ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 104 SAN DAN SON


__ADS_3

"Bagaimana bagus, kan?" Hari ini Sania dan Son akan pergi ke mall. Mereka memakai baju dengan warna senada. Sebenarnya ini adalah pakaian yang diberikan oleh Rico dulu. Saat Rico memberikan Sania oleh-oleh untuknya. Tapi Sania sengaja tidak mengatakan bahwa ini dari Rico.


"Ya bagus," jawabnya cuek.


Sania dengan senyum sumringah menggandeng suaminya. Mereka berjalan menuju mobil. Kali ini mereka memakai sopir.


Rencananya hari ini mereka akan mencari kado untuk pernikahan Darien. Son awalnya menolak, tapi karna paksaan dari istrinya akhirnya dia mengalah.


Tepat di depan sebuah mall yang terbesar di kota, mobil mereka berhenti. Kali ini Sania bisa berjalan dengan bebasnya, berbeda saat dulu harus menuntun Son yang buta. Kini mereka bisa berjalan sendiri-sendiri.


Saat tak sengaja melewati outlet perhiasan, mata Son menangkap sebuah kalung cantik yang terpajang di etalase paling atas. Lalu matanya melirik Sania dan menurunkan pandangannya pada leher jenjangnya.


"Dia tidak memakai kalung?"


"Kita mau beli kado apa ya?" Sania kebingungan, dia tak tahu selera Darien dan Valencia.


"Kau cari saja di sekitar sana. Aku mau ke toilet sebentar." Sania yang tak mau berjalan sendirian minta ikut ke toilet bersama.


"Heh, mana mungkin! Aku mau ke toilet pria. Kau jalan kesana saja dulu. Aku pasti akan menemukanmu," ujarnya meyakinkan.


"Jika kau tak bisa menemukanku bagaimana? Kalau aku hilang, aku diculik atau kau yang nantinya diculik, bagaimana?"


"Sssttttt ...." Son menutup mulutnya dan mendorongnya untuk jalan lebih dulu. Dia tak mau Sania memergokinya yang masuk ke outlet perhiasan.


"Jangan lama-lama!" teriak Sania saat sudah berjalan menjauh darinya.


Saat melihat Sania sudah berjalan jauh, dia kemudian melangkahkan kakinya menuju outlet perhiasan tersebut.


"Saya mau kalung itu," ucapnya tanpa basa basi. Tak butuh lama, staff outlet langsung menuliskan kwitansi dan menyuruhnya untuk membayar di kasir.

__ADS_1


Kalung yang menjadi incarannya sudah berada di kantongnya. Saat pulang nanti akan ia berikan pada Sania. Dia tak pernah memberikan apa pun untuk istrinya, mungkin ini kesempatan yang baik.


Sesuai janjinya, Son menyusul Sania yang berjalan lebih dulu. Matanya berpendar mencari istrinya berada. Satu persatu outlet di datangi, tapi tak menemukan istrinya di sana.


"Dimana dia?" Son kebingungan. Mall ini memang luas, tapi suasana tak begitu ramai. Makanya dia menyuruh istrinya untuk berjalan lebih dulu. Pikirnya ia akan cepat menemukan istrinya. Apalagi Sania kalau berjalan lambat sekali.


Dia mulai khawatir, sepanjang dia berjalan tak menemukan istrinya. Akhirnya dia merogoh sakunya untuk menelpon istrinya.


Panggilan pertama tak diangkat. Panggilan kedua tetap tak diangkat. Hingga panggilan ketiga akhirnya diangkat.


"Hallo, Tuan. Ponsel nona Sania ketinggalan di dalam mobil." Dia menghela napasnya kasar, suara dari Pak Sopir membuatnya mendesah.


"San .... Kau dimana?" Son akhirnya mencari ruangan informasi. Di sana dia akan meminta bantuan untuk mencari istrinya.


Belum mencapai ruangan informasi, dari kejauhan dia menangkap seorang gadis mungil yang sedang mengantri disebuah kedai makanan.


"Sial ternyata disini!"


"Hey! Kau pencuri!" ucapnya pelan karna suasana sangat ramai pengunjung.


"Dan kau selalu saja membuatku khawatir!" Son memelototinya. Merasa sebal dengan istrinya ini tapi tak tega memarahinya.


