
Tak hentinya matanya melihat suaminya yang sedari tadi hanya diam, dia sibuk menyantap makanannya.
"Kau katanya ingin ke kantor?" Sania memberanikan diri membuka suara. Son menghentikan pergerakannya, dia balik menatap istrinya. Sania menjadi menciut melihat tatapan tajam suaminya.
"Kenapa kau mau dirangkul pria lain? Apa kau merasa nyaman dengannya?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, dia malah melemparkan pertanyaan yang lain.
Sania menggeleng. "Tidak, aku juga berusaha melepaskan tapi—"
"Tapi kau tidak bisa menolak!" potongnya cepat.
"Tidak, bukan seperti itu—"
"Cepat habiskan makananmu! Aku tunggu di mobil." Son berjalan keluar setelah ia membayar semua totalannya di meja kasir.
"Bagaimana ada rumah makan di tengah-tengah hutan seperti ini? Menyeramkan." Sania melangkahkan kakinya menuju mobil tapi ia tak menyia-nyiakan melihat pemandangan yang ada di sekitarnya. Tempatnya memang luas dan juga sejuk, tapi setelah keluar yang dilihat hanyalah pohon-pohon yang tinggi dan besar.
Sepanjang perjalanan mereka terdiam. Tak ada yang berani membuka percakapan. Juga Son yang terlihat sibuk dengan ponselnya, hingga tiba-tiba ada satu panggilan masuk. Sania meliriknya dan melihat siapa nama kontak yang menghubungi suaminya itu.
"Meylin."
Sania memalingkan wajahnya, kenapa harus nama itu.
"Aku sedang di jalan. Sebentar lagi sampai di rumah. Ada apa?"
Panggilan terputus, tak ada jawaban lagi dari suaminya membuat Sania menerka-nerka apa yang diucapkan Meylin barusan.
Baru saja memasuki gerbang, Sania sudah bisa melihat mobil yang kemarin juga datang kesini.
"Meylin ada disini?" tanya Sania tanpa memandangnya. Hatinya begitu kesal.
__ADS_1
"Iya," jawabnya acuh. Sania lantas turun mobil dan berjalan cepat. "Hey, tunggu!" Son mengejar langkah Sania dan kemudian menggenggam erat jari jemarinya. Berjalan bersama sambil bergandengan. Sania yang melihat perlakuan manis Son seketika terdiam.
"Son ...." Meylin ternyata sudah duduk di ruang tamu. Dia menatap kedua pasangan suami istri itu bergantian. Juga melihat tangannya yang saling menyatu. Kemudian pandangannya beralih pada Son. "Bagaimana apa kita mau pergi sekarang?" tanya Meylin tanpa basa-basi.
Kepalanya seketika menoleh pada sang suami. Mereka berdua janjian pergi bersama?
"Pergi? Kemana? Aku sibuk hari ini. Aku harus ke kantor. Mungkin jika kau ingin kesana sendirian tidak apa-apa. Aku sudah tidak peduli," jawab Son membuat Meylin bingung.
"Bukankah kau ingin melihatnya tersiksa di dalam penjara?" tanyanya lagi.
"Tidak. Itu bukan urusanku lagi," jawabnya.
Sania mengerti sekarang. Mungkin yang mereka maksud adalah pria yang pernah mencoba mendekati Vennie dulu.
"Son .... Ini menyangkut Vennie lhoo." Meylin mencoba membujuknya.
"Tidak, Vennie tidak ada sangkut pautnya tentang ini. Dia sudah tenang di sana. Meylin, aku harap kau tidak datang kemari lagi jika kau masih mencoba mengganggu hubunganku dengan Sania. Jangan mencoba membuat Sania berpikiran yang tidak-tidak." Lagi-lagi Sania terkejut mendengar ucapan suaminya barusan. Son membelanya? Dia bahkan mengusir nenek sihir itu dengan bahasa yang halus.
Setelah Meylin benar-benar pergi, Son melepaskan genggamannya. Dia berjalan masuk akan mengambil tas kantornya. Hari sudah semakin siang, Math pasti sedang menunggunya di sana.
"Kau tidak jadi ke kantor?" Sania mengikuti arah langkah kakinya, dia menuju kamarnya.
"Diam lah di rumah. Kalau bisa jangan keluar kamar sebelum aku pulang. Kakak ipar kesayanganmu itu pasti masih ada di sini."
"Siapa? Kak Darien? Aku pasti baik-baik saja kok," ucapnya meyakinkan.
