ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 100 MAKAM IBU KANDUNG


__ADS_3

Dari awal perjalanan menuju makam, ia sudah merasa curiga. Jalan yang mereka lewati benar-benar berbeda dari jalan yang biasa ia lewati menuju makam ibunya.


"Ayah, kenapa kesini? Makam ibu bukan di sini!" Son ingin beranjak pergi tapi Math menahannya. Math sengaja membawa Son untuk satu mobil dengannya. Sedangkan Sania dan Luzi dalam satu mobil yang berbeda.


Mobil yang istri mereka tumpangi akhirnya sampai bersamaan dengan mobil milik Rico dan Keyla.


"Ayah, kita mau mengunjungi makam siapa di sini?" tanya Son lagi. Tangannya masih dipegangi Math dengan erat.


Math sedang berpikir, bagaimana caranya mengatakannya pada Son.


"Ayo ikut Ayah dulu," ajaknya tanpa melepaskan pegangan tangannya. Dia menarik Son agar melangkah lebih cepat, karna hari ini ada banyak makam yang harus mereka kunjungi.


"Son, mungkin ini sangat terlambat untuk kau tahu. Tapi sepertinya ini waktu yang tepat. Ini adalah makam ibunya Rico. Ibu kandung Rico yang bernama Renata."


Son menatap lekat batu nisan dengan bertuliskan nama Renata yang terukir indah itu. Rico datang, dia membawa buket bunga dan diletakkan di atas makam itu.


"Ayah, Son tidak mengerti," jawabnya dengan wajah terheran-heran.


Math menyentuh pundaknya dan menepuknya pelan. "Renata adalah istri pertama Ayah. Dan dia melahirkan seorang bayi laki-laki dan bayi itu adalah kakakmu Rico. Ibu kandung Rico adalah ibu Renata bukan ibu Luzi." Dia baru tersadar akan ucapan Sania beberapa waktu yang lalu.


"Kak Darien dan kak Rico juga bukan anak kandung ibu. Tapi mereka juga peduli."


Ucapan Sania pada saat itu memang mengganjal di pikirannya. Tapi Son yang memiliki sikap cuek, tak terlalu memperdulikannya. Tapi kini sang ayah lah yang mengatakan sebuah kenyataan.


"Ayah!" Son menepis tangan ayahnya dari pundaknya. Menatapnya dengan kekecewaan. "Jadi, Ayah telah mengkhianati ibu berkali-kali!" ujarnya dengan suasana hati mendadak buruk setelah mendengar kenyataan itu.


"Son ...." Math mengejar langkah Son yang berlari jauh meninggalkan pemakaman. Di sisi lain Sania dan Luzi saling pandang, tapi Sania akhirnya memilih mengejar suaminya.


"Son, tunggu Ayah! Ada satu hal lagi yang belum Ayah katakan! Tentang ibu kandung Darien!" teriaknya dengan suara hampir hilang. Langkah putranya berhenti, menoleh ke belakang dengan pandangan lebih dari rasa kecewa.


"Son benar-benar tidak habis pikir dengan Ayah! Ayah jahat!" Dia benar-benar kecewa hari ini. Bahkan bisa dibilang ini adalah hari yang buruk.

__ADS_1


"Son, tunggu ...." Suara lembut dari istrinya membuatnya menoleh.


"Apa yang kau tahu lagi tentang keluargaku?" tanyanya. Rasa kecewanya bahkan tak bisa ia ungkapkan. Bahkan istrinya terkena imbasnya dari moodnya yang buruk.


"Maksudmu?" Sania menyentuh lengannya tapi ditepis kasar olehnya. Ternyata orang-orang terdekat menyimpan banyak rahasia tentang keluarganya. Dan tak ada yang memberitahunya dari dulu.


"Kau tahu tentang ibu kandung kakak ipar mu. Tapi kenapa kau hanya diam tanpa memberitahuku?" Sania kini terdiam, dia bahkan tak tahu apa-apa. la kira Son sudah tahu semuanya.


Rico dan Keyla yang sedang membersihkan makam terganggu perhatian tentang Son yang tiba-tiba pergi.


"Kenapa Son seolah-olah tidak tahu tentang ibu kandungmu? Apa dia benar-benar tidak tahu?" tanya Keyla yang tak bisa menjangkau Son yang sudah berlari jauh.


