ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 127 PERMINTAAN SON


__ADS_3

Kakinya tak berpindah posisi tatkala mobil yang ditumpangi Math telah pergi sedari tadi. Dia masih setia terdiri, mengingat kejadian barusan. Math dengan beraninya mengatakan bahwa dia telah jatuh hati padanya. Entah kenapa hatinya sedikit berbunga saat mendengarnya.


"Kenapa baru sekarang."


Dia berjalan menuju kamarnya. Rasanya seperti mimpi dicintai oleh seseorang.


"Nyonya!" Seorang pelayan datang mengejutkannya membuatnya terjingkat kaget.


"Apa?" tanyanya seraya mengelus dadanya.


"Ada telepon dari tuan Darien," ujarnya memberitahu.


"Hallo, kenapa Darien?" tanyanya dibalik telepon. Tak biasanya Darien menghubungi lewat telepon rumah.


"Apa ayah ada disitu, Bu? Karna sedari pagi ayah pergi dan belum kembali. Tadi aku mencoba menelpon kak Rico dan dia mengatakan ayah tak di rumahnya."


"Iya tadi Math kesini. Mengapa kau mencarinya?"


"Ayah dari semalam menginap di apartemenku, Bu," jawabnya.


DEG.


"Mengapa Math menginap di apartemen Darien?"


"Jadi, ayah baru saja pulang? Baiklah aku akan kabari Valencia."


Setelah telepon terputus, dia termenung. Memikirkan kenapa Math harus menginap di apartemen Darien.


"Apakah dia kesepian?" tebaknya.


Banyak hal yang diceritakan Math tadi. Dia banyak bercerita, bahkan tak segan menceritakan awal mulanya menikahi beberapa wanita. Sebenarnya dia tak berniat memiliki istri banyak, tapi itu terjadi begitu saja. Memang cinta pertamanya hanya Angela, tapi tak dapat dipungkiri dia juga menyayangi istri-istrinya yang lain.


Jari manisnya tak lagi melingkar sebuah cincin pernikahan. Sudah lama ia lepaskan. Tak mau terus menerus dihantui oleh sosok Math. Tapi kini, pria itu kembali membuat hatinya gundah.


Sebuah kotak merah ia ambil dari sebuah laci. Menatap sebuah cincin indah yang terukir namanya dan nama Math. Ini khusus dipesankan oleh Math. Dulu dia sangatlah romantis. Walaupun ia tahu, hatinya belum sepenuhnya untuknya. Apalagi Renata saat itu pergi secara tiba-tiba, membuatnya sangat bersedih.


***


Hari ini ada banyak jadwal meeting di luar. Son melirik istrinya yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


"Sayang, kau mau ikut?" Sebenarnya ia tak ingin membuatnya kelelahan, tapi meninggalkan dia sendirian di sini ia tak tega.


"Kemana?" Sania tak mengalihkan pandangannya sekalipun. Dia sibuk membaca sebuah berita yang sedang viral saat ini.

__ADS_1


"Aku ada meeting di luar kantor. Sepertinya akan lama. Apa kau mau ikut? Apa aku antarkan pulang saja ke rumah?" tawarnya kemudian.


"Hmm ...." Sania hanya menggumam.


"Bagaimana sayang?" tanyanya.


"Aku pulang saja lah. Menemani ibu di rumah," jawabnya setelah sekian lama berpikir.


Akhirnya Son bisa bernapas lega. Setidaknya dia di rumah ada yang menjaganya.


"Kau mau apa? Mau beli apa?" tanyanya seraya fokus menyetir. Jalanan sedang ramai, apalagi sebentar lagi masuk jam makan siang.


"Tidak mau apa-apa," jawabnya.


Sambil menyetir matanya menjelajahi setiap pedagang di pinggir jalan. Entah kenapa melihat pedagang es buah rasanya dia ingin sekali mencicipinya.


"Kenapa berhenti?" tanya Sania yang tiba-tiba Son memarkir mobilnya di pinggir jalan.


"Kita minum es buah yuk," ajaknya. Dia membuka pintu mobil dan berjalan memutar bergantian membuka pintu mobil istrinya. Awalnya Sania menolak tapi Son terus saja memaksanya.


"Aku tidak ingin es buah," tolaknya. Akhirnya Son hanya memesan satu mangkok es buah saja. Sedangkan Sania hanya menemaninya. Perutnya terkadang masih merasakan mual, dia tak ingin memakan apa pun.


