
Kehidupan yang ia jalani, jauh dari ekspektasinya dulu. Sania kecil, bermimpi akan menikah dengan seorang pangeran yang mencintainya tulus. Sosok ayahnya yang menjadi impiannya.
Di sini, saat ini Sania bersama dengan suaminya. Sosok pria yang akan bersamanya selamanya. Tapi dia tidak yakin akan itu.
Suasana menjadi hening. Son sedari tadi diam. Memang dia selalu diam. Tapi sekali berbicara, menyakitkan hati.
"Aku ingin bertanya padamu," kata Sania memecahkan keheningan. Dia melanjutkan perkataannya, "Kapan kau mau operasi mata?" tanyanya membuat Son bergeming.
Bayangan Vennie selalu saja muncul di kepalanya. Bahkan beberapa malam terakhir ini, sosok Vennie menemuinya di alam mimpi. Wajahnya bersedih memandangi dengan lekat. Son tak bisa menyentuhnya, Vennie berdiri jauh darinya. Saat Son ingin mendekat, Vennie malah menghilang.
"Apa tujuanmu menikah denganku? Katakan apa yang kau butuhkan." Bukannya menjawab pertanyaannya, dia malah menanyakan hal yang sudah pernah ia tanyakan.
"Bisa tidak, sehari saja jangan berpikiran negatif denganku. Aku bukan wanita matre dan gila harta. Aku ini hanya gadis belasan tahun yang tidak tahu apa-apa. Aku menerima pernikahan ini karna—" Rasanya tidak sanggup Sania menceritakan semuanya. Apa yang terjadi padanya dulu. Tapi sekarang sudah berubah. Jika Sania harus kembali ke rumah Paman Raul, dia tak masalah. Malah dia senang bisa berkumpul dengan mereka lagi.
"Ah iya lupa. Bibi Lotus!" Sania tiba-tiba teringat akan permintaan Maria-sepupunya. Dia harus segera berbicara dengan Math, meminta bantuannya untuk mencarikan keberadaan Bibi Lotus.
"Aku ingin menemui ayah. Kau tidak apa-apa aku tinggal sendiri di sini?"
Son penasaran dengan ucapan Sania yang terpotong tadi. "Kau belum menyelesaikan perkataan mu tadi. Karna apa kau menerima pernikahan ini? Karna uang, kan?" sindirnya.
"Karna, ya karna aku pertama kali melihatmu aku sudah jatuh hati," jawabnya dengan asal. "Aku keluar dulu." Sania berlari meninggalkan kamar. Dia terdiam di depan pintu. Dadanya berdegup kencang. Kenapa kata-kata itu lolos dari bibirnya. Bukannya kesan pertama melihatnya, Sania malah takut? Pria itu dulu sampai memecahkan gelas di hadapannya langsung. Sungguh pertemuan pertama kali yang menyeramkan.
"Sania! Apa yang kau katakan tadi! Tidak mungkin kau jatuh hati saat pertama kali melihatnya!" Sania menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar malu.
"Itu sama saja kau mengungkapkan perasaan! Dasar memalukan!"
Mendengar penjelasan Sania, Son terdiam. Tapi tiba-tiba ia menyunggingkan senyumannya.
Sania berharap, Ayah mertuanya belum pulang. Dia ingin berbicara empat mata dengannya.
"Kak Rico, di mana ayah?" tanyanya saat melihat Rico sedang di ruang tengah bersama Keyla. Dia sempat ke ruang makan, tapi di sana sudah tidak ada orang.
__ADS_1
"Ayah sudah pulang baru saja. Tapi ibu masih bersama Darien, makanya Kakak masih di sini menunggu ibu." Sania tak sengaja melihat ke arah Keyla, istri dari kakak iparnya itu menatapnya dengan sinis. Entah apa yang membuat Keyla seakan tak menyukainya sekarang. Padahal dulu, Keyla sangat baik padanya.
"Oh begitu, Kak. Ya sudah, terima kasih, Kak." Sania berlalu pergi, dia tampak kecewa. Padahal ini adalah momen yang pas. Tapi Sania tak mempergunakan waktu dengan baik.
***
Hari berganti dengan cepat. Sania sebagai istri yang patuh, setiap hari menyiapkan segala keperluan suaminya dengan baik. Bangun pagi, menyiapkan air untuknya mandi, menyiapkan pakaian juga menyiapkan makanan. Setiap pagi, dia sempatkan untuk memasak. Agar Son bisa memakan masakannya setiap hari.
"Aku suka ini," ucap Son membuat senyuman Sania mengembang sempurna.
"Besok aku akan memasaknya kembali," jawabnya bersemangat.
