
Rasa bosan menghantui dirinya saat ini. Juga rasa lapar yang tiba-tiba menyapa perutnya yang datar. Dia lapar. Dia tidak sarapan terlebih dahulu karna lebih memilih mengejar suaminya yang akan pergi dengan wanita itu. Sania tidak rela, dia harus ikut. Walaupun kini percuma saja, dia berdiam diri di dalam mobil. Tidak dapat melihat pergerakan keduanya di dalam sana.
"Ah kenapa tadi aku tidak ikut saja!" sesalnya kemudian. Dia berniat untuk menyusul sang suami, tapi saat dia baru saja turun dari mobil dia melihat Ayah mertuanya berjalan ke arahnya.
Sania pun mengembangkan senyumnya. Dan dia tiba-tiba teringat dengan satu hal.
"Ayah, apa kabar?" tanyanya dengan lembut. Sosok Math benar-benar idaman. Dia menjadi Ayah yang baik juga sosok mertua yang penyayang.
"Baik, Sania. Bagaimana kabarmu? Apakah kau masih nyaman berada di sisi, Son?" Math berusaha menggodanya dengan senyuman menyungging. Walaupun sebenarnya dia takut, takut jika gadis di depannya ini menginginkan pergi lagi dari sisi putranya. Dia hanya ingin Sania, hanya Sania yang dia inginkan berada di sisi Son selamanya.
"Kabar Sania baik, Yah. Dan Sania mau mengucapkan terima kasih atas bantuan Ayah untuk paman Raul. Sania benar-benar tidak enak telah merepotkan ayah terus menerus." Walaupun hal yang dilakukan Math saat ini ibarat hal yang kecil, tapi bagi Sania itu sangat berharga. Math memang memiliki kekayaan yang tidak terhingga, membeli rumah seperti milik Paman Raul tidak lah memberatkannya sekali pun.
"Sudah semestinya. Kau sudah menjadi bagian keluarga Ayah. Ayah menyayangimu selayaknya seorang ayah menyayangi putrinya. Ayah hanya ingin berpesan, tetap lah di sisi Son. Ayah percaya padamu, Sania." Tak mengerti mengapa Math begitu mempercayai Sania. Gadis ingusan itu bukan kah hanya lah gadis biasa? Tak ada bakat, tak ada kelebihan bahkan Sania sebenarnya adalah gadis yang sangat ceroboh. Dia sering melakukan kesalahan yang konyol.
Percakapan antara Math dan Sania sudah berakhir. Tapi gadis itu masih saja berdiri di tempat yang sama. Sedangkan Math, ayah mertuanya telah pergi sedari tadi. Gadis itu menengadahkan kepalanya ke langit. Melihat matahari yang menyilaukan matanya. Banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Sang Pencipta.
"Tuhan? Kenapa aku masih di sini? Sedangkan kedua orang yang aku sayang, kau ambil secara bersamaan?"
Ingin rasanya menangis, menjerit dan juga teriak sekencang-kencangnya. Dia rapuh, dia gadis 18 tahun yang masih butuh perhatian. Dia ingin seperti gadis pada umumnya di luar sana.
Seketika kedua kakinya lemas, dia terjatuh ke tanah.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" Sang Sopir segera membantu Sania berdiri. Kedua matanya terpejam, tapi air matanya berhasil merembas di sela-sela bulu matanya yang indah. "Nona menangis?" Pak Sopir tampak kebingungan. Entah obrolan apa yang barusan mereka bicarakan. Sania bisa tiba-tiba menangis.
"Tolong antarkan aku pulang sekarang," pinta Sania dengan suara lirih. Tak dapat menolak, Pak Supir akhirnya menjalankan mobilnya. Dia meninggalkan Son, Meylin dan Paman Leo di sana.
__ADS_1
Saat menyetir pun, Pak Supir sesekali curi-curi pandang ke arah belakang. Rasanya ingin sekali menghibur majikannya itu, tapi dirinya tidak berani.
Mobil telah sampai di halaman rumah. Sania langsung membuka pintu mobil dan berlari menuju kamarnya. Ruang kamar yang dia tempati pertama kali ia menginjakkan kakinya di sini. Seluruh pelayan yang tak sengaja melihat Sania berlari dengan mata yang sembab, merasa keheranan.
Hanya pelayan senior lah yang berani menemui Sania. Pelayan Senior itu mengetok pintu kamar Sania perlahan. Dia tahu bahwa Sania ada di dalam.
