Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 99 PILIHAN OM YANG TERBAIK


__ADS_3

Dua mobil yang menjemput anak dan cucu Yusuf dan Nissa, sudah memasuki halaman rumah.


Yusuf dan Nissa yang sejak tadi duduk di ruang tamu, keduanya langsung beranjak saat mendengar suara mobil.


"Itu pasti cucu kita, Ayy."


Dengan wajah yang nampak senang, Nissa menarik tangan Yusuf untuk melangkah cepat menuju teras rumah.


"Assalamualaikum ..." salam dari semua orang yang baru saja keluar dari mobil.


"Waalaikumsalam ..." jawab Nissa dan Yusuf.


"Omaaa ..." teriak Divya. Si cucu pertamanya yang sangat dekat dengan Nissa.


"Opaaa ..." teriak Queen. Si cucu bungsu yang super manja dengan Yusuf.


Dua anak gadis milik Hendri dan Reina itu lari menaiki anak tangga dan langsung menghambur ke pelukan Nissa dan Yusuf.


"Divya kangen Oma," ucapnya manja.


"Oma juga kangen sama Vya sama yang lain juga."


Semua orang bergantian saling bersalaman. Reina si perempuan manja dengan Nissa tentu saja sikapnya masih sama, padahal umur sudah tidak lagi muda.


Yusuf dan Nissa memeluk Alvian bersamaan. Mengucapkan selamat dan mengungkapkan rasa rindu, karena sudah lama tidak bertemu.


Yusuf mengajak semuanya masuk ke dalam rumah. Bermanja-manja kok di teras rkumah, kan nggak enak.


"Kamar kalian sudah sudah di bersihkan, ayo pada bebersih dulu, istirahat dulu, kalau lapar Oma kalian sudah memasakkan banyak menu spesial," tutur Yusuf.


"Kami istirahat saja dulu Nda, Ayah." ucap Reina.


Rasa bahagian terpancar di wajah Yusuf dan Nissa, melihat anak dan cucunya menuju lift untuk menuju kamar masing-masing.


"Beberapa hari ke depan, rumah kita akan ramai Ayy."


"He'em. Kamu senang?"

__ADS_1


"Banget."


"Anak sama cucu sudah pada datang dan mau istirahat. Jadi sekarang sayang juga harus istirahat."


Nissa menurut. Karena tadi ia sudah janji akan tidur saat semua orang yang di rindukan sudah sampai rumah.


.


.


.


Zen melihat kamar yang akan menjadi tempatnya bermalam bersama Ruby saat acara pesta telah selesai.


Para pegawai sedang menata semuanya sesuai dengan kemauan Zen. Agar ruang kamar itu, berkesan romantis.


"Setelah ini kita harus bulan madu," batin Zen sambil menelisik ruangan kamar itu. Senyum Zen menghiasi wajahnya. Membayangkan bagaimana malam mereka nanti setelah Ruby, Zen perkenalkan secara resmi.


"Impian pernikahan ku untuk kita sudah gagal total. Setidaknya, acara ini bisa buat kamu bahagia, By."


Zen mengambil ponsel di saku celananya. "Tuh kan baru juga di batinin, eeehhh sekarang telepon," gumamnya. "Yes sayang."


"Loh, sayang ke kantor? Tadi katanya setelah selesai kuliah mau pulang ke apartemen," Zen bergegas keluar dari kamar hotel, dan bergegas menuju lift.


"Mas nggak seneng ya, By datang ke kantor?"


"Seneng dong Ruby ku. Seneng banget malah. Tunggu aku sebentar saja ya, setelah ini kita akan bersenang-senang."


Mendengar kata bersenang-senang, membuat kejengkelan Ruby seketika hilang. "Mas mau ajak By kemana?" tanyanya semangat.


"Ke pulau By. Sudah ya, aku mau nyetir dulu."


"He'em. Hati-hati ya Mas, By tunggu."


"Siap sayaaanggg."


.

__ADS_1


.


.


Hari sudah semakin sore. Setelah membersihkan diri, Nissa bergegas keluar dari kamar. Tidak ada satupun anak cucunya yang terlihat. Nissa pikir, semuanya masih lelah dan butuh beristirahat lebih lama.


Nissa memilih jalan menuju halaman belakang. Melihat indahnya tumbuhan bunga, pasti akan sangat menyegarkan.


"Vian," gumam Nissa saat melihat cucunya duduk di kursi sambil menunduk melihat sesuatu.


Nissa kembali melangkah mendekati Vian yang nampak terbuai dengan lamunannya.


Nissa terkejut, karena ternyata Vian sedang menatap benda mungil yang seharusnya melingkar di jari.


"Apa itu untuk pacar Vian?"


Mendengar pertanyaan Nissa secara tiba-tiba, membuat Vian sadar dari lamunannya. Spontan tangan Vian menutup tempat cincin berbentuk hati.


"Eh Oma?" Vian sampai gelagapan. "Vian nggak punya pacar Oma."


Nissa ikut duduk di samping Vian. "Lalu, cincin itu?"


Vian kembali membuka tempat cincin untuk di perlihatkan ke Nissa. "Cantik kan Oma?"


Nissa mengamati cincin yang di sodorkan Vian. "Cantik."


"Ini pilihan Om Zen."


"Kenapa kamu selalu mengikuti selera Om kamu, Vian." Nissa mengacak-acak rambut Vian karena gemas.


"Karena apapun yang di pilih Om, itu adalah yang terbaik Oma."


"Tapi kamu nggak mengikuti selera gadis seperti Om nya Vian juga kan?"


"Ya enggak lah Oma. Kalau masalah gadis, Vian sudah ada dan cukup lama Vian suka sama dia."


"Seperti apa gadis yang Vian suka?" tanya Nissa antusias dan menjadi sangat penasaran.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2