Son mengangguk. Pria itu akhir-akhir ini tampak bersahabat dengannya. Tak banyak tingkahnya yang membuatnya kesal. Walaupun sikap dinginnya masih saja tidak hilang.
"Aku ingin dengar ceritamu tentang sosok Vennie. Seperti apa sih dia?" Sania yang penasaran mencoba membuatnya bercerita. Wanita yang berhasil mencuri hatinya sampai saat ini, dia begitu beruntung.
"Tidak ada yang bisa aku ceritakan. Dia terlalu berharga, tak dapat diceritakan dengan kata-kata." Jawaban Son begitu dalam. Membuat Sania yakin akan cinta sejati. Dia melirik jari manisnya yang terpasang cincin pernikahannya dengan Son. Tapi tidak dengan Son, pria itu tidak memakainya. Entah cincin itu ada di mana, Sania tidak tahu.
"Apa kau ingin aku segera pergi dari hidupmu?" Son terkejut mendengar pertanyaannya. Jelas saja, Son ingin gadis di hadapannya pergi. Dia tidak mau hidupnya di isi dengan orang asing.
"Tentu. Pergi lah! Aku tidak mengenalmu. Kau hanya lah orang asing." Begitu lah jawabannya membuat Sania menahan sesak di dadanya.
"Dulu aku pernah katakan padamu. Aku akan pergi jika kau bisa melihat kembali. Aku akan benar-benar pergi jika kau menerima operasi mata yang ditawarkan ayah." Son berpikir, jujur saja dia juga ingin bisa melihat dunia lagi. Tapi rasa bersalahnya lebih besar dari keinginannya untuk melihat dunia. Begitu terpukul saat kebodohannya dulu membuat Vennie meninggal.
"Aku bisa membuatmu pergi dengan caraku!" jawabnya dingin.
Sania memutar bola matanya jengah. Memang menghadapi Son tidak akan ada habisnya. Sifatnya sangat keras kepala. Dia tidak mau mendengarkan orang lain.
"Coba saja!" tantangnya. Sania menarik selimutnya dan memejamkan mata. Hari semakin gelap, dia sudah mengantuk. Tidur bersama pun mereka seperti bermusuhan. Bantal guling di tengah menjadi batas mereka.
Dengan tiba-tiba Son menarik selimutnya dengan kasar. "Hey, dingin! Kembalikan!" Hawa dingin menusuk kulitnya. Cuacanya memang sedang dingin, karna tadi baru saja habis hujan.
__ADS_1
"Aku bisa membunuhmu jika kau mau!" Sania membelalakkan matanya. Ucapannya begitu serius. Sania merasa ketakutan.
Dia dengan tenang berkata, "Coba saja." Entah dapat keberanian dari mana, Sania masih saja menantangnya. "Coba saja. Jika kamu tega membunuhku, aku berterima kasih padamu. Aku bisa bertemu dengan ayah dan ibuku nanti." Sania meneteskan air matanya. Dia teringat dengan mendiang orang tuanya. Iya, jika dia mati. Dia bisa bertemu dengan mereka.
Son terkejut mendengar jawabannya.
"Orang tuanya sudah meninggal?"
Dia terdiam seraya tangannya masih menggenggam erat selimut milik istrinya. Terdengar isakan kecil.
"Kau menangis?" tanya Son. Sania tak dapat menahan tangisannya. Dia tiba-tiba menjadi sangat sedih. Hatinya begitu rindu dengan sosok kedua orang tuanya.
"Hey! Apa kau menangis?" tanya lagi. Sania pun beranjak turun dari ranjang, dia berlari menuju kamar mandi. Di dalam sana, dia menangis tersedu-sedu.
Bayangan kedua orang tuanya melintas begitu saja. Tubuhnya ambruk ke lantai. Dia berjongkok sambil memegangi kedua lututnya. Jika dia bisa memilih, dia ingin bersama kedua orang tuanya saja di akhirat.
"Bunuh saja aku! Bunuh saja aku!" teriaknya menggema di dalam kamar mandi. Dia meluapkan kekesalannya di sana. Sedangkan Son, dia merasa bersalah sekarang. Hatinya begitu terenyuh mendengar perkataan Sania tadi. Dia juga manusia, dia masih memiliki hati. Kehilangan orang yang tersayang, memang sangat menyakitkan.
.
.
.
Selamat pagi semuanya. Salam hangat untuk kalian semua.
Terima kasih ya untuk waktunya sudah mau membaca karyaku yang masih recehan ini. Hehe
Terima kasih masih setia sama aku.
Aku doain semoga kalian selalu diberi kesehatan dan rejeki yang berlimpah. Aamiin
__ADS_1