
Tangannya beralih menyentuh pipinya. Wajahnya halus, dia pandai merawat diri. Bayangan beberapa tahun yang lalu melintas di kepalanya.
"Mohon maaf, istri Anda tidak bisa hamil, Tuan."
Pernyataan dari seorang dokter membuat detak jantungnya seketika berhenti sejenak. Tak percaya atas ucapan dari dokter barusan. Sang dokter tak sanggup melihat wajah Luzi yang menyedihkan. Math juga sama, ia terpukul dan benar-benar tidak menyangka.
"Maafkan, aku." Luzi meninggalkan ruangan seraya menangis dalam diam. Dia berlari meninggalkan suaminya yang masih dengan keadaan shock. Math sudah kehilangan istrinya sepasca melahirkan, dan sekarang memiliki istri yang tak bisa hamil. Dia memiliki banyak perusahaan, apakah satu anak cukup untuk mengurus semuanya jika dia telah tiada? Dia ingin memiliki anak lagi.
"Aku ingin menikah lagi. Aku ingin punya keturunan lagi," ucapnya tanpa basa-basi membuat Luzi yang saat itu sedang merapikan tempat tidur seketika menghentikan aktivitasnya. Menatap sang suami yang sedang sibuk mengancingkan satu persatu kemejanya. Dia melangkahkan kakinya mendekati, dan tangannya beralih membantu memakaikan dasinya. Wajah tampan suaminya membuatnya terpesona setiap waktu.
"Menikahlah lagi. Aku akan mengijinkan mu," jawabnya santai. Wanita itu seakan sudah terbiasa melihat Math dengan wanita lain. Seperti dulu saat Math menikahi Renata-sahabatnya. Padahal Luzi yang lebih dulu menyukai Math, tapi mungkin pesona Renata lebih membuatnya tertarik.
Math memeluknya, mendekapnya erat. Dia merasa bersalah atas semua tindakan yang ia lakukan tanpa pikir panjang. Andai dia dulu tidak gegabah untuk segera menikah, mungkin wanita-wanita yang telah ia nikahi tidak akan merasakan kecewa dan sakit hati. Tapi kesalahan tidak sepenuhnya pada dirinya, ini juga ada campur tangan ibunya dulu yang juga menginginkan segera menimang cucu.
Luzi pasrah saja, saat Math memeluknya karna ia merasa nyaman. Sudah lama Math tidak memperlakukannya selembut ini. Sejak Math menikah lagi, tak ada perlakuan romantis pada dirinya.
"Maafkan aku, Luzi. Andai aku tidak egois, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."
"Tidak ada yang salah, Math. Semuanya sudah menjadi garis takdir." Walaupun selama hidupnya dia tak merasakan sebagai istri sungguhan, tapi dia bersyukur ada di keluarga ini. Rico dan Darien sangat menyayanginya seperti ibu kandung mereka.
"Besok temani aku ke makam Renata, Yasmine dan Angela. Apa kau mau?" Mendengar ketiga nama itu dia menjadi sedih. Kenapa mereka pergi lebih dulu, padahal mereka semua orang baik. Renata adalah sahabat terbaiknya. Yasmine sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Dan Angela adalah teman yang baik, dia begitu pengertian terhadapnya walaupun dibalik itu ada sebuah kesalahpahaman di antara mereka dan berdampak pada Son.
"Math, ajak putra-putramu juga. Kita berziarah bersama." Seumur-umur mereka tidak pernah pergi berziarah bersama. Math tak pernah mengajak ketiga putranya. Apalagi Son yang tak tahu tentang sosok Renata dan Yasmine. "Dan kau harus memberitahu Son tentang Renata dan Yasmine. Aku tidak mau ia terus menerus salah paham denganku. Aku sudah lelah."
__ADS_1
Mungkin ini waktunya mengungkapkan semuanya. Agar tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka.
"Aku pasti akan memberitahu semuanya pada Son. Aku juga ingin hubunganmu membaik lagi dengan Son," janjinya.
