ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 27 DARIEN YANG TAMPAN


__ADS_3

Bab 27 DARIEN YANG TAMPAN


Keringat bercucuran membasahi wajahnya yang tampan. Setetes demi tetes air keringat yang keluar membuat pria itu semakin terlihat karismatik. Beberapa pasang mata yang dimiliki oleh wanita, tak hentinya menatap seorang makhluk tampan yang bernama Darien. Pria itu menjadi pusat perhatian di jalan. Disaat semua orang sedang berolah raga, dia seperti sedang melakukan konser. Banyak wanita yang sengaja berjalan agak mendekat hanya untuk memandanginya.


Darien mulai tidak nyaman, saat dia memergoki segerombolan wanita sedang berbisik sambil tak hentinya memandangnya. Dia memutar balikkan tubuhnya dan berlari menjauh. Kembali ke rumah itu adalah pilihan yang tepat.


Kedua kakinya berhenti, dari kejauhan dia melihat Sania. Gadis itu sedang menyirami tanaman bersama seorang pelayan. Rambutnya yang lurus, hitam pekat sengaja diikat ke atas. Leher jenjangnya yang putih itu pun terlihat. Wajahnya manis tanpa polesan make up. Tubuhnya yang mungil membuat siapa pun merasa gemas.


"Kak Darien!" panggil Sania sambil melambaikan tangan. Gadis itu bergerak menghampiri Darien. Walaupun rasanya dia masih canggung, tapi dia harus mengakrabi diri dengan Darien. "Kakak habis olah raga?" tanyanya dengan suara lembut.


Darien hanya mengangguk. "Lanjutkan saja. Aku mau masuk." Darien berjalan ke dalam meninggalkan Sania. Gadis itu pun kembali bersama pelayan, tapi sesaat dia memandangi kepergian Darien dengan hati yang penasaran.


"Nona, tuan Darien tampan sekali ya?" Sania dikagetkan oleh pertanyaan dari pelayan. Siapa pun yang melihat Darien juga akan mengatakan hal yang sama. Perlu diakui, Sania juga membenarkan apa yang dikatakan pelayan itu.


"Tapi sayang sekali, tuan Darien belum juga menikah. Dia malah dilangkahi oleh tuan Son," katanya lagi.


"Mungkin belum memikirkan untuk menikah," jawab Sania asal.


"Sepertinya, tapi yang saya dengar tuan Darien pernah patah hati dan enggan untuk memulai hubungan lagi dengan wanita." Sania menoleh ke arah pelayan, dahinya berkerut.


"Benarkah? Kata siapa?"


"Iya Nona, saya pernah dengar berita itu dari pelayan rumah utama."


Seorang Darien yang tampan saja pernah merasakan patah hati. Bagaimana dengan Sania yang hanya gadis ingusan?


Pintu kamar yang terbuka setengah, ia buka perlahan. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah keadaan kamar yang bersih. Berbeda dengan yang sudah-sudah. Satu pelayan terlihat berdiri di belakangnya. Saat mengetahui Darien datang, pelayan itu pun pamit pergi.

__ADS_1


"Kau sudah makan? Minum obat?" Darien mengecek obat yang biasa dikonsumsi adiknya. Dia lihat obat itu masih banyak. Mungkin saja baru saja ditebus lagi.


"Kau rutin meminum obat, kan?" Hubungan keduanya memang dari dulu tidak baik. Padahal Son yang dulu ingin selalu dekat dengan kakak-kakaknya. Tapi Darien dulu selalu mengasingkannya. Meskipun begitu, Darien terkadang memberi perhatian kecil untuk Son tanpa ada yang tahu.


"Apa tujuanmu ke sini?" Kata-kata menyebalkan itu pasti selalu didengarnya, setiap Darien berusaha memperhatikannya.


"Tanya saja pada Ayah. Aku hanya disuruh tinggal di sini. Mungkin sampai kau menyudahi menghukum diri sendiri." Kalau bukan perintah dari Math, Darien tidak mau tinggal di sini. Disisi lain karna jarak rumah ini ke perusahaan juga jauh, Darien juga pasti akan selalu bertengkar dengan Son dari hal-hal yang kecil.


"Jangan ikut campur!" jawab Son dengan bibir yang bergetar. Dia memang yang memilih untuk buta, karna rasa bersalahnya yang terlalu dalam kepada Vennie. Karnanya, Vennie meninggal. Andai waktu itu dia tidak ngebut di jalanan, Vennie pasti masih hidup sampai saat ini. Rasa cemburunya dulu yang membuat Son tanpa berpikir panjang, menyetir dijalanan dengan kecepatan tinggi. Vennie yang berteriak menyuruhnya berhenti, tapi tak indahkan olehnya. Son dengan emosi dan kecemburuan, membuatnya lepas kontrol.


