ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 24 KEMARAHAN SANIA


__ADS_3

Sebenarnya sudah sejak lama Sania berusaha menghubungi Paman dan Bibinya, tapi tak ada jawaban. Dan terakhir kemarin, nomernya mendadak tidak aktif semua.


Jalan satu-satunya adalah ke kampus Maria. Semoga saja hari ini Maria ada jadwal masuk kelas. Sehingga Sania bisa menanyakan langsung pada Maria tentang penjualan rumah itu.


Suasana kampus terlihat sangat ramai, beberapa mahasiswa berbondong-bondong keluar dari kampus. Mungkin ada yang kelasnya sudah selesai atau mungkin mereka pergi mencari makan siang.


Seorang gadis berambut pendek berdiri di depan halte. Dari kejauhan, Sania bisa melihat bahwa itu adalah Maria. Tapi sayang sekali, jarak mereka begitu jauh. Sania berusaha melambaikan tangannya dan memanggil-manggil namanya tapi Maria tidak dengar. Hingga sebuah bus datang dan berhenti, membuat Maria akhirnya naik tanpa tahu ada seseorang yang berusaha mengejarnya.


"Maria!!!!" Sania berteriak dengan keras. Membuat semua orang melihat kearahnya. Keringat mengucur di dahinya, menunjukkan betapa lelahnya dia.


"Maria ... Tunggu." Suara Sania melemah. Tapi bus itu sudah melaju sangat kencang. Sia-sia sudah usaha Sania datang ke kampus demi bertemu Maria. Mata Sania berpendar mengelilingi seluruh isi kampus. Sayang sekali, Sania tidak tahu siapa saja yang menjadi teman Maria. Dia tidak tahu, Sania harus mendatangi siapa.


"Nona, Anda mengejar siapa?" Pak Sopir yang khawatir akan keselamatan Sania turun dari mobil dan menghampiri nonanya. "Bahaya Nona, di sini banyak kendaraan melintas. Kita pulang ya, Nona. Leo sudah menelepon saya sedari tadi. Saya juga takut kena marah tuan Math jika tau menantunya pergi lama meninggalkan rumah. Tuan Son membutuhkan Anda, Nona," cerocosnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi." Sania masih diam di tempat.


Rumah Paman dan Bibinya kini sudah menjadi milik orang lain. Orang lain tersebut memang belum sempat menempatinya. Nomer yang tertera di spanduk, juga sudah tidak aktif karna rumahnya pun sudah dibeli. Sania ingin mencari Paman dan Bibinya. Bagaimana pun mereka adalah anggota keluarga Sania satu-satunya. Juga Pak Mail, Sania merindukannya. Semoga saja kepergian mereka, Pak Mail juga ikut.


Sania sampai rumah hampir petang. Jarak yang cukup jauh, membuat perjalanan mereka pulang begitu lama.


"Nona, Anda kemana saja? Nanti malam tuan Math dan nyonya Luzi akan kemari." Baru saja turun dari mobil, Paman Leo sudah mengatakan kabar yang mengejutkannya.

__ADS_1


"Ayah dan Ibu akan kemari? Kenapa tidak memberitahuku sedari tadi!" Sania dengan cepat masuk ke rumah. Sebagai menantu yang baik, dia harus mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Menyajikan makanan yang lezat juga memberikan kenyamanan. Dan juga dia ingin mereka melihat bahwa hubungannya dengan Son juga baik-baik saja.


"Nona, saya ijin pulang. Waktu saya sudah habis menemani tuan Son." Sania membalikkan tubuhnya menghadap Paman Leo.


"Paman tidak bisakah membantuku sebentar?" Lelaki paruh baya itu menggeleng dengan berat. Dia pamit dan segera keluar dari rumah.


"Pelayan! Di mana suamiku?" Rasanya hari ini benar-benar membuatnya kesal. Banyak kejadian tak terduga yang membuatnya semakin tersiksa. Belum mengetahui di mana keberadaan keluarganya dan sekarang Sania harus dihadapkan dengan kedatangan mertuanya. Sania tidak mungkin menampakkan kesedihannya saat ini kepada mereka.


"Ayah dan Ibu nanti malam akan datang ke sini. Aku ingin kau bersikap lembut kepadaku." Janji Sania pada Math begitu besar. Dia tak mau membuatnya kecewa. Dia ingin membuat Son menjadi sosok pria yang dulu mereka kenal.