"Kau tadi bilang katanya pasti akan menemukanku. Jadi apa salahnya jika aku ada di sini? Kau juga kan tidak bilang kalau aku tidak boleh kesana atau kesini, jadi—"


"Diam lah!" potongnya. Kini hatinya sudah lega, telah menemukan dimana istrinya. Memang beristrikan seorang gadis ingusan, memang harus ekstra sabar menghadapinya. Banyak tingkah konyol dan menyebalkan yang ia lakukan tanpa disadari.


"Setelah ini kita pulang! Aku lelah!"


Sania menjatuhkan burger miliknya dan jatuh ke piring, menatap suaminya dengan sinis. "Kita belum membeli kado untuk kak Darien. Bagaimana mungkin kita pulang!" ujarnya tidak terima.

__ADS_1


"Kapan-kapan saja. Masih banyak waktu!" Son dengan wajah malasnya menatap ke sembarang arah, dia sudah tidak nyaman dan ingin cepat-cepat pulang.


"Baiklah, kalau begitu. Tinggalkan aku disini, kau pulang saja bersama pak Sopir." Tak mau menghiraukan Son, dia melanjutkan makannya. Tak peduli akan apa jawaban suaminya nanti.


"Hey! Bagaimana bisa begitu!" Son merebut piring miliknya. Membuatnya berhenti makan.


"Jangan mengganggu acara makan ku!" ucapnya dengan mata melotot. Tak mau kalah, Son juga memelototinya. Tapi ternyata lebih seram mata Sania yang sudah besar itu.


Lagi-lagi Son mengalah. Dia akhirnya menemani istrinya untuk mencari kado untuk Darien. Setiap Sania meminta pendapatnya, dia tak mau menjawab. Apalagi ini menyangkut Darien, Son tidak mau ikut campur.


"Pilih saja yang kau suka. Pasti dia juga suka!" Rasa kesal pada kakaknya belum juga usai. Setiap mengingat saat Darien pernah mengajak pergi istrinya, dia merasa kesal. Tak tahu apa lagi yang terjadi dulu saat Son belum bisa melihat. Mungkin saja ada hal lain yang tidak ia ketahui antara mereka berdua.


"Tolong jawab jujur!" Tiba-tiba Son menghentikan langkahnya membuat Sania dibuat heran, lalu gadis itu menghendikan bahunya. Meminta penjelasan dari perkataannya.


"Apa saja yang kau lakukan dulu dengannya. Saat aku belum bisa melihat. Apa kalian sering jalan bersama di belakangku?" Tiba-tiba pertanyaan itu melintas di kepalanya.


Sania mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Sudah berapa kali kau jalan dengan kakak ipar kesayanganmu itu? Saat aku masih buta, kau sering kan berjalan bersama di belakangku?" Son mulai terpancing emosinya. Apalagi melihat Sania yang merasa tak bersalah.


"Jalan kemana? Aku tidak pernah jalan dengan kak Darien diam-diam di belakangmu. Waktu itu aku pernah pergi bersamanya itu juga karna kau yang menyuruhku. Tapi aku pulang cepat. Tapi kau malah tak memperbolehkan ku masuk ke dalam rumah. Kau ini benar-benar!" kesalnya kemudian. "Dan satu lagi, kau pura-pura buta! Ih menyebalkan!" Tiba-tiba Sania memukulinya dengan brutal. Semua orang jadi memperhatikan mereka berdua.


"Hey! Stop!" Son mencoba menghentikan pukulan Sania. Tapi gadis itu tak berhenti memukulinya. Hingga terpaksa dia menarik tangannya dengan keras sampai Sania mengaduh kesakitan.


"Awww ...."


"Maaf-maaf. Ini ditempat umum. Jangan bertingkah konyol seperti ini," tuturnya kemudian.


Sania melengos kesal, dia berjalan mendahului.

__ADS_1


"Sebenarnya yang harus marah siapa? Harusnya kan aku. Kenapa jadi dia yang marah?"


Son berlari menyusul Sania yang berjalan cepat di depannya. Tak mau kehilangan jejak istrinya lagi. Dan akhirnya dia bisa menggapai tangan istrinya dan menggenggamnya erat sampai menuju halaman parkir.


__ADS_2