Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 35 TERAKHIR KERJA


__ADS_3

Ruby duduk di kursi rias. Membiarkan MUA mempercantik mata dan alisnya. Sesekali Ruby melihat Zen dari pantulan kaca. Lelaki sekaligus suami Ruby yang akan menjadi partner kerja Ruby di hari terakhir. Karena setelah ini, Ruby akan lebih fokus dengan persiapan ujian kelulusan.


"Apa dia kekurangan uang sampai mengambil job seperti ini?" batin Ruby bertanya-tanya.


Kedua tangan Ruby sudah mulai mengeluarkan keringat dingin. Membayangkan gaya Sinta dan Harun saat fotografer mengambil potret mereka, benar-benar sangat romantis. Apa lagi mereka kan memang pasangan suami istri yang saling mencintai.


Ke dua mata Ruby melebar saat menyadari Zen membalas tatapan matanya di pantulan kaca.


Zen tersenyum lalu mengedipkan satu matanya untuk menggoda Ruby.


Ruby mengalihkan pandangannya. "Apa-apaan Om itu?" batin Ruby. Merasakan detak jantung yang bekerja cepat secara tiba-tiba. "Apa selain Ga*y dia juga seorang playboy?" prasangka Ruby semakin menjadi-jadi. "Dia punya kepribadian berapa sebenarnya?" tanya Ruby dalam hati.


"Sudah By," ucap MUA.


"Cantik Mbak," Ruby memajukan wajahnya ke arah cermin, menilai wajahnya yang di make up senatural mungkin.


"Kamu mah By, di poles sedikit saja sudah terlihat cantik. Beruntung Pak Zen dapetin kamu By."


Ruby hanya menanggapi dengan senyuman yang tertutup cadar. "Dia untung, aku buntung mbak," batin Ruby.


"Ayo Om, lebih cepat lebih baik," ajak Ruby. Zen langsung mengikuti langkah kaki Ruby.


Beberapa gaya sudah Ruby dan Zen ikuti sesuai dengan arahan fotografer. Beberapa model baju couple juga sudah di pakai Ruby dan Zen.


Dari gaya hanya saling berpandangan saling berpegang tangan, sudah Ruby ikuti.


"Ini baju terakhir kan?" tanya kang foto saat Ruby dan Zen sudah kembali dengan baju couple lainnya.

__ADS_1


"Iya. Kata Tante Reina ini yang terakhir," jawan Ruby.


"Benar, ini yang terakhir," tambah Reina saat baru datang lagi.


"Kalau begitu, sekarang gayanya harus lebih inten ya, biar feelnya dapet."


"Inten? Gaya yang seperti apa?" tanya Ruby karena mulai berprasangka.


Reina mengulas senyum melihat mata Ruby yang sepertinya ingin menolak. "Sudah ayo cepat, hari ini hari terakhir kan? Biar By cepat pulang dan istirahat," Reina mendorong pelan tubuh Ruby.


Ruby menghela nafasnya pelan, saat dirinya sudah berdiri di dekat Zen. Menatap mata Zen penuh curiga.


"Ayo Pak di mulai," ucap Ruby.


"Maaf Pak Zen, istrinya tolong di ajak gaya yang lebih mesra ya Pak," instruksi kang foto.


Zen tersenyum menatap Ruby yang mendelik. "Tentu."


"Coba Pak Zen dan Ruby saling berhadapan, tangan Pak Zen di pinggang Ruby ya. Tangan Ruby di dada Pak Zen. Saling pandang, tahaaannn."


Ruby tentu terkejut saat tangan Zen mengekang pinggangnya sampai tubuh mereka berdua menjadi rapat tanpa celah. Tangan Ruby yang tidak nampak di kamera langsung bergerak cepat membuat jarak antara dadanya dan tubuh Zen.


"Om cari kesempatan ya?" tuntut Ruby.


Tentu saja Zen tidak menanggapi ucapan kesal Ruby saat ini.


"Tolong ambilkan kursi," perintah kang foto pada staf lainnya.

__ADS_1


Ruby langsung melepaskan diri dari Zen. Benar-benar membuat jantung Ruby senam, melakukan pekerjaan terakhir kalinya.


Beberapa foto selanjutnya, Ruby duduk di kursi sedangkan Zen berdiri. Begitu pun sebaliknya.


"Sekarang Pak Zen pangku Ruby."


"Hah!" Ruby spontan melihat kang foto. "Nggak ada gaya lain salain begitu Pak? Mas Harun sama Mbak Sinta saja nggak pernah begitu?" kini Ruby mulai mengeluarkan unek-uneknya. Apa lagi ini yang mereka kenakan baju muslim. Kenapa harus seintens itu.


"Kita cari suasana baru By, ayo cepat biar kita semua cepat selesai."


Ruby melihat staf lainnya yang ada di sana. Terlihat wajah lelah karena mereka sudah sejak tadi pagi berada di lokasi.


"Tenang By tenang, Om itu ga*y. Kamu aman." batin Ruby meyakinkan diri.


"Ayo Om cepat."


"Ya ayo sini," Zen menepuk pahanya sendiri, karena memang sejak tadi ia sudah dudu di kursi. Ruby langsung mendekat, masih ragu duduk di pangkuan Zen. "Kenapa? takut tertarik sama aku ya?" goda Zen yang di nilai Ruby sebuah ejekan.


"Ruby masih normal, buat suka sama lelaki normal."


Sebuah kata yang membuat Zen merasa di tusuk. Seolah Ruby akan berpaling darinya untuk menyukai lelaki lain.


Zen langsung menarik tangan Ruby, dan Ruby langsung mendarat di pangkuan Zen. "Bagaimana kalau aku membuat mu menyukai ku, sampai kamu tidak bisa berpaling dari ku By."


Ruby melihat kedua mata Zen yang nampak serius. Ruby mendorong dada Zen, berusaha turun dari pangkuan Zen tapi tidak bisa, karena Zen mengekangnya erat. "Kenapa dengan Om ini?" batin Ruby. "Coba saja kalau Om bisa."


Zen langsung mendekatkan wajahnya ke arah telinga Ruby. "Deal!" bisik Zen yakin.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2