ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 39 CINTA?


__ADS_3

Takdir berubah begitu cepat. Dulu di atas, kemarin di bawah, sekarang kembali seperti semula. Rasanya seperti mimpi. Diberi musibah lalu tiba-tiba diberi sebuah hadiah. Apa yang akan terjadi esok itu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Semuanya terjadi begitu saja. Itu lah hidup, jika kita ikhlas menjalani apa pun yang terjadi pasti kita bisa melaluinya.


"Ayah, apa sebaiknya kita mencari ibu saja?" Anak gadisnya merindukan sosok ibunya. Tapi rasa sakit yang hinggap di hatinya belum juga hilang. Masih membekas dan mungkin tak kan pernah hilang. Dia mengalihkan pandangannya pada sosok putrinya yang saat ini sedang menunduk. Dia sangat menyayangi putrinya. Mendapatkan keturunan itu sangat lah sulit.


"Jangan mencari ibumu. Dia pergi dengan sendirinya, jika dia ingin kembali juga dengan keinginannya sendiri." Tangannya beralih meneguk minuman di depannya. Pikirannya sangat kacau mengingat betapa tega istrinya meninggalkan mereka disaat keterpurukan. Bahkan membawa barang berharga milik mereka.


"Tapi, Yah. Maria rindu Ibu." Ucapannya menyayat hati Raul. Begitu polosnya hati putrinya. Ibunya telah dengan sengaja meninggalkannya, tapi kata rindu itu berhasil lolos dari mulutnya. Raul percaya, bahwa seorang anak memang tak pernah menganggap kedua orang tuanya jahat, sekali pun mereka dijahati.


"Doakan saja, agar ibu mu dalam keadaan baik-baik saja. Sudah malam, istirahat lah." Raul beranjak bangun, dia berjalan menuju kamarnya. Sedangkan Maria, dia masih duduk dengan pandangan kosong. Satu bulir air matanya menetes. Dia ingin keluarganya lengkap kembali. Bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya.


"Nona, jangan menangis." Sejak kepergian Sania, Pak Mail sekarang lebih dekat dengan Maria.


Maria menghapus air matanya perlahan. Dia merasa malu terus menerus menangis di depan Pak Mail. Bukan kah dulu dia gadis yang sombong? Bersedih di depan orang lain, itu sangat lah memalukan.


"Nona, tuan Raul sangat menyayangi Anda. Dia ingin yang terbaik untuk Anda." Bukan berarti Pak Mail ingin ikut campur, tapi tindakan dan perkataan majikannya memang benar. Nyonya Lotus telah meninggalkan mereka dengan sengaja, jika dia ingin kembali berarti dengan keinginannya sendiri saja. Jangan karna paksaan.


"Maria ingin tidur, Pak," pamitnya kemudian. Dia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kepalanya terasa berat karna memikirkan banyak hal.


***


Malam berganti pagi dengan cepat. Gadis yang tengah terlelap dengan posisi sembarangan, terlihat menggeliat. Matanya mengerjab karna merasakan silau. Seorang pelayan wanita datang untuk membuka gorden yang masih tertutup. Hari sudah semakin siang, dia terpaksa masuk dan membuat kamar itu terasa hidup lagi.


"Silau ...." Sania merasa tidak nyaman. Rasanya dia baru saja terlelap tapi sudah diganggu, membuatnya tak bisa melanjutkan tidur kembali.


"Nona, maaf. Sebaiknya Nona segera membersihkan diri. Tuan Math dan nyonya Luzi akan berkunjung kemari." Dengan cepat Sania langsung bangun. Tapi kepalanya tiba-tiba berputar. Dia merasakan pusing.


"Nona, Anda kenapa?" Sania masih memegangi kepalanya. Dia sepertinya kurang tidur.

__ADS_1


"Tidak, tidak apa-apa. Kau bilang apa barusan? Ayah dan ibu akan ke sini? Jam berapa?" Sania melirik jam dinding. Ini sudah terlalu siang. Bagaimana mungkin dia bangun sesiang ini?


"Son, dimana dia?" Dia kepikiran dengan suaminya.


"Son, ada di mana?" Sejak kepulangannya dari makam, Sania mengurung diri di kamar hingga malam menjelang. Dia tak keluar kamar sekali pun. Rasa kesalnya masih terasa hingga saat ini karna melihat kedekatan Son dengan Meylin.


