
Wanita berumur 24 tahun yang kini sedang dirias oleh seorang perias handal, tak kunjung melunturkan senyumannya. Dia Maria, wanita yang tahun ini genap berumur 24. Di usianya yang sudah matang, dia dengan senang hati menerima pinangan dari seseorang yang sudah lama ia sukai.
Raul menghampiri putrinya dan mengusap bahunya pelan. Tak terasa putri satu-satunya akan menjadi milik orang lain. Dari kecil ia didik dan rawat hingga Maria kini sudah mandiri. Bekerja disalah satu perusahaan di kota tanpa bantuan siapa pun.
"Maria—" Raul tak bisa melanjutkan kata-katanya, setiap memanggil namanya hatinya tersentuh. Mungkin nanti di rumahnya tak lagi ada Maria. Dia akan tinggal bersama suaminya.
"Ayah, Maria masih di sini. Ini hanya acara pertunangan bukan pernikahan. Ayah jangan sedih seperti ini," ujarnya sambil memeluk ayahnya yang memalingkan wajah sedihnya.
Momen ini yang Maria tunggu-tunggu dari dulu. Dia ingin menjalin hubungan serius dengan seorang pria.
"Tuan, Nona, keluarga dari tuan Jeffry sudah datang." Pak Mail datang dan mengatakan bahwa keluarga dari calon tunangannya sudah sampai.
.
.
.
Sedangkan ditempat lain, Sania begitu kesal dengan suaminya yang sekarang entah kenapa sangat lambat sekali. Sudah tahu kalau acara pertunangan Maria akan diadakan jam 9 pagi. Tapi sudah setengah 9 mereka belum juga jalan. Padahal jaraknya lumayan jauh.
"Kenapa lama sekali!" Sania memarahi suaminya yang baru keluar dari rumah. Padahal sedari tadi Sania sudah duduk di dalam mobil. "Lalu kenapa kau tidak memakai baju yang aku pilihkan?" Padahal Sania sengaja memilihkan pakaian dengan warna senada, tapi Son malah memilih warna lain.
"Warnanya terlalu gelap, sayang. Warna navy aku tidak suka. Bagus ini? Lihatlah, warnanya cerah bikin orang semangat," ujarnya sambil menaikkan alis.
Sania tak menghiraukannya. Dia sudah memakai dress bunga berwarna navy, karna ingin kembaran dengan suaminya. Tapi Son malah menggantinya dengan sengaja.
Selama dalam perjalanan Sania hanya diam. Padahal Son tak berhenti bercerita sambil membayangkan calon anaknya yang nanti akan berjenis kelamin perempuan atau laki-laki.
"Bagaimana sayang, kau mau perempuan atau laki-laki?"
Sania diam, dia mengalihkan pandangannya pada luar jendela mobil. Tak mau melihat wajah Son yang menyebalkan.
"Sayang, kenapa diam?" tanyanya seraya menatap wajah istrinya dari samping. "Eh, Pak berhenti. Tolong berhenti." Tiba-tiba Son menyuruh Pak Sopir untuk berhenti. Sania yang penasaran langsung menoleh.
"Mau kemana?" tanya Sania dengan nada kurang suka.
__ADS_1
"Bentar, sayang. Aku mau beli itu dulu," jawabnya dan langsung turun.
"Kita sudah terlambat!" seru Sania tapi Son sepertinya tidak dengar.
Sania yang kesal lalu punya ide. "Pak jalan saja!" perintahnya membuat Pak Sopir kebingungan.
"Tapi tuan Son—"
"Pak, jalan saja! Apa Bapak mau saya turun dan mencari taxi? Apa Bapak tega? Saya sedang hamil ini!" ancamnya kemudian.
Pak Sopir tak punya pilihan selain menuruti permintaan majikannya yang sedang hamil. Lalu Pak Sopir diam-diam mengirimkan pesan pada Sopir lain di rumah untuk menjemput Son di sini.
"Maaf, Tuan. Saya tinggal."
Son yang sedang asyik memilih aneka jajanan yang dibentuk mirip sate tak sadar bahwa mobilnya sudah menghilang. Lalu pedagang yang menyadari mencoba memberitahu.
