanggilnya dengan sebutan Mas, tentu saja Zen langsung membuka kedua matanya. Dan langsung menarik Ruby sampai mendarat di atas tubuhnya.
"Ooommm ..." Pekik Ruby kaget.
"Sepertinya aku tadi mendengar istri ku ini memanggil ku Mas. Kenapa sekarang jadi Om lagi?" protes Zen. Tangan Zen teru mengusap wajah Ruby.
"Suruh siapa kagetin aku."
__ADS_1
"Jadi sekarang sudah mau memanggil ku Mas, sekalipun kita hanya berdua seperti ini?"
"Ya kalau Mas nggak suka, aku dengan senang hati panggil Om. Kan memang sudah Om Om."
Zen benar-benar di buat gemes dengan bibir Ruby yang pagi-pagi sudah mencibir sesuai fakta. Selalu cerewet dalam memprotes segala hal.
Tanpa di pikirkan ulang, Zen langsung menarik tengkuk Ruby. Memberikan kecupan lembut, lalu menyesap pelan bibir ranum yang nampak menggoda di pagi hari.
"Tumben istri kecil ku ini tidak memberontak?" batin Zen saat merakan tidak ada perlawanan seperti biasanya dari Ruby.
Kalau sudah seperti ini, siapa yang bisa menahan diri untuk meminta lebih. Apa lagi saat ini Ruby membalas sesapan yang Zen lakukan.
Zen bergerak cepat membalik posisi mereka, tanpa melepaskan pertemuan bibir yang semakin dalam.
"Loh kok begini? Maksud aku nggak sejauh ini," batin Ruby mulai kalut saat Zen sudah menata posisi di atas tubuhnya. Apalagi tangan Zen sudah bergerak mencari mangsa.
Zen langsung melepaskan bibir Ruby saat telinganya dengan jelas mendengar suara adzan subuh.
"Ini Adzan apa By?" tanya Zen linglung seketika.
"Subuh," jawab Ruby singkat. "Aaaa ... Om kenapa batalin aku?" protes Ruby saat menyadari dirinya masih menggunakan alat sholat.
"Kamu batal bisa wudhu lagi By, lah aku? Mana posisinya sudah enak banget lagi," gerutu Zen yang langsung turun dari atas ranjang.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️