"Tuan Son ada di meja makan, Nona. Dia sarapan bersama Leo," ujarnya memberitahu. Mendengar nama Paman Leo, itu sudah membuatnya tenang. Son akan aman saja jika dengan Paman Leo.


Di ruang makan, mereka berdua tampak sibuk dengan makanannya masing-masing. Pagi ini, Leo datang lebih awal. Karna ia tahu bahwa Sania sepertinya sedang ada masalah. Sejak kepulangannya kemarin dari makam, setibanya di rumah Leo memang sengaja tidak menghampiri atau pun menanyakan langsung pada Sania mengapa ia pulang lebih dulu.


Leo mendapatkan penjelasan dari Sopir kemarin, bahwa setelah Math mengajak bicara Sania, gadis itu tiba-tiba menginginkan pulang ke rumah.


"Son, sebaiknya setelah makan kau temui istrimu. Mungkin dia sedang ada masalah," tutur Paman Leo. Son tidak peduli, dia tidak menjawab. Memilih tetap melahap makanan hingga habis.


"Son, dengarkan Paman—"


Paman Leo menghembuskan napasnya. Mereka adalah pasangan suami istri, mengapa sangat sulit sekali untuk saling peduli.


"Selamat pagi, Paman." Darien yang entah tiba-tiba muncul dari mana menyapa Paman Leo yang saat itu juga merasa terkejut dengan kehadirannya.


"Pagi juga, Tuan Darien. Rasanya saya baru melihat Anda." Darien tersenyum, dia memilih duduk di dekatnya. Son membuang muka, dia tidak suka dengan kehadiran kakaknya itu.


"Son, kau sudah selesai sarapan?" tanyanya. Darien akan tetap tinggal di sini, walaupun Math belum mau berbicara lagi dengannya. Math seperti masih mendiamkannya. Dan Darien juga tidak masalah dengan itu. Dia sudah tidak peduli dengan sikap ayahnya terhadapnya. Memang bukan dia yang menjadi anak kesayangan ayahnya.


"Jangan mengganggu sarapanku!" ujarnya dingin. Tangannya mengepal. Setiap perkataan dari Darien membuatnya kesal.


"Aku tidak mengganggu, aku lihat piring mu sudah bersih. Apa kau tidak lihat?" sindirnya membuat Son benar-benar kesal.

__ADS_1


Leo berdiri. Tidak mau perdebatan mereka berlanjut. Leo membawa Son pergi. Darien membanting sendok asal. Melihat adiknya yang buta, tapi masih saja banyak orang yang peduli dengannya.


"Dasar menyusahkan!" gerutunya.


Disaat dia sedang menggerutu karna kesal. Dia melihat Sania berjalan mendekat. Wajah polosnya tampak tersenyum ke arahnya. Tubuhnya yang mungil serta kulitnya yang bersih, membuat daya tarik tersendiri. Baju yang dipakai pun terlihat cocok di badannya.


"Sania, kau ingin sarapan?"


Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Dia mencari seseorang.


"Kau mencari suami mu? Dia sudah selesai sarapan." Darien memberitahu membuatnya akhirnya duduk, dimana dia duduk di kursi yang sebelumnya di duduki oleh Son. Mereka saat ini saling berhadapan. Darien tak hentinya memandangi Sania yang sedang mengambil nasi ke dalam piringnya.


"Kakak, biar aku ambilkan," tawarnya dan Darien menyodorkan piringnya.


"Sania, bolehkah Kakak bertanya padamu?" Gadis itu mengangguk. Tangannya masih sibuk dengan makanan yang ingin ia ambil. Begitu banyak lauk pauk yang menggugah seleranya.


"Umur kamu berapa?" tanya Darien tiba-tiba membuat Sania terkejut.


"Umur Sania 18 tahun, Kak." Darien sebenarnya sudah tahu. Dia hanya ingin berbasa-basi dengan adik iparnya. Tapi melihatnya sekarang, dia merasa kasihan. Sampai detik ini Darien tidak tahu apa maksud ayahnya menikahkan Son dengan gadis sepertinya. Entah apa yang sudah terjadi, dan mengapa gadis ini mau menikahi seorang pria buta.


"Sania, apa kau mencintai adikku?" Pertanyaan Darien membuat Sania membeku. Dia terdiam beberapa saat. Jawaban yang sulit untuk dijawab. Tapi melihat Son dekat dengan seorang wanita dia kesal? Dan saat dia berdekatan dengan Son dia merasa nyaman. Tapi apa itu layak disebut rasa cinta? Cinta yang tak terbalas.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2