"Hey!" Son berusaha mengejar tapi mobil sudah jalan jauh. "Sayang! Kenapa aku ditinggal!" Son pun bingung akhirnya.
"Tuan jangan pergi! Ini belum dibayar!" teriak pedagang tadi. Son akhirnya kembali ke tempat penjual tadi. Jika sudah begini selera makannya sudah hilang. Dia berusaha menelpon Sania tapi tak kunjung diangkat.
"Hallo Tuan, posisi Tuan sekarang ada di mana? Saya akan kesana sekarang."
.
.
.
Semua keluarga Jeffry sudah berkumpul semua. Tapi sayang sekali dari pihak Maria hanya ada Raul dan Pak Mail juga beberapa teman Maria saja. Sania dan Son belum juga datang, padahal jauh-jauh hari Raul sudah mengundang mereka.
Sebuah mobil mewah berhenti di pinggir jalan. Karna halaman rumah Maria tak cukup untuk parkir mobil lagi.
"Aduh, tuh kan acaranya sudah dimulai!" Sania akhirnya berjalan memutar, dia akan lewat pintu belakang. Ini semua gara-gara suaminya yang lambat. Sudah lambat pake ada acara berhenti dulu untuk beli makanan lagi.
Sania hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh suaminya akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Pak Mail ...." panggilnya lirih saat pria tua itu sedang menata makanan di atas nampan. Sania langsung membantunya juga beberapa teman Maria saling bahu membahu membantu untuk menyiapkan segala sesuatunya.
"Sania, Paman pikir kau tidak datang." Raul memergoki Sania yang ternyata sudah berada di dapur.
"Maaf, Paman. Sania terlambat tadi lewat pintu belakang." Raul pun memaklumi dia mengatakan tidak apa-apa, sudah mau datang dia juga merasa senang.
Maria keluar dari kamar dengan dandanan cantiknya. Memakai kebaya berwarna soft pink dengan hiasan mahkota kecil di rambutnya.
"Sania ...." Maria memanggilnya dan menyuruhnya untuk menemani dirinya bertemu dengan calon tunangannya.
Sania menggandeng Maria berjalan anggun ke ruang yang sudah didekorasi untuk acara pertunangan.
Jeffry juga terlihat gagah dengan kemeja batik dengan warna senada dengan Maria. Tak menyangka bahwa Jeffry yang awal mulanya adalah teman satu kerjaan Sania, kini akan menjadi sepupu iparnya.
Acara yang berlangsung hari ini berjalan sesuai ekspektasi. Dan juga mereka berunding tentang kapan akan dilangsungkan pernikahan. Lalu kedua belah pihak sepakat untuk dua bulan lagi melangsungkan pernikahan. Karna mengingat usia dan juga kesiapan keduanya yang sudah matang.
"Sania, dimana suamimu?" Sania baru teringat akan Son, suaminya itu masih ada di sana atau sudah pulang. Karna hingga acara selesai suaminya tak kunjung datang kemari.
Roti yang baru ia makan setengah ditinggalkan begitu saja. Dia berlari mengambil tasnya yang ada di kamar. Banyak panggilan terjawab juga puluhan pesan masuk.
"Aku tidak akan pulang sebelum kau menjemput ku!"
Itulah pesan terakhir yang suaminya kirimkan padanya.
"Aneh sekali! Apa di sana tidak ada taxi? Sopir juga banyak di rumah," gerutunya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Sania lalu pamit untuk pulang.
"Pak, kita ke tempat tadi. Suamiku masih ada di sana," ujarnya dengan nada kesal. Ia pikir suaminya ini akan menyusulnya kesini, tapi pria itu malah merajuk karna ditinggalkan dirinya. Bukannya dia yang sedang merajuk, kini Son ikut-ikutan.
"Loh, tuan Son masih di sana? Padahal saya sudah memberitahu sopir di rumah untuk menjemput tuan Son, Nona," kata Pak Sopir merasa kebingungan.
"Lalu, ada sopir yang menjemput suami saya, Pak?" tanyanya.
Pak Sopir langsung menghubungi sopir di rumah. Ingin menanyakannya apakah sudah menjemput majikannya atau belum.
"Kata sopir di rumah, tuan Son mengatakan akan pulang sendiri, Nona."
__ADS_1
"Dasar anak kecil!" gerutunya.