
Karena jadwal ke dua dan ke tiga mata kuliah hari ini kosong. Jadi Tiara mengajak Ruby pergi ke sebuah mall. Apalagi tadi, dengan wajah malu-malu, Ruby menanyakan hal apa yang di persiapkan untuk membuat suami senang. Tiara tentu saja paham dengan gelagat Ruby.
"Ngapain kita ke sini Kak?" tanya Ruby sambil menarik tangan Tiara, agar berhenti melangkah.
"Katanya ingin membuat suami senang?"
Ruby mengedarkan pandangannya, menelisik tempat yang di penuhi dengan pakaian dalam wanita. Wajah Ruby semakin bingung.
"Iya tapi kenapa kesini Kak?" Ruby masih saja protes. "Kalau hanya pakai dalam, punya By masih banyak stok yang belum kepakai."
Tiara tentu saja terkekeh, gadis sepolos Ruby memang harus di training dengan baik agar suaminya tidak menyangka dengan kepolosan Ruby.
"Sudah ikut saja saya, kalau Ruby ikuti saran Kakak ini. Kakak berani jamin seratus persen, suami Ruby pasti klepek-klepek sama Ruby."
Walaupun belum paham dengan maksud Tiara, akhirnya Ruby ikuti saja arahan perempuan yang jelas berpengalaman dalam urusan rumah tangga.
Ruby hanya terpaku dengan wajah tercengang dan nampak syok, saat Tiara memilihkan pakaian kurang bahan dan sangat transparan. Yang biasa di sebut pakaian dinas malam atau lebih tepatnya lingerie. Belum lagi set g-string yang serasi dengan lingerie yang di pilih Tiara. Yang menurut Tiara sangat cocok di kulit bersih Ruby dan badan yang nampak mungil.
"Total semuanya 12.350.000," ucap pegawai perempuan disana.
"Berapa Kak?" tanya Ruby ulang karena tidak percaya. Yang di pikirkan Ruby, membeli lima set baju kurang bahan tadi tidak akan mahal. Makannya Ruby tidak melihat harga.
"12.350.000 Kak," ulangnya. Pegawai tersebut sampai tidak percaya, perempuan sekecil Ruby sudah membeli pakaian seperti ini.
Tiara tersenyum melihat tatapan wanita tersebut. "Dia sudah menikah Kak. Jadi jangan salah menilainya," ungkap Tiara.
"Yang benar saja Kak, pakaian seperti ini habisnya segitu banyak?" Protes Ruby membisiki Tiara.
"Sekalipun mahal, tapi manfaatnya luar biasa By. Percaya sama Kakak."
Ruby langsung mengambil dompetnya, mengambil benda pipih unlimited kebahagiaan semua perempuan. "Ini Kak."
Pegawai tersebut langsung menatap ramah Ruby saat menerima black card impian siapapun. Sangking ramahnya, Ruby sampai di berikan member card eksklusif.
***
"Pak Bos. Bukankah itu Ruby," tunjuk Alan berbisik, memberi tahu.
__ADS_1
"Mana?" Zen mengikuti arah tunjuk Zen. "Kamu urus dulu," bisik Zen. "Maaf pak Amran, saya permisi ke toilet dulu."
"Silahkan Pak."
Zen beranjak dari tempat duduknya, melangkah lebar menuju ke arah perempuan yang sudah dapat di pastikan itu adalah istrinya, Ruby.
"By," panggil Zen sambil menggenggam pergelangan tangan Ruby.
"Loh Mas, disini?" spontan Ruby membawa ke belakang tubuhnya, paper bag yang ia jinjing. Beruntung tadi Ruby meminta kantor plastik polosan, agar tidak terlihat jelas kalau ia baru membeli pakaian dalam wanita.
"He'em. Aku ada kerjaan disini sama klien ku. Memangnya sudah nggak ada jadwal kuliah, kok sudah ada disini?"
"Dua mata kuliah kosong Mas, jadi Ruby kesini sama Kak Tiara. Maaf nggak bilang dulu sama Mas," ucap Ruby paham dengan wajah khawatir Zen, Karen ia tidak izin.
"Pak Zen," sapa Tiara ramah saat Zen melihatnya sekilas.
"Loh, si Mbaknya kenal saya?"
"Siapa yang nggak kenapa sama Bapak apa lagi Bapak ini kan rekan kerja Suami saya. Kita pernah beberapa kali bertemu loh pak," Tiara tidak menyangka kalau suami Ruby adalah Zayn Dzuhairi Sucipto pimpinan DS Group.
"Benarkah?"
***
Alan hanya bisa menghela nafas pelan saat melihat ke sebelah kiri dan kanannya. Terdapat dua pasang suami istri yang nampak romantis sedang menikmati makan siang yang sudah mereka pesan bersama.
"Akan lebih baik kalau saya pindah meja makan saja," sindir Alan karena merasa di abaikan.
"Jangan. Kalau kamu pindah siapa yang akan mengobati nyamuk-nyamuk di sini," ledek Zen.
"Sebaliknya Pak Alan segera menikah juga, biar merasakan enaknya makan sambil mesra-mesraan," ucap Pak Amran mengompori. Bahkan tangannya sambil menyuapkan makanan ke mulut Tiara. "Atau mau sama anak saya, tapi masih kelas tiga SMA," tawar pak Amran bergurau.
"Walah kalau nunggu anak SMA kelamaan Pak, kecuali kalau anaknya saya ajak bobo bareng," sindir Alan. "Awww ..." ringis Alan saat kakinya di tendang Zen.
"Jangan mau punya mantu seperti dia Pak. Kasian anak Bapak."
"Kenapa kasian? Gini-gini aku juga cukup tampan loh Bos."
__ADS_1
"Banggain aja terus itu muka."
"Ya bangga lah, ini juga kena virus pede over dosisnya Pak Bos yang selalu menyebut dirinya ganteng."
"Lah aku mah emang ganteng dari jaman embrio," kumat sikap pede Zen seketika.
Pak Amran hanya menahan kekehannya melihat pertengkaran Zen dan Alan. Hiburan tersendiri untuknya, setiap kali mereka selesai meeting.
***
"Ikut ke kantor yuk By," tawar Zen sambil merangkul Ruby menuju mobil yang ada di basemen mall.
"Jangan By, nanti kamu bikin suami kamu oleng pas kerja."
"Apaan sih, ngikut aja."
"Ya aku ikut lah Bos. Kan kita kesini pake satu mobil."
"Mobil siapa?"
"Mobil aku lah," Alan mengeluarkan kunci mobilnya, lalu menekan tombol membuka kunci mobil.
"Ya sudah kamu sopirnya sekarang," Zen langsung mengajak Ruby masuk ke dalam mobil, kursi bagian belakang kemudi.
"Yeee ... sekate-kate minta di driver.in sama sekertaris nomor satu di DS Group," sungut Alan karena sedang di panasi dengan kemesraan bos-nya. Membuat jiwa jomblonya meronta.
Ruby hanya tercengang melihat interaksi konyol antara Zen dan Alan.
"Jadi gimana? Ikut ke kantor ya?" tawar Zen ulang.
"By mau pulang saja Mas, karena mau mempersiapkan diri," ucap Ruby tanpa sadar.
"Mempersiapkan diri?" tanya Zen belum paham.
"Eh salah. Maksudnya, aku mau beresin kamar aku di apartemen," Ruby tersenyum canggung. "Kamar aku berantakan."
"Ooohhh ..."
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️