"Dari dulu kemana saja!" Luzi melepaskan tangan Math yang masih menyentuh pinggangnya, dia berjalan pergi. Tak mau terus menerus di sisinya. Entah kenapa, dia merasa kesal sendiri.
Dia sudah cukup bersabar selama ini, berusaha menutupi semuanya demi nama baik suaminya. Tapi ternyata apa yang ia lakukan selama ini, tak ada harganya di mata Math. Pria itu seakan menari-nari di atas penderitaannya.
***
Hari yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang di muka bumi. Hari libur, hari dimana segala aktivitas di luar rumah berhenti. Tak ada bangun pagi, semuanya sesantai itu menikmati hari weekend.
Matahari seperti biasa, menyapa di langit yang cerah. Memancarkan sinarnya yang sempurna. Membuat seluruh makhluk hidup terpaksa membuka matanya karna terganggu oleh sinarnya. Mereka ada yang senang akan datangnya pagi dan ada juga yang merasa malas untuk sekedar membuka mata di waktu pagi.
Pria itu masih mengembangkan senyumnya setelah ia pergi. Dia menggelengkan kepala, merasa ini sebuah mimpi.
"Kau masih bermimpi, Luzi! Sadarlah!" Tak segan-segan ia menampar pipinya dengan keras hingga dia mengaduh kesakitan. "Sialan, sakit!"
Ini bukanlah mimpi, tapi dia sungguh tidak nyaman dengan sikap suaminya yang menurutnya aneh itu.
"Sayang, apa kau masih lama? Jika masih lama, aku mau pakai kamar mandi yang lain," teriaknya dari balik pintu.
Lihat saja, sekarang Math bisa berbicara lembut seperti itu. Biasanya dulu dia selalu membentaknya bahkan selalu saja memarahinya yang terkadang lama di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Hening.
Tak ada suara lagi dari Math. Luzi sengaja tak menjawabnya. Biarkan saja.
Dia basuh wajahnya dengan air yang mengalir. Merasakan segar dari air yang keluar dari kran. Malam tadi, wajahnya bersih dari make up. Tak ada lagi make up yang menempel di wajahnya. Tak peduli lagi dengan kosmetik-kosmetik miliknya. Dia ingin tampil apa adanya.
***
Son menatap dirinya di cermin. Ada perasaan bahagia dan haru bersamaan. Bahagianya karna hari ini dia akan mengunjungi makam ibu kandungnya bersama sang istri. Dan perasaan harunya karna dia masih terbayang dengan sosok Angela.
"Jangan sedih gitu." Sania yang tau akan perasaan Son memeluknya dari belakang.
"Tidak. Aku hanya merasa belum bisa membuat ibuku bahagia."
"Hey, lihat aku. Aku yakin ibu kamu sekarang sangat bahagia melihatmu sekarang. Tak ada alasan apa pun bagi seorang ibu tidak bangga terhadap putranya. Semua orang tua pasti bangga." Gadis kecil dihadapannya ini sangat dewasa. Kata-katanya begitu menyentuh hati. Membuat suasana hatinya sedikit membaik mendengar kata-katanya.
"Kau benar-benar dewasa. Kenapa kau dewasa di umur yang masih belia. Kamu ini hanya gadis ingusan!" Son dengan gemas mengacak rambutnya, membuat Sania berdecak sebal. Mau tak mau dia harus merapikan rambutnya lagi.
Son tertawa melihat istrinya yang kesal. Dia pun membantu menyisir rambutnya kembali.
"Setelah ke makam ibuku. Kita juga harus berziarah ke makam orang tuamu," ucap Son membuat Sania memutar kepalanya. Menatap Son lamat-lamat. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya tidak terima.
"Kau mau mengunjungi makam orang tuaku?" tanya Sania. Kini kedua matanya sudah berkaca-kaca. Sudah lama Sania tidak mengunjungi makam orang tuanya, dia seakan sibuk dengan dunianya sendiri.
__ADS_1