
Arjuno dan Zantisya tentu menceritakan semua hal yang terjadi, bagaimana Ruby akhirnya menerima lamaran Zen.
Dua pasang suami istri itu terus bercengkerama, menceritakan bagaimana anak-anak mereka semasa kecil.
"Maira ..." Ucap Nissa saat melihat Ruby kembali ke ruang tamu.
Zantisya langsung menoleh, melihat anak gadisnya yang mulai mendekat.
"Jadi Maira ini Ruby?" tanya Nissa belum percaya.
"Betul Bu Nissa. Pasti Queen ya yang menyebutnya Maira?"
Nissa mengangguk. "Sini nak." Nissa menggeser posisi duduknya agar Ruby duduk di antara dirinya dan Yusuf.
Tentu saja Ruby menurut setelah mendapatkan anggukkan kepala dari Arjuno.
"Mubazir Zen, Zen. Jauh-jauh datang dari Jakarta ke Malang tapi kamu nggak berani lihat gadis yang kamu suka selama ini," batin Yusuf.
Sepenuhnya Yusuf bangga pada anak laki-lakinya itu. Sudah berani datang seorang diri menemui orang tua gadis yang membuat Zen jomblo selama ini.
"Ya Allah cantiknya," puji Nissa sambil menyentuh dagu Ruby.
"Oma lebih cantik. The real is vampir di dunia nyata. By kira hanya di drama Korea saja ada vampir awet muda," tutur Ruby si korban drakor.
Nissa malah terkekeh mendengar ucapan Ruby. Sedangkan Yusuf malah melongo kebingungan karena sang istri di sebut vampir. Mana bawa-bawa negara tetangga lagi, kan Yusuf jadi nggak paham.
__ADS_1
"Ruby nggak boleh bicara seperti itu nak," peringatan Arjuno.
"Nggak apa-apa pak."
"Memangnya di Korea ada vampir By?" tanya Yusuf penasaran.
"Di drama Korea kan banyak cerita tentang Vampir yang awet muda meski usianya ratusan tahun, Opa."
Yusuf mengangguk. "Rahasianya apa kok bisa tetap awet muda?" Yusuf semakin ingin tahu.
"Opa ingin tahu?" tanya Ruby serius. Tentu saja Yusuf langsung mengangguk. "Karena vampir menghisap darah manusia."
Zantisya dan Arjuno yang sudah tahu seluk beluk drama kesukaan anaknya itu, tentu saja langsung terkekeh geli. Apa lagi saat melihat wajah Yusuf yang terkejut.
"Ruby panggilnya Om dan Tante nak," ucap Arjuno. Aneh sekali, calon mertua di panggil Opa dan Oma.
"Tidak apa-apa pak Arjuno." ucap Yusuf.
Pembicaraan pun berlanjut di antara mereka, tanpa memberi tahu Ruby bahwa Yusuf dan Nissa adalah orang tua lelaki yang lamarannya telah di terima oleh Ruby.
.
.
.
__ADS_1
Dua bulan telah berlalu, hari ini halaman rumah Reina dan Hendri sudah di hias sedemikian rupa. Nanti, sekitar jam tujuh malam. Di rumah ini akan di adakan acara syukuran bertambahnya umur Queen. Acara yang hanya akan di datangi oleh teman-teman Queen.
"Om sudah janji mau pulang saat ulang tahun Queen," rengek Queen manja dan merasa kecewa. Karena Zen yang ada di seberang sana tidak bisa datang tepat waktu di acara syukuran hari kelahiran Queen yang ke delapan belas tahun.
"Maaf ya sayang. Mau bagaimana lagi coba? Om benar-benar harus menyelesaikan pekerjaan Om sekarang juga, Queen. Om janji pasti pulang ke Malang, hanya saja tidak tepat waktu seperti janji Om sebelumnya." Zen berusaha menjelaskan sejak tadi, agar keponakannya ini mengerti.
"Ok. Om nggak apa-apa nggak ikut langsung acara syukuran ulang tahun Queen. Tapi, om harus pulang ke Malang begitu pekerjaan Om selesai, titik."
"Baik sayang. Om janji ok," Zen tersenyum melihat wajah Queen yang cemberut di layar ponselnya. "Kalau nggak senyum Om nggak ke Malang nih ya," ancam Zen.
"Hehehe ... dengan terpaksa Queen tersenyum."
"Nah kalau senyum begitu kan cantik," puji Zen. Membuat Queen tersenyum senang. "Sudah dulu ya sayang, masih banyak pekerjaan yang harus Om selesaikan."
"Ok. Miss you Om."
"Miss you too."
Bersambung ...
Ada yang bisa nebak bagaimana Ruby dan Zen bertemu 🤣🤣🤣
Selamat istirahat dan semoga mimpi indah 💋
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1