
"Enak juga kuliah satu kampus dengan Safir," ucap Queen setelah menceritakan banyak hal pada Ruby.
"Enaknya?"
"Berasa kayak punya sopir pribadi. Padahal aku pikir setelah kamu pindah ke Jakarta, Safir si es batu itu nggak akan mau berteman dengan aku lagi. Siapa yang menyangka kalau dia nggak bolehin aku naik taksi seorang diri."
"Sekalipun dia pendiam, dia itu perhatian sama orang terdekatnya. Yakin aku, pasti di kampus dia nggak punya teman dekat selain kamu."
"Sepertinya begitu," Queen mengangguk setuju. "Sampai para gadis yang suka sama Safir, Mengira aku pacaran sama Safir. Bisa-bisanya mereka marah-marah nggak jelas sama aku," ucap Queen terdengar kesal.
Ruby tersenyum melihat ekspresi wajah Queen. "Kamu suka sama Safir?"
"Eh. Ma-mana mungkin aku suka sama Safir. Itu hanya akan merusak hubungan persahabatan," jawab Queen tergagap.
"Tapi sepertinya, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Karena salah satu atau keduanya saling memendam perasaan. Mereka saling diam tidak ingin mengungkapkan karena takut hubungan persahabatan mereka hancur."
"Tapi aku nggak punya perasaan atau pun cinta sama Safir, Mai. Kami hanya bersahabat kok."
Ruby hanya tersenyum melihat wajah Queen yang mulai panik, karena merasa terjebak dengan penjabaran Ruby barusan.
"Tidur yuk. Sudah malam ini. Besok aku ada jam kuliah pagi."
Walaupun Ruby sudah hanyut dalam mimpi, tapi kedua mata Queen tetap tidak bisa terpejam.
Queen tetep terjaga dengan pemikirannya sendiri. "Apa aku benar-benar suka dengan Safir?" batin Queen sambil meraba dadanya. Dimana tangannya bisa merasakan detak jantung yang semakin cepat.
Tidak ingin kalut dengan perasaan yang belum pasti, Queen memilih segera tidur. Mengejar mimpi Ruby yang entah sudah sampai mana.
Ruby menggeliatkan tubuhnya pelan, membuka kedua matanya pelan-pelan. Tiba-tiba saja Ruby merasa sangat haus.
"Masih jam 1," gumam Ruby saat melihat jam di ponselnya. Ruby melihat Queen yang tidur dengan lelap. Tangan Ruby menaikkan selimut Queen sampai sebatas dada.
__ADS_1
Ruby langsung turun dan menuju dispenser. "Loh, ini dispensernya mati?" gumam Ruby.
Begitu melihat meja, tidak ada air minum yang tersedia disana. Ruby menyambar jilbab yang ia gantung dan bergegas keluar dari kamar Queen. Memasuki lift untuk turun menuju kamarnya.
Ruby membuka kamarnya pelan-pelan karena takut mengganggu tidur nyenyak sang suami.
"Ck. ini kok air minum juga habis sih," gerutu Ruby karena air di dalam kamarnya juga habis.
Ruby melihat sekilas Zen yang nyenyak di atas ranjang. Karena merasa sangat haus, Ruby bergegas keluar kamar untuk turun ke lantai bawah.
***
Sejak tadi, Vian berdiri tidak jauh dari kolam renang. Membiarkan tubuh tegapnya di terpa angin malam.
Rasanya sangat menyesakkan, karena sejak tadi kedua mata Vian terus menatap cincin yang niatnya akan Vian berikan pada Ruby.
"Kenapa sejak dulu apa yang Om miliki, itu juga yang aku sukai?"
"Apa kalau aku meminta Maira, Om juga akan memberikannya?" gumam Vian. Pikirannya semakin merajalela, melayang kemana-mana.
Merasa puas dengan terpaan angin malam yang menyejukkan. Vian menutup tempat cincin dan bergegas masuk ke dalam rumah.
"Maira," gumam Vian saat melihat Ruby yang sedang menuju ruang makan.
Vian terdiam sejenak, mengumpulkan tekat untuk menemui Ruby. Mungkin saja di keheningan malam seperti ini, Ruby mau di ajak bicara dan mendengarkan apa yang ingin Vian utarakan.
Baru saja kaki Vian hendak melangkah menghampiri Ruby. Kaki Vian terhenti karena melihat Zen berlarian kecil menuju ruang makan.
Apa yang di lakukan Vian, selain menyaksikan pemandangan yang semakin membakar hatinya karena merasa iri.
"Sayang," Zen mendaratkan kecupan di pipi Ruby saat sang istri sedang meneguk air minum.
__ADS_1
"Loh Mas ke bangun?"
"He'em," Zen merebut gelas Ruby yang masih terdapat air minumnya. Meneguk hingga tandas karena Zen pun merasa haus. "Aku tadi kebangun saat kamu mau keluar kamar, yang."
"Maaf, By pasti ganggu Mas tidur ya?"
"Nggak apa-apa, ini namanya berkah ples ples," Zen mengedipkan satu matanya.
"Mas ini ya, selalu saja cari kesempatan di setiap kesempatan," Ruby menarik pipi Zen lalu beranjak dari tempat duduknya. "Bawa galon Mas, By nggak mau kehausan lagi."
Dengan cepat Zen mengambil botol air minum di dalam kulkas, lalu mengejar Ruby yang sudah menuju lift.
"Mas," pekik Ruby pelan. "Jangan asal gendong By dong. Ini bukan apartemen. Gimana kalau ada yang lihat?"
Kaki Zen terus melangkah menuju lift. Ruby yang bertugas menekan tombol lift.
"Ini sudah tengah malam sayang. Nggak akan ada yang lihat."
Jelas tidak ada yang tahu jika keromantisan pasangan suami istri itu, di saksikan secara gamblang oleh lelaki yang kini hanya bisa diam membisu.
Tanpa sadar kaki Vian lari cepat menaiki anak tangga. Seolah sedang mencari sendiri penyakit untuk hatinya sendiri. Hati yang sudah patah sebelum mengungkapkan seluruh perasaannya pada gadis pujaan hatinya.
Di ujung tangga, Vian hanya diam terpaku saat melihat Zen keluar dari dalam lift. Lelaki itu hanya bisa menundukkan wajahnya, karena Zen masih tetap menggendong Ruby, dan mereka saling berciuman.
"Bodoh kamu Vian. Kenapa kamu selalu kalah langkah dari Om kamu," ucapnya pelan.
"Kita solat malam dulu sayang," ucap Zen setelah mereka masuk ke dalam kamar.
Ruby tersenyum dan menganggukkan. " Iya, kita solat dulu, Mas."
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️