"Kau yang jangan bodoh!" serunya. "Jangan seperti anak kecil! Menyusahkan orang lain saja!"


BRAKKKK!!!!


Pintu ditutup dengan keras bersamaan dengan hembusan napasnya yang berat.


"Temani, Son. Pastikan dia rutin minum obat." Tanpa berbicara lama, Darien langsung melangkahkan kakinya menjauh. Sania bisa melihat bahwa Darien habis marah. Wajahnya terlihat merah padam. Dia pastikan, suasana di dalam kamar juga masih terasa panas.


"Siapa! Jangan masuk ke dalam kamarku tanpa ijin! Keluar!" Suara pintu yang dibuka membuat Son marah. Disaat emosinya belum stabil, Son tidak bisa mengendalikan diri. Tangannya berusaha menjangkau apa pun yang bisa dia jangkau. Tapi sayang sekali, tidak ada benda di sekitarnya.


Tapi tiba-tiba tangannya menyentuh sisi ujung gorden kamarnya. Dia yang emosi, seketika dia tarik hingga lepas beberapa sisi gordennya. Dia menggeram kesal. Dunia seakan tak berpihak kepadanya.


Sania yang di dalam kamar merasa ketakutan sekaligus khawatir. "Tolong tenang lah. Kau kenapa?" tanyanya dengan suara pelan. Takut-takut dia akan tambah emosi, tapi Son terlihat menundukkan kepala. Sania masih di dekat pintu, dia belum berani mendekat. Cukup lama Son menunduk, Sania masih memperhatikan dari jauh. Kedua tangannya memegangi kepalanya. Son sedang kesakitan?


"Kau mau tidur saja?" Dengan kakinya yang bergetar, Sania perlahan berjalan mendekat. Tangan mungilnya pelan-pelan menyentuh bahunya. "Ayo aku antar ke ranjang," katanya lagi. Tidak ada jawaban dari Son. Membuat Sania menjadi bingung. Jika dia tiba-tiba mendorong kursi rodanya tanpa persetujuan, takut Son tambah marah.


"Awwwww ...." Tangannya tiba-tiba ditarik oleh Son. Sania merasa kesakitan. "Aduh, sakit." Tangannya digenggam erat oleh Son dengan kekuatan penuh. "Son, lepaskan!" Sania berusaha melepaskan tangannya tapi tidak juga terlepas.

__ADS_1


"Apa kau tuli? Aku menyuruhmu untuk pergi!" Son menghempaskan tangannya dengan kasar. Terlihat memerah disekitar pergelangan tangannya. Sania mengaduh kesakitan dalam hati.


"Sakit sekali."


Son dulu juga pernah melakukan hal yang sama seperti ini. Tapi kali ini, Son mencengkeram erat sekali tangannya. Mungkin karna kali ini Son sedang diselimuti oleh emosi.


Rasanya Sania ingin menangis. Tapi, dia takut jika Darien melihatnya menangis. Berusaha tegar, Sania keluar dari kamar Son sambil memegangi pergelangannya yang sakit.


Rumah yang besar, fasilitas yang lengkap, pelayan yang banyak, makanan yang lezat, siapa pun yang tinggal di sini pasti akan nyaman. Tapi untuk Sania, berasa di penjara.


"Pelayan, tolong temani Son di kamar. Kau tunggu saja di depan pintu. Pintunya tidak aku kunci. Aku ada urusan sebentar." Sania menyuruh seorang pelayan untuk mengawasi Son. Sedangkan Sania ingin pergi ke suatu tempat. Mendatangi seorang supir untuk mengantarkannya ke tempat yang dia tuju.


"Jalan saja, Pak."


"Tapi, Nona. Saya harus ijin dengan tuan Math terlebih dahulu."


"Kemarin saat saya minta antarkan ke rumah paman, juga tidak ijin dulu, kan?"


"Iya karena itu saya dimarahi tuan Math, Nona."


"Baik lah. Saya akan naik taxi saja."


"Jangan, Nona. Baik lah, saya antarkan." Pak Supir akhirnya mengalah untuk mengantarkan Sania ke suatu tempat. Setelah dipikir-pikir Sania rasanya tidak sanggup, dia ingin mengakhiri semuanya saja.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2