
Zen merebahkan tubuh Ruby di atas ranjang. Lelaki itu langsung mengunci tubuh Ruby di bawah kendalinya. Menyatukan kembali bibir kenyal yang sudah terasa menebal.
Ruby mengikuti pergerakan Zen yang mencoba mengubah posisi mereka berdua. Membawa tubuh kecil Ruby ke atas tubuh Zen. Meminta Ruby untuk mengambil alih kendali.
Rasanya tangan Zen ingin melucuti penutup terakhir yang masih di gunakan Ruby. Namun akal Zen masih bisa mengingat jelas, kalau dirinya masih wajib berpuasa untuk ke arah situ.
Lenguhan Ruby tertahan saat Zen menggenggam kuat boko*ngnya. Semakin menimbulkan rasa aneh yang semakin menggelora.
Ruby melepaskan bibir Zen. Berpindah mendaratkan kecupan pada rahang lelaki yang terlihat pasrah.
"Byyy ..." Rintih Zen menikmati sentuhan bibir yang terus menyusur.
Ruby tersenyum senang di sela-sela aktifitas bibirnya. Ternyata mendengarkan bibir sang suami melenguh menyebut namanya membuat laju adrenalin Ruby semakin meningkat.
Kini Ruby tahu, Kenapa Zen semakin kuat menja*mah tubuhnya saat dirinya terus melenguhkan nama Zen.
"Coba buat kissmark By," pinta Zen.
Ruby mengangkat wajahnya, menatap kedua mata Zen yang penuh dengan kabut hasrat.
Ruby tersenyum dan menganggukkan. "By coba ya Mas."
Ruby kembali mendaratkan bibirnya di bibir Zen. Hanya sebuah kecupan, karena setelah itu, Ruby kembali menyesapi rahang Zen hingga berpindah ke leher.
Zen terus melenguh menikmati sentuhan dan sesapan yang begitu terasa amatiran. Namun, sama sekali tidak merusak suasana.
Tangan Zen tentu terus berselancar. Demi meningkatkan ga*irah Ruby.
__ADS_1
Detak jantung Zen semakin ingin lompat dari tubuhnya. Merasakan bibir Ruby yang sejak tadi berusaha membuat jejak.
"By, ahhh ..." de*sah nafas Zen semakin kuat saat bibir mungil merah merona milik Ruby semakin bergerak turun hingga sampai ke perut.
Zen rasanya sudah kesulitan bernafas, perutnya terasa kaku. Isi kepala Zen sudah tidak terkontrol lagi, mengira apa yang akan di lakukan Ruby selanjutnya.
Ruby mengangkat wajahnya, menatap Zen yang terlihat sudah tidak sabaran. Ruby tersenyum melihat wajah tegang Zen. Tangan Ruby mengusap perut Zen yang bentuknya seperti roti sobek.
"Nungguin ya?" Masih sempat-sempatnya Ruby mengajak Zen bercanda. Membuat Zen mengangguk pasrah.
Ruby mengedipkan kedua matanya yang memiliki bulu lentik. Menatap pedang samurai yang sepertinya sudah menatapnya tajam. Seolah melambai meminta untuk di asah.
Ruby menghela nafasnya pelan, ingin mundur juga tidak mungkin. Nggak lucu kalau ia mengecewakan suaminya yang nampak menatapnya penuh rasa harapan.
Lidah Ruby membasahi bibirnya. Meyakinkan diri untuk melancarkan rencana yang sudah sangat matang ia susun.
Ruang kamar itu kini mulai di penuhi dengan suara de*sah nafas Zen yang semakin kuat.
Sungguh di luar batas pikiran Zen, saat menerima perlakuan Ruby yang amatiran namun sangat menyenangkan.
Padahal Zen sempat mengira kalau Ruby hanya akan membantunya menjajaki puncak pelepasan dengan menggunakan tangan mungilnya saja.
Namun siapa yang sangka jika bibir yang tadi belajar membuat jejak kemerahan, kini ikut andil melakukan tugasnya.
Entah di mana letak kepolosan Ruby, Zen juga tidak tahu. Tapi yang pasti, Zen sangat menikmati malam ini. Sentuhan tangan yang memberikan pijatan kenik*matan. Sesapan dan gigitan kecil yang Ruby berikan begitu memabukkan seluruh raga Zen.
"By ..." Zen sampai di mabuk kepayang dengan tingkah Ruby sekarang. Merasa langkah Ruby sudah sangat jauh melewati perlakuan yang Zen berikan pada Ruby.
__ADS_1
"Setelah kamu selesai, akan aku buat kamu menggila seperti apa yang kamu lakukan pada ku sekarang By," janji hati Zen sambil terus menahan sesuatu yang ingin keluar. Karena Zen masih ingin menikmati sentuhan yang Ruby berikan.
Zen bangun meraih tubuh Ruby karena sudah tidak tahan menahan rasa desakan yang semakin kuat.
"Jepit By."
Ruby mulai linglung dengan perintah Zen. Mata Ruby berkedip cepat untuk membuka jalan pikirannya yang tiba-tiba buntu.
Hati Ruby penuh tanya, dirinya di suruh menjepit apa. Tapi Ruby mengikuti saja saat Zen menata tubuhnya, sesuai dengan maunya Zen.
Kini Ruby paham saat Zen mulai bekerja sambil menyesap bibir ranumnya.
"Apa seperti ini caranya?" batin Ruby saat pedang tumpul itu menyusup keluar masuk di antara ke dua paha Ruby.
Zen mend*esah kuat sambil menyebut nama Ruby saat inti tubuh Zen mengeluarkan sesuatu di atas perutnya.
"Sebanyak ini? Pantas saja waktu itu sampai keluar-keluar," batin Ruby dengan wajah polosnya menatap perutnya yang di hujani cairan subur penghasil benih berkualitas tinggi.
Zen meraih tissu yang ada di atas nakas, lalu membersihkan perut Ruby. Membuang tissu sembarang arah.
Zen mendaratkan kecupan di kening Ruby. "Terimakasih."
Setelah itu Zen membawa Ruby ke dalam dekapannya. Kaki Zen meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
Bersambung ...
Ruby kuuuu .... Kamu sudah ternoda 😭😭😭 Kamu sama Mas Zen ngapain sebenarnya By 😣😣😣 maaf ya kalau banyak typo🙈🙈😣
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️