"Kau beneran tidak mau, sayang? Ini enak sekali," pujinya.


"Tidak. Perutku mual."


"Sebelum kita pulang, ada gak yang mau kamu beli? Di sini banyak pedagang, masa tak ada satupun yang kau inginkan?" tanya Son lagi.


Istrinya menggeleng, yang diinginkannya sekarang adalah cepat pulang.


Son mengantarkan istrinya pulang dan dia langsung menuju tempat dimana diadakan meeting dengan client.


"Ibu ada dimana?" Sania mencari Ibu Luzi di kamarnya tapi tak ada.


"Di halaman belakang, Nyonya."


Benar saja, Luzi sedang duduk menyendiri di sana. Sania dengan langkah hati-hati menghampirinya. Tak berniat mengagetkan, tapi Luzi sudah terkejut duluan karna Sania tak sengaja menginjak ranting pohon. Luzi terkejut dan langsung menengok ke belakang.


"Ibu, di sini rupanya," ujarnya seraya tersenyum lebar.


"Sania, kau sudah pulang?" Luzi menepuk tempat di sebelahnya, menyuruh menantunya untuk duduk di sebelahnya.


"Iya, Bu. Son sedang sibuk ada meeting di luar dan Sania memilih untuk pulang saja," jawabnya.

__ADS_1


"Iya kamu harus banyak istirahat, Sania. Kau kan sedang hamil, jaga baik-baik calon cucu Ibu," tuturnya lembut.


Sania mengangguk, dia paham itu. Dia juga tak ingin kehilangan calon buah hatinya kembali.


"Apa kau sudah makan siang?" Sania menggeleng, dengan cepat Luzi mengajaknya untuk ke meja makan. Mereka akan makan siang bersama.


"Tapi aku mual setiap makan, Bu. Rasanya tidak enak di perut."


"Harus dipaksakan, Sania. Agar calon bayi di perutmu tidak kelaparan."


Sania akhirnya menuruti perkataan ibu mertuanya. Satu suap demi suap makanan ia masukkan ke dalam mulutnya, sekuat tenaga dia menahan rasa mualnya.


"Minum air putih juga yang banyak, Sania."


Dia menurut, hingga tak terasa piringnya sudah kosong tak tersisa makanan. Akhirnya dia selesai juga memakan makanan yang diberikan ibu mertuanya.


"Apa kau masih mual?" tanyanya.


Bukan hanya mual, dia juga merasa pusing. Belum sempat menjawab, Sania sudah berlari menuju toilet dapur. Dia memuntahkan semua apa yang dia makan barusan.


"Ya Tuhan. Perutku tidak enak sekali," keluhnya.


Luzi menghampiri sambil memijit tengkuk lehernya. "Yang sabar ya, Sania. Hamil muda memang seperti ini. Sebaiknya kau makan buah-buahan saja yang segar," usulnya.


Luzi lantas menyuruh pelayan untuk menyiapkan buah-buahan. Berbagai macam buah ia suruh beli semua. Setidaknya yang ada di supermarket.


.


.


.


.


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu. Sore hari dengan matahari yang hampir terbenam. Sania duduk di teras rumah menunggu sang suami pulang. Dia mengatakan bahwa sebentar lagi akan pulang. Baru saja ia membuka majalah, ponselnya tiba-tiba berdering. Belum sempat ia angkat tapi sudah mati. Lalu satu pesan masuk, suaminya mengirimkan sebuah pesan.


"Sayang, tolong sampaikan pada ibu. Aku ingin roti panggang buatannya. Jadi, minta tolong ibu suruh buatkan sebelum aku pulang."


"Aneh sekali. Tadi siang ingin es buah, lalu sore hari ingin roti panggang."


Sedang santai-santainya duduk di teras rumah membuatnya kesal karna harus kembali masuk ke dalam rumah. Memberitahukan Ibu atas permintaan putranya.


"Ibu, Son tadi mengirimkan pesan padaku katanya ingin roti panggang buatan Ibu."

__ADS_1


Luzi tersenyum lalu mengangguk. "Sudah lama Son tak memintaku membuatkan roti panggang. Baiklah Ibu akan membuatkannya."


Dengan semangat dia membuatkan roti panggang untuk putra terakhirnya. Dia senang karna ternyata Son tak melupakan makanan favoritnya yang sering dia buatkan dulu.


__ADS_2