
Di Jakarta.
Beberapa hari sudah berlalu, Nissa sejak tadi nampak diam sambil menonton televisi. Tapi kedua matanya nampak tidak fokus, karena Nissa hanyut dengan lamunannya sendiri.
"Huuufffttt ..."
Nissa langsung tersadar saat wajahnya di tiup sang suami. "Ayy ..."
"Sepertinya akhir-akhir ini istri ku lebih sering melamun. Ada apa?" tanya Yusuf setelah mendaratkan tubuhnya di sofa. Tentu saja di dekat Nissa.
"Aku memikirkan Zen, Ayy."
"Ah aku pikir sedang memikirkan aku." Goda Yusuf untuk menjahili sang istri.
Nissa yang gemas dengan suami tuanya itu, langsung memberikan sebuah cubitan di perut Yusuf.
"Awww ..." ringis Yusuf. "Sakit sayang."
"Ingat umur Ayy. Kita ini sudah tua, cucu juga sudah umur menikah. Tapi ayy masih saja usil seperti dulu."
"Nanti kalau aku nggak usil kamu bingung loh sayang."
"Ayy ..." Nissa menatap Yusuf agar berhenti menggodanya.
__ADS_1
Yusuf pasrah hanya bisa menghela nafas. "Nggak perlu memikirkan anak itu mau menikah kapan sayang, nanti juga dia pasti menikah kalau memang sudah mendapatkan yang tepat."
"Aku sudah gak sabar ingin menggendong bayi lagi ayy. Mau nimang-nimang anak Amira juga jauh di sana."
"Kalua begitu, apa kita buat bayi sendiri saja sayang," usul ide konyol Yusuf.
"Astagfirullah Ayy..." Pekik Nissa nggak tanggung-tanggung. "Mbuh wes Ayy sak karepe Kono ..."
"Loh mau kemana sayang?" tanya Yusuf ikut beranjak membuntuti Nissa.
"Ayo Ayy, aku temani makan siang dulu. Aku mau ke kantor."
"Mau ngapain ke kantor sayang?"
"Nanti juga ayy tahu."
Nissa langsung keluar dari lift setelah pintu lift khusus terbuka. Sudah sangat jarang Nissa datang ke kantor, apa lagi semenjak semua urusan perusahaan sudah di serahkan sepenuhnya kepada Zen.
Nissa langsung masuk ke dalam ruang kerja suaminya yang sekarang menjadi ruangan Zen. Senyum Nissa langsung mengembang, karena ruangan kerja itu sama sekali tidak di ubah oleh Zen. Serasa Nissa kembali ke masa beberapa tahun yang lalu. Zen hanya menambahkan barang-barang pribadinya di sana.
Nissa langsung meletakkan bekal makan siang di atas meja. Ia langsung menelisik kembali seluruh ruang kerja yang banyak meninggalkan kenangan manis di sana.
Nissa langsung menuju meja kerja. Ia mendaratkan tubuhnya di kursi kerja yang dulu menjadi menjadi tempat duduk suaminya. Nissa tersenyum saat melihat bingkai foto kecil di atas meja. Nampak foto lawas Nissa, Yusuf, Reina, dan Zen yang masih berusia lima tahunan.
__ADS_1
Dreeettt ... dreeettt ...
Nissa seketika terkejut saat mendengar getaran ponsel dari salah satu laci meja kerja Zen. Nissa yang penasaran langsung menarik laci yang menjadi sumber getaran ponsel Zen.
Nissa terkejut saat membuka laci, nampak terdapat dua ponsel dan satu bingkai foto.
"Foto ini?" gumam Nissa sambil melihat foto Zen kecil bersama gadis yang masih balita menggunakan jilbab. Membuat Nissa mengingatkan kembali pertemuannya bersama sepasang suami istri yang memiliki anak kembar.
Nissa langsung melihat dua ponsel yang Zen simpan di dalam laci. Nissa jelas tahu, satu ponsel mahal yang biasanya di gunakan Zen dan satu ponsel lawas yang sudah berumur belasan tahun.
Nissa langsung mengambil ponsel mahal Zen. Nissa jelas terkejut saat melihat layar kunci Zen. "Ruby ..." gumam Nissa, sambil menatap lekat foto kecil Ruby yang nampak tertawa lepas.
Nissa langsung mengusap layar ponsel Zen agar bisa ia gunakan. Nissa melihat layar ponsel Zen yang harus memasukkan empat huruf kata sandi. Dengan cepat Nissa memasukkan sandi yang menurutnya benar. Nissa langsung mengetik Z-A-Y-N.
"Salah," gumam Nissa. "Jangan bilang ..." Dengan cepat Nissa memasukkan nama sandi baru, R-U-B-Y.
Kedua mata Nissa terbelakang lebar saat melihat wallpaper ponsel Zen. "Kyaaa ... anak ku mesum sejak dini." Pekik Nissa terkejut.
Bersambung ...
Hayooo foto apa kira-kira...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1