Hari ini entah mengapa, hatinya begitu sensitif. Melihat suaminya dekat dengan seorang wanita, dia seperti tidak rela. Semuanya terlihat menyebalkan. Sania ingin keluar dari ikatan janji ini, dia ingin hidup bebas. Tapi sayangnya seolah hatinya sudah terikat dengan erat olehnya.
"Nona, saya sudah siapkan makanan untuk Anda." Telinganya menangkap suara seorang pelayan dan disaat bersamaan perutnya berbunyi.
"Iya, aku lapar."
Sania akhirnya keluar kamar dan menuju meja makan. Walaupun hatinya sekarang sedang tidak baik-baik saja, tapi dia juga harus mengisi tenaga. Bersedih juga butuh energi.
"Nona, kenapa pulang sendirian?" tanya pelayan senior yang membuntutinya.
"Tinggalkan aku sendiri. Aku mau makan." Bukan maksud mengusir pelayan senior tadi, tapi rasanya Sania tidak ingin banyak bicara sekarang.
***
Di hamparan tanah yang luas. Mereka memilih duduk di bawah pohon yang besar. Tanaman-tanaman kering banyak tumbuh di sisi mereka. Tidak nyaman. Mereka tidak nyaman berlama-lama di situ.
"Tidak ada yang mengajak. Lalu ikut dengan sendirinya. Dan pulang duluan dengan rasa tak bersalah," gerutunya. Meylin tidak tahu dengan sikap Sania. Istri dari Son itu tiba-tiba pulang terlebih dahulu dan meninggalkan mereka. Sungguh menyebalkan. Akhirnya sekarang, mereka seperti orang hilang di sini.
"Nona, tolong bersabarlah. Saya sudah menelepon supir yang lain. Sebentar lagi akan datang. Soal nona Sania, sepertinya telah terjadi suatu hal," tebaknya. Leo mengkhawatirkan Sania. Sedangkan Son, dia terlihat biasa saja.
__ADS_1
Setelah menunggu sekitar 20 menit, supir pun datang. Supir yang berbeda dengan tadi yang mengantar mereka.
"Son, istrimu keterlaluan!" Masih saja Meylin meluapkan kekesalannya. Son tak bergeming. Sedari tadi dia tidak merespon Meylin. Rasa sedih saat mengunjungi makam ibunya masih terasa. Dia membayangkan dulu saat ibunya masih ada.
"Ibu, bisakah di rumah satu hari saja?" Son kecil merengek. Ibunya sangat sibuk. Dia gila bekerja. Selalu meninggalkan Son di rumah. Dia akan berangkat pagi dan pulang disaat dirinya sudah terlelap.
"Son, Ibu tidak bisa. Ibu harus berangkat sekarang. Nanti Ibu pulang akan belikan mainan untukmu." Ibu Son sangat memanjakannya. Tapi waktu kebersamaan tak pernah dia berikan. Tapi Son sangat menyayangi ibunya.
"Ibu ...." Son kecil menangis. Dia berlari menyusul ibunya yang sudah mencapai pintu mobil. Ibu Son akhirnya menghampiri putra kecilnya.
"Son, dengarkan Ibu. Ibu akan ada waktu denganmu nanti. Tidak sekarang. Masuk lah dan bermain dengan—" Suaranya berhenti melihat sosok seorang wanita sedang menatap ke arah mereka. Son pun mengikuti arah mata ibunya.
"Son, kemari lah," ujar seorang wanita itu. Tangannya berayun menyuruh anak kecil itu mendekat padanya. Son kecil yang penurut akhirnya menghampiri sosok wanita itu. Dia memeluk wanita itu dengan mata yang basah. Dielus pelan puncak kepala Son, memberikan kehangatan.
Rasanya Son belum banyak menghabiskan waktu dengan ibunya. Tapi sosok ibunya tak pernah tergantikan oleh siapa pun.
"Son, Ibu sangat menyayangimu. Ibu bekerja keras selama ini hanya untukmu." Ibunya sangat mandiri. Dia mencari uang sendiri padahal suaminya sudah mapan. Tapi dia memilih untuk tidak merepotkan siapa pun.
"Son, kau tidak apa-apa?" Meylin menyentuh tangan Son, tapi pria itu segera menepisnya dengan pelan. Dia merasa tidak nyaman sekarang. Sedari tadi Meylin sering menyentuhnya.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawabnya. Sikap Son sedari dulu memang dingin, tapi sikap dinginnya membuat orang menjadi penasaran.
.
.
__ADS_1
.
.