"Siapa kau mengaturku? Aku tidak mau. Dan pergi dari kamarku!" usirnya dengan lantang. Sudah kesekian kali Son mengusirnya. Berbicara dengan nada tinggi. Sania sudah terbiasa akan itu. Tapi kali ini, suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja membuatnya merasa lelah harus bersikap baik-baik saja. Lelahnya dia hari ini seakan tidak ada habisnya. Dia merasa lelah dengan kehidupannya selama ini. Kebahagiaan tak pernah dia dapat padahal dia sudah berusaha menjadi manusia yang baik.


"Aku tidak akan pergi! Sampai kapan pun sebelum kau bisa melihat kembali, aku tidak akan pergi! Apa kau pikir selama ini aku tidak lelah? Tidak lelah mengurusi pria seperti dirimu? Aku masih muda, aku masih berumur 18 tahun. Masa mudaku harusnya tidak aku habiskan untuk menjadi istri dari lelaki sepertimu. Cepatlah setujui permintaan ayah untuk operasi mata. Lihatlah kembali dunia dan aku tidak akan pernah lagi menunjukkan wajahku dihadapanmu!"


Sania dengan keras membanting pintu. Dia keluar dari kamar sambil menangis. Dia menangis tersedu-sedu. Hatinya sungguh sakit. Saat semua kata yang dia lontarkan seakan menunjukkan kekesalannya selama ini. Dia lari ke halaman belakang. Berharap di sini tak ada seorangpun yang melihatnya menangis.


"Ayah, Ibu ... Aku merindukan kalian." Hatinya menjerit sangat rindu. Merindukan dekapan hangat dari kedua orang tuanya. Sekarang tak ada sandaran untuknya menangis dan mengadu. Pak Mail yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah, sekarang entah di mana. Dia semakin kesal dengan dirinya sendiri, kenapa tidak dari kemarin-kemarin Sania mendatangi rumah Paman dan Bibinya. Sekarang, jejak mereka seakan hilang.


Tangannya melemah, seluruh tubuhnya rasanya lemas. Ingin rasanya berteriak tapi dia tidak mau membuat semua orang merasa kasihan padanya. Mendengar kata-kata dari seseorang yang sangat dia benci seharusnya tidak akan sampai ke hati. Tapi kata-kata itu seakan menusuk jantungnya terlalu dalam. Dia begitu kesakitan saat kenyataan dari orang lain merasa kesusahan karenanya.


"Son, di mana Sania?" Suara dari seseorang yang paling dekat dengannya saat ini memberikan kesejukan sedikit untuknya.

__ADS_1


"Ayah ...." Suara Son memanggil namanya. Sosoknya sebagai Ayah kini tidak setiap hari bisa dia rasakan. "Ayah, kenapa membuangku di sini." Son kecewa, kenapa Ayahnya tega memindahkan tempat tinggalnya di sini. Tanpa seorang pun yang bisa dia percayai. Bahkan Paman Leo tidak diberi tempat di sini untuk menjaganya setiap saat.


"Siapa yang membuangmu, Son? Kau sudah menikah, kalian berhak menjalani rumah tangga tanpa bayang-bayang Ayah lagi," tuturnya lembut tapi Son menggeleng.


"Aku tidak akan pernah melupakan Vennie, Yah."


"Siapa yang menyuruhmu melupakannya? Kenang lah dia, sebagai cinta sejatimu. Tapi ingat, kau juga harus memperlakukan pendamping hidupmu dengan baik. Cintai dia, walau cinta mu tak sebesar untuk Vennie." Math membawa Son dalam pelukannya. Dia sangat menyayangi putra bungsunya. Melihat wajahnya, mengingatkan dirinya pada satu sosok yang membuatnya tak kan pernah lupa.


"Ayah ... Apa selama ini Ayah merasa kesusahan mengurusku?"


"Tidak. Ayah tidak pernah susah. Ayah akan lakukan apa pun yang terbaik untukmu."


Luzi hanya bisa memandangi dua sosok pria yang sangat ia sayangi dari ambang pintu. Rasanya dia tak ingin merusak momen keduanya yang begitu hangat. Dia hanya bisa mengalah, tak pernah Luzi dalam situasi seperti itu. Pelukan yang dulu sering dia rasakan bersama Son, kini tak lagi dia rasakan.


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Luzi hanya menginginkan yang terbaik untuk putra-putranya. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali terus berdoa. Bahkan tak hentinya dia berdoa, agar Son mau menyetujui operasi mata yang sering ditawarkan Math. Sania adalah harapan Luzi satu-satunya. Menumbuhkan benih cinta di hati Son, itu adalah tujuannya.


.


.


.

__ADS_1


Like ya kalau kalian Sukaaaaa. .. hehe


__ADS_2