"Aku tidak yakin dengannya," jawabnya.
"Tunggu!" Sania tiba-tiba membuka lemarinya. Dia mengambil sebuah paper bag yang berada di bawah. Dia mengambil sesuatu di dalam sana. "Pakai ini," suruhnya sambil menyodorkan sebuah gelang berinisial. "Ini hadiah dari kak Rico. Lebih tepatnya oleh-oleh dulu saat kak Rico pulang dari luar kota."
__ADS_1
Son tiba-tiba melepaskan gelang yang dipakaikan Sania. Melemparnya jauh hingga Sania tidak dapat menemukan. Sania menatapnya dengan kesal.
"Kenapa dibuang? Kita akan memakainya berdua. Lihat ini! Aku juga punya," ujarnya sambil memperlihatkan gelang miliknya.
"Jelek! Aku bisa membelinya yang lebih bagus!" ucapnya sombong.
"Kenapa? Kau tidak mau memakai pemberian dari kak Rico? Kenapa? Apa yang salah dengannya? Kalian ini saudara. Kak Rico sudah baik terhadapku dan juga terhadapmu, kenapa—"
"Diam! Sudah aku bilang dari dulu, aku dan mereka bukan saudara! Mereka—"
"Iya aku tahu! Kalian semua lahir di rahim yang berbeda. Tapi kalian diurus oleh seorang wanita yang sama, kasih sayang yang diberikan juga sama. Lihatlah kebaikan seseorang jangan hanya melihat satu keburukannya saja," kata Sania tak mau kalah. Mereka akhirnya berdebat sengit. Mereka sama-sama keras kepala, tidak mau mengalah.
"Kau tau apa tentang keluargaku?" Son berjalan mendekatinya, membuat Sania akhirnya dibuat mundur. Dia berjalan mundur saat Son berjalan terus membuatnya kini bersender di tembok. Son memegang dagunya, menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya. "Kau ini gadis kecil. Jangan sok tahu!" Son mengecupnya sekilas. Hingga bibir yang semula kering menjadi basah olehnya.
"Jangan memancingku! Aku mau ke kantor sekarang!" ucap Son lagi. Sania merasakan debaran jantungnya yang kencang. Tak kunjung reda, walaupun Son sudah pergi sedari tadi.
"Aku bukan anak kecil!" teriaknya dalam hati.
Son sepertinya sangat sensitif jika berbicara masalah keluarganya. Tapi sebagai istri, Sania ingin hubungan mereka semua seperti keluarga yang lain. Dia ingin Luzi dianggap oleh Son. Mana mungkin seorang ibu harus kehilangan kasih sayangnya dari seorang putranya. Itu sangatlah menyakitkan.
Di dalam mobil, Son mengacak rambutnya kasar. Sania sepertinya sudah tahu segalanya tentang silsilah keluarganya. "Siapa yang memberitahunya?" tanyanya ke diri sendiri.
Son masih merasa sakit hati, jika teringat ibu kandungnya. Dia benar-benar tidak terima, selama hidupnya Angela, ternyata ibunya merasakan sakit hati setiap hari.
"Son, ayo makan. Ibu sudah membuatkan makanan kesukaanmu," ajak seorang wanita paruh baya yang sangat perhatian.
"Lepas! Aku tidak mau!" tolaknya keras sambil menepis tangannya yang bersandar di pundaknya.
"Kau belum makan dari semalam. Perutmu pasti kosong." Son lagi-lagi menepis tangannya, saat tangan itu akan menyentuh perutnya. Son kecil berdiri, dia membanting buku tebal ditangannya ke lantai. Luzi terjingkat kaget.
__ADS_1
"Kalau aku bilang tidak mau, ya tidak mau! Pergi!" usirnya membuat Luzi bingung. Dia melirik buku tebal itu dan ingin mengambilnya tapi Son menghalangi. "Jangan menyentuh barang-barang ku! Jangan lancang!" Luzi sangat sakit hati saat Son membentaknya. Tidak tahu apa yang tiba-tiba membuat Son jadi berani membentaknya seperti itu.
"Aaarrgggggggghhhhhh!!!!!" Son mengerang di dalam mobil. Kejadian buruk itu selalu saja melintas di kepalanya. Rasanya sakit saat membaca buku diary milik Angela yang isinya tentang perasaan sakit hatinya dikhianati. Son tidak terima ibunya diperlakukan seperti itu.