Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 46 POTONG GAJI


__ADS_3

Saat jam istirahat sekolah, seperti biasanya Ruby, Safir, dan Queen langsung menuju perpustakaan, tentunya setelah mereka jajan. Ketiga remaja itu, selalu kompak dalam hal belajar. Apalagi sekarang, sudah mulai ada jam tambahan setelah pulang sekolah.


Ruby dan Queen duduk berdampingan, sedangkan Safir duduk tepat di depan mereka berdua.


"Pake jatuh lagi," gerutu Queen saat pulpen yang ia mainkan sambil membawa buku jatuh ke bawah meja.


Meski ke dua mata Safir masih nampak fokus pada buku yang ia baca, tapi dengan cepat tangannya menutupi ujung meja saat Queen membungkuk ke bawah meja. Safir takut kepala Queen terbentur ujung meja.


"Mai, tolong ambilkan pulpen ku," pinta Queen sambil mengangkat kepalanya kembali. Setelah itu, Safir menarik tangannya begitu saja. "Ih sweet banget sih Fir, takut ya kepala aku kejedot meja."


"Sweet apaan sih. Bikin repot tahu kalau kepala kamu bocor kena ujung meja," jawab Safir dengan nada cueknya. Lelaki muda yang memang tidak banyak tingkah dan terkesan dingin seolah sulit di gapai.


Queen hanya bisa memanyunkan bibirnya, karena Safir berbicara tanpa menatapnya. "Mai tolong ambilkan pulpen ku. Lah ini si Tante malah ngelamaun," ucap Queen saat melihat Ruby hanya diam menopang dagu. "Mai ..."


"Astagfirullah ..." Ruby sampai terkejut saat mendapatkan tepukan di punggungnya. "Ngapain sih kagetin aku?" komplain Ruby pelan, sambil menyentuh dadanya.


"Kamu ngelamunin apa sih?" tanya Queen pelan.


"Siapa yang ngelamaun."


"Heleh ngaku aja Mai. Kamu pasti lagi ngelamunin Om aku yang super ganteng itu kan?" tebak Queen sampai membuat wajah Ruby memerah.


"Enak saja, ngapain juga aku ngelamunin Om Om itu," elak Ruby. Padahal sejak tadi, Ruby terus memikirkan pelukan Zen tadi malam dan juga ciuman pipi tadi pagi.


"Sudah ngaku saja kenapa, itu muka sampai kaya stroberi gitu," goda Queen jahil.


"Kalian kalau mau ghibah keluar sana," usir Safir merasa terganggu.


"Sensi amat sih Fir. Mai ambilkan pulpen ku."


"Di mana?"


"Di bawah meja, dekat kaki kanan kamu."

__ADS_1


Safir bergegas menutupi ujung meja saat Ruby menunjukkan kepala.


"Duh gimana gak meleleh kalau di balik sikap dinginnya ada tindakan perhatian yang di lakukan diam-diam," batin Queen menilai sikap Safir selama ini.


.


.


.


"Bos, kapan balik ke Jakarta. Aku kelimpungan ngurus semua sendiri," keluh Alan.


Sekertaris Zen itu, datang ke Malang untuk memberikan beberapa berkas yang harus di tanda tangani Zen secara langsung. Tidak bisa di wakilkan Yusuf karena semua sudah jadi tanggung jawab Zen.


"Nasib mu," ucap Zen singkat. Kedua mata Zen masih fokus melihat berkas yang akan ia tanda tangani.


"Ayolah Bos, kasihanilah kami yang tidak bisa tanpa mu," rayu Alan memelas.


"Heleh, paling juga belum dapet jatah," ejek Alan telak.


"Si celurut. Ngejek aku lagi, tak sumpel mulut jomblo mu itu."


"Biar jomblo yang penting happy."


"Tolong jangan menghibur diri, yang aslinya ngenes."


"Jam berapa sih Ruby pulangnya? Jadi penasaran sama gimana cantiknya sampai bikin Pak Bos bucin akut sejak dini."


Zen langsung menutup berkas yang telah selesai di tanda tangani. "Sudah sana, cepat pulang lagi ke Jakarta."


Alan tahu, Zen sedang mode posesif. Dan itu membuat Alan ingin terus menjahili Zen. "Ayah tadi bilang kalau aku boleh kembali ke Jakarta besok pagi. Lagian ini sudah sore Bos. Aku mau menginap di sini."


"Memangnya Kalau gak nginap di sini mau nginap di mana?" tanya Zantisya sambil membawakan beberapa cemilan. "Sambil ngemil ya biar nggak jenuh."

__ADS_1


"Terimakasih Tante."


Tin ... Tin ...


"Apa itu si kembar Tan?" tanya Alan saat mendengar klakson mobil.


"Iya. Tante ke belakang dulu ya, kalian selamat bekerja," Zantisya langsung beranjak dari sana.


"Awas kamu berani lihat istri aku," ancam Zen.


"Ya gimana biar gak penasaran kalau lihat saja nggak boleh," protes Alan semakin membakar keposesifan Zen.


"Berani lihat istri aku, ku potong gaji kamu selama satu tahun."


"Bodo amat, demi meluluskan rasa penasaran akan aku lakukan segala hal."


"Assalamualaikum," salam Ruby memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," jawan Zen dan Alan bersamaan. Zen langsung beranjak menutup mata Alan yang fokus melihat ke arah pintu.


"Bos awas ih, pelit banget lihat sebentar," protes Alan mencoba menyingkirkan tangan Zen dari wajahnya.


"Siapa yang suruh kamu antusias lihat istri aku hah?"


"Aku tuh penasaran, awas ih."


Ruby yang sudah berdiri di ambang pintu hanya bisa mematung melihat adegan kedua lelaki dewasa di sana.


"Baru tadi aku mikir Om Zen itu lelaki normal, tapi sepertinya dugaan ku sejak awal sudah sangat benar," batin Ruby yang masih tidak percaya dengan Zen yang terus menyentuh wajah Alan. "Sialnya kenapa detak jantung aku, berdetak cepat kalau ingat kejadian semalam dan tadi pagi?" gerutu Ruby.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2