Rico menggeleng. Dia juga tidak tahu kalau ibu Luzi bukan ibu kandungnya. Tapi pada saat yang tepat Luzi memberitahunya.


"Kenapa tidak tahu? Apa semua ini sengaja dirahasiakan?"


Rico tak menjawab, dia menatap makam ibunya dengan segala kerinduan. Dia hanya bisa menatap fotonya setiap waktu tanpa ada kesempatan untuk menyentuhnya.


"Hey, kau mau kemana?" teriaknya dengan napas tersengal-sengal.


Jalanan yang begitu sunyi. Hanya ada pohon-pohon tinggi dipinggir jalan. Tiba-tiba dari arah belakang, sebuah mobil mewah melaju menuju arahnya.


"Son, masuk lah! Kau mau pulang dengan jalan kaki?" Ternyata Math yang ada di dalam mobil. Son yang keras kepala, masih saja berjalan santai. Tak menghiraukan bujukannya.


"Son berhenti! Ayah belum menjelaskan sesuatu lagi padamu. Tolong dengarkan dulu. Biar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita." Math mengalah untuk turun dari mobil, menemani langkah putranya.


"Terserah kau mau mendengarkan atau tidak. Tapi beri kesempatan Ayah untuk menjelaskan semuanya. Dan yang perlu kau tahu, Luzi adalah salah satu korban Ayah."


Math menjelaskan tentang silsilah keluarganya. Tentang Rico dan Darien yang memiliki ibu kandung yang berbeda. Dan tentang alasan Math menikahi mereka semua.


"Apa sekarang kau mengerti?" tanya Math setelah bicara panjang lebar.

__ADS_1


Butuh waktu untuk Son menerima kenyataan semua ini. Dia benar-benar tidak bisa berpikir sekarang. Kenyataan yang membuatnya terkejut setengah mati.


"Dan Darien juga sama. Dia memiliki seorang ibu yang sudah meninggal juga. Ibunya Darien adalah istri ketiga Ayah."


Apa maksudnya ini lagi? Kenapa banyak hal yang belum ia ketahui selama ini. Tega-teganya ayahnya menyembunyikan rahasia ini bertahun-tahun.


"Son, ini semua salah Ayah. Bukan salah ibu Luzi. Ayah ingin hubungan kalian membaik seperti dulu."


Kakinya serasa lemas, membuat ia tak kuat berdiri lama. Tiba-tiba dia terduduk di atas aspal dan menatap langit yang silau.


"Aku tak ingin mengetahui semuanya jika itu menyakitkan!" Son ingin beranjak bangun, tapi dia benar-benar tak kuat. "Aku ingin ke makam ibu."


Walaupun sosok Angela jarang di rumah, dan jarang menemaninya bermain tapi dia sangat menyayanginya. Hampir setiap saat dia memberikan hadiah untuk Son. Son kecil sangat kegirangan saat melihat ibunya pulang. Dia akan loncat-loncat kecil sambil bergandengan dengan Luzi.


Dulu rasa sayang kepada Angela dan Luzi adalah sama. ia tak pernah membedakannya.


Dari kejauhan dia melihat Sania yang berjalan menuju tempatnya duduk.


"Lihatlah, Son. Dia benar-benar istri yang pengertian." Sania bahkan tak segan-segan berlari agar cepat sampai.


Bayangan manis itu masih terukir indah di dalam kepalanya. Tiba-tiba dia teringat dengan istrinya. Kemana istrinya?


Sania ternyata sedang duduk di pinggir jalan. Hanya ditemani angin yang lewat.


"Jika kau ingin marah, berarti orang yang tepat untuk kau marahi adalah Ayah. Ayah yang telah sengaja menutupi semua." Bahkan sampai Angela meninggal pun belum sempat ia beritahu semuanya.


"Lalu untuk ibu yang belum mengetahui yang sebenarnya, bagaimana? Apa Ayah ingin tanggung jawab! Ibu pasti sedih terus di sana."


Math bagai tertampar. Dulu ia terlalu pengecut untuk memberitahu yang sebenarnya. Dia takut kalau Son akan pergi. Tak sanggup ia kehilangan sosok putra terakhir.


"Ayah benar-benar mengecewakanku!"

__ADS_1


"Maafkan Ayah Son. Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu juga semuanya."


__ADS_2