Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 90 PANTI ASUHAN


__ADS_3

Pelan-pelan Ruby mencoba melepaskan diri dari dekapan Zen yang sudah mulai merenggang. Nafas Zen sudah teratur, detak jantung Zen juga terdengar normal. Sudah dapat di pastikan Zen sudah lelap terbuai alam mimpi.


Ruby duduk, menatap wajah tenang sang suami. Tangan Ruby mengusap pelan puncak kepala Zen. Kemudian mendaratkan kecupan di kening Zen penuh rasa sayang.


Ruby bergegas turun, memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Setelah memasukkan baju ke keranjang baju kotor, cepat-cepat Ruby memasuki kamar mandi.


Ruby menuju wastafel, perempuan itu mencuci tangan, berkumur, lalu mencuci wajahnya. Tiba-tiba saja perut Ruby merasa mual saat mengingat kelakuannya sendiri. Bisa-bisanya dia bersikap sangat jauh dari sikap polos dan lugunya.


"Kepolosan ku hilang gara-gara Kak Tiara," gumam Ruby sambil menatap pantulan tubuhnya di depan kaca.


Awalnya, Ruby hanya akan menggunakan tangan sesuai poin terakhir yang ia baca. Siapa yang menyangka jika Tiara mengusulkan hal yang lebih ekstrim.


"Apa semua pasangan suami istri melakukan hal seperti yang aku lakukan?" gumam Ruby menilai diri sendiri.


Ruby mengingat kembali bagaimana ekspresi wajah Zen tadi. Senyum Ruby mengembang begitu saja saat mengingat wajah puas Zen.


"Tidak masalah. Rasa mual ku di bayar kontan sama wajah senang Mas Zen."


Ruby segera menyelesaikan apa yang ingin ia lakukan di dalam kamar mandi. Setelah keluar dari sana, Ruby bergegas menuju lemari untuk mengambil piyama. Setelah tubuhnya terbungkus dengan pakaian lengkap, baru Ruby menuju ranjang untuk menyusul mimpi sang suami yang entah sudah sampai mana.


.


.


.


Setelah mengantar Ruby ke kampus, tentu saja Zen harus langsung menuju kantor. Menyelam bersama dengan berbagai pekerjaan yang harus selalu di urus.

__ADS_1


Begitu memasuki ruang kerja, Zen langsung mendaratkan tubuhnya pada kursi kerjanya.


"Hiiisss, nyeriweti meripat, (Mengganggu penglihatan)" Zen menyingkirkan beberapa berkas yang menumpuk di meja kerjanya.


Zen masih enggan bergelut dengan berbagai hal yang menyita waktu. Zen masih ingin hanyut dengan kehidupannya sendiri.


Zen menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Siku tangan Zen mendarat pada lengan kursi. Sedangkan jari tangannya mengusap usap bibir bawahnya sendiri.


Hanyutlah Zen dalam lamunannya sendiri. Senyumnya mengembang menghiasi wajahnya yang selalu ia puji ganteng itu. Dan membayangkan bagaimana perlakuan Ruby semalam.


"Istri ku benar-benar menakjubkan," gumam Zen sambil terus mengusap bibirnya sendiri. Rasanya Zen ingin sekali membalas apa yang di lakukan Ruby padanya.


"Hilangnya kepolosan Ruby, membuatnya semakin pintar," gumam Zen memuji.


Zen semakin hanyut dengan pikirannya sendiri, sampai tidak menyadari berapa lama ia terus membayangkan indahnya kejadian semalam. Hal pertama yang tidak akan pernah Zen lupakan.


"Jadi pengin cepet pulang," gumam Zen.


Ucapan Alan yang tiba-tiba memekik di telinga Zen, membuat Zen kembali sadar dalam kehidupan nyata


"Heh celurut, ngapain masuk nggak ketuk pintu dulu?" tuntut Zen merasa kesal karena bayangan indahnya bubar begitu saja.


"Aku udah ketuk pintu berjuta kali Bos. Aku pikir tadi Pak Bos belum datang, makanya aku masuk paksa. Eh nggak tahunya Pak Bos lagi melamun. Ngelamunin apa sih Bos, masih pagi buta juga."


"Heh meripat, noh udah terang benderang."


"Ya sudah tahu terang, kenapa malah ngelamun?"

__ADS_1


"Makannya Al, nikah. Ada Nabila tuh yang siap kamu nikahi, dari pada menunggu perempuan yang sudah jelas nggak bisa kamu miliki."


.


.


.


"Mau langsung pulang By?" tanya Tiara saat keluar dari kelas.


"Mata kuliah sudah selesai, ya By pulang saja Kak. Pak Amran sudah jemput kakak belum?" mereka tentu saja langsung melangkah menuju parkiran.


"Suami Kakak hari ini keluar kota. Kalau boleh sih Kakak ingin ajak By main ke tempat tinggal Kakak dulu."


"Kakak mau kenalkan By sama orang tua Kakak?" tanya Ruby semangat.


Tiara tersenyum sendu. Namun, kepala Tiara mengangguk


"Kalau begitu, By izin suami By dulu ya Kak. Eh itu mbak Nina sudah jemput."


Zen tentu saja memberikan izin saat Ruby akan bepergian bersama Tiara dan yang mengantar mereka berdua adalah Nina. Zen tidak ingin egois walau sebenarnya ia sangat khawatir saat ini. Zen tidak ingin Ruby terkekang dengan sikap posesifnya.


Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang di kendari Nina sudah memasuki halaman alamat tujuan.


Ruby mengedarkan pandangannya setelah keluar dari mobil. "Panti asuhan?" gumamnya.


"Iya, panti asuhan By. Kakak dulu pernah tinggal di sini beberapa tahun," Tiara tersenyum melihat Ruby. "Kakak nggak punya orang tua By."

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2