
Arjuno dan Zantisya tersenyum melihat Al yang sudah nampak cantik dan tampan. Untuk pertama kalinya, Arjuno memberikan izin ke dua anaknya mendatangi acara pesta syukuran, yang di perkirakan selesai tidak lebih dari jam sepuluh malam.
"Ayah sama Bunda, percaya sama kalian berdua. Meskipun acara di kediaman Queen, tapi kalian harus saling menjaga ya. Ayah khawatir terjadi sesuatu dengan kalian."
"Baik Ayah," jawab Al bersamaan.
Ruby dan Safira langsung keluar dari mobil, begitu mobil yang di kemudikan pak Totok sudah sampai, tepat di depan gerbang rumah Queen.
"Mbak, Mas. Nanti bapak jemput jam setelah sepuluh ya."
"Iya pak," jawan Al bersamaan.
Al langsung memasuki tempat acara. Kedua anak Arjuno dan Zantisya itu, tentu menatap kagum bagaimana indahnya halaman rumah Queen saat ini. Al langsung mencari di mana keberadaan Queen.
"Ya Allah. Cantiknya ratu ku," puji Ruby. "Selamat bertambah tua, ini kado buat kamu."
Queen langsung menerima kado dari Ruby. "Terimakasih Maira ku."
"Ini dari aku," Safir mengulurkan kado pada Queen.
Tentu saja Queen langsung tersenyum senang. "Ini Apa?"
"Kado."
"Iya aku tahu, tapi isinya apa?"
"Bukan kado namanya kalau di kasih tahu isinya," jawab Safir.
Queen tersenyum melihat Safir. "Terimakasih ya Fir."
Acara syukuran dan pesta remaja itu segera di mulai setelah di perkirakan teman-teman Queen sudah datang semua.
Sejujurnya, Reina dan Hendri sudah menawari Queen untuk melangsungkan acara di sebuah gedung saja. Namun, kemauan Queen yang tidak mau di negosiasi akhirnya di turuti juga.
Setelah rangkaian acara di laksanakan, kini semua muda mudi itu dapat menikmati berbagai macam jamuan yang di sediakan keluarga Queen.
Semua orang nampak bahagia di sana. Queen terus bercengkerama kesana kemari dengan teman-temannya. Begitu juga dengan Ruby, yang terus mengobrol dengan teman sekelasnya.
__ADS_1
***
"Mbak, tolong berikan jus ini ke gadis itu," tunjuk lelaki muda pada perempuan berambut pendek dengan postur tubuh yang sangat pas. "Dan katakan, Aku senang bisa melihat mu lagi."
"Baik mas," ucap si pelayan setelah menerima selembar uang berwarna merah.
"Kamu yakin?" tanya salah satu teman lelaki yang menyuruh pelayan tadi.
"Yakin," lelaki itu tersenyum penuh arti. "Setelah ini dia akan jadi milik aku selamanya."
***
"Jus mbak," tawar si pelayan pada perempuan berambut pendek.
"Terimakasih,"
"Katanya, Aku senang bisa melihat mu lagi," bisik si pelayan.
Tentu saja perempuan berambut pendek itu mengernyit bingung. "Kata siapa?"
"Ya sudah lah, biarkan saja." Ucapnya acuh.
Pelayan itu langsung permisi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Raya ...." Panggil Ruby pada perempuan berambut pendek. "Akhirnya ketemu juga."
"Banyak banget yang di undang Queen. Padat manusia."
"Wajarlah banyak, teman SMP dan SMA di undang semua, tuh lihat dari tadi dia nggak berhenti menyapa kesana kemari."
"Ya sudah, ayo ..."
"Sebentar, aku mau ambil minum dulu."
"Mau jus ku ini? Belum aku minum setetes pun," tawar Raya sambil memberikan jusnya.
Ruby menerima dengan senang hati. "Terimakasih."
__ADS_1
***
"Kenapa dia masih baik-baik saja?" ucap lelaki yang mengirimi Raya segelas jus. Lelaki yang sangat menyukai Raya sejak sekolah SMP, tidak melihat saat Raya memberikan jusnya pada Ruby.
"Mungkin belum bereaksi bro."
"Seharusnya sudah, karena ini sudah sepuluh menit yang lalu."
"Tunggu sebentar lagi saja."
***
Entah berapa kali Ruby menggelengkan kepalanya karena rasa kantuk yang tiba-tiba saja menyerang. Pandang Ruby sudah mulai kabur, tapi Ruby masih berusaha kuat untuk melihat kesana kemarin. Mencari di mana keberadaan Safir.
"Kamu kenapa by?" tanya Raya.
"Aku ngantuk banget ini. Aku cari Safir dulu ya."
"Ok."
Ruby langsung bergegas mencari di mana keberadaan Safir. Sedangkan Raya lanjut mengobrol dengan teman yang lain.
"Kamu kenapa Mai?" tanya Queen yang baru saja menghampiri Ruby.
"Aku mau cari Safir. Ngantuk banget aku," Ruby kembali menggelengkan kepalanya agar tetap kuat terjaga.
"Aku antar ke kamar ku dulu saja ya, kamu istirahat di sana. Nanti kalau acara selesai, aku kasih tahu Safir kalau kamu di kamar ku." Ruby langsung mengangguk. "Ayo aku antar."
"Nggak usah, aku bisa sendiri. Nggak enak sama temen-temen disini. Aku numpang istirahat sebentar ya."
Ruby langsung bergegas masuk ke dalam rumah Queen dan langsung menuju lift. Pandang Ruby yang sudah buram membuat Ruby tidak melihat jelas nomor berapa yang telah ia tekan menuju lantai atas. Karena menurut Ruby, ia sudah benar menekan tombol nomor dua.
Ruby langsung masuk ke dalam sebuah kamar yang menurutnya itu adalah kamar Queen. "Kenapa aroma kamar Queen berbeda?" Gumam Ruby sambil meletakkan tas dan melepas jilbabnya. Ruby sudah tidak ingin memikirkan hal yang lain. Ruby langsung menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya disana.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1