ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 26 KABAR GEMBIRA


__ADS_3

Pelayan wanita yang muda terlihat bergerombol di suatu sudut ruangan. Mereka sedang asyik membicarakan pria tampan yang baru saja datang.


"Hey, kalian sedang apa?" tegur pelayan senior. Dilihat lah satu persatu wajah pelayan yang bisa-bisanya berkumpul disaat jam kerja.


"Kembali ke kerjaan kalian masing-masing," suruhnya seraya mengacungkan jarinya mengusir.


Kepalanya menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan mereka semua. Walaupun memiliki majikan yang baik, tapi mereka tidak bisa semena-mena.


"Tuan, apa yang bisa saya bantu?" Darien yang baru saja datang menghampiri pelayan senior.


Belum sempat menjawab, ponsel di sakunya berdering. Mulai hari ini Darien akan tinggal di rumah baru Son. Itu atas perintah dari Math. Math ingin memastikan bahwa Son dan menantunya tidak pisah kamar lagi. Mereka harus segera bersatu bagaimana pun caranya.


"Sania, kau mau kemana?" Darien memang tidak kalah tampan dengan Son. Pria yang umurnya lebih dewasa dari suaminya tampak sangat berkarismatik.


"Sania mau memasak, Kak," jawabnya seraya tersenyum. Keluarga dari suaminya memang sangat baik terhadapnya. Tak ada satu pun yang menganggapnya musuh.


"Untuk apa? Ada banyak pelayan. Kau istirahat saja atau temani saja Son." Sania bingung, tidak enak jika harus menolak perintah dari Darien. Tapi Sania sudah terbiasa memasak untuk Son. Pria itu akan makan banyak, jika dia memakan masakannya. Walaupun Son tidak tahu jika itu masakannya.


"Son sedang bersama paman Leo, Kak," jawab Sania. Mereka saling pandang beberapa detik. Hingga akhirnya Darien pun mengangguk dan membiarkan Sania berjalan ke dapur.


Dari kejauhan, Darien memandangi adiknya yang sedang berbincang dengan Paman Leo. Mereka terlihat sangat akrab. Bahkan tawa Son yang jarang dia dengar, saat ini dia bisa mendengarnya. Walaupun tawanya tidak selepas dulu.


"Tuan, ada tuan Darien di sana. Saya akan memanggilnya sebentar."


"Jangan!" sergahnya cepat. Son menggeleng, dia tidak mau bertemu dengan saudaranya. Kekecewaan yang terjadi waktu itu, tak bisa dia hilangkan begitu saja.


"Tuan Darien akan tinggal di sini, Tuan. Kalian harus memiliki hubungan yang baik. Jangan ada dendam," tutur Paman Leo. Beliau mengusap pundak Son dengan lembut, memberikan ketenangan padanya.


"Kenapa harus tinggal di sini? Siapa yang menyuruhnya?"


"Tuan Math yang menyuruh tuan Darien tinggal di sini, Tuan."


Lagi-lagi Ayahnya, Son semakin tidak suka. Sepertinya semakin ke sini, Ayahnya terlalu mengaturnya. Tak ada kebebasan untuk hidupnya sendiri.


****

__ADS_1


"Keyla, kau tidak apa-apa? Apa kau sedang sakit? Wajahmu pucat, sayang." Luzi yang tak sengaja melihat Keyla keluar kamar mandi dengan wajah yang pucat, ia pun segera menghampiri.


"Ibu ...." rengeknya manja. Dia bersender di bahu ibu mertuanya.


"Kenapa? Apa yang kamu rasakan? Apa yang sakit?" tanyanya bertubi.


Keyla tiba-tiba bergerak ke arah lemari. Di ambil lah sesuatu dari dalam laci. Dia memberikannya pada Luzi dengan wajah yang datar.


"Apa ini, sayang?" Luzi membuka benda mungil yang dibungkus oleh plastik kecil. Dia membukanya pelan dan terkejut saat mengetahui apa itu isinya.


"Keyla, kamu hamil!" Luzi berteriak senang. Wajahnya berseri-seri dan tak hentinya memeluk sang menantu. Menciumi bertubi-tubi selayaknya seperti putri kandungnya sendiri.


"Kapan kamu mengeceknya, sayang?" Luzi benar-benar bahagia. Tak menyangka bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang Nenek.


"Kemarin, Bu. Tapi Keyla belum sempat memberitahu Rico. Keyla ingin menunggu Rico pulang dari luar kota dan akan memberitahukannya langsung."


Luzi masih berbunga-bunga. Dia menuju dapur dan dengan semangat memotong buah-buahan untuk dibawa ke kamar Keyla. Janin yang ada di perutnya harus memakan makanan yang bergizi.


"Biar saya saja, Nyonya," ucap salah seorang pelayan yang memergoki majikannya sedang memotong buah-buahan sendiri di dapur.


"Tidak usah," tolak Luzi menyuruh pelayan tadi pergi.


****


"Malam ini aku akan tidur bersama Keyla. Aku akan menemaninya selama Rico belum pulang."


BRAKKK!!!


Tanpa menunggu jawaban Math, Luzi langsung saja pergi. Dia menutup pintu agak keras, sehingga mengalihkan perhatian Math yang sedari tadi tertuju pada ponsel.


"Apa barusan dia bilang?" Math tampak tak peduli. Dia letakan ponselnya di atas nakas dan mulai memejamkan matanya.


Harusnya dia cepat untuk terlelap, mengingat hari ini dia sangat lelah. Tapi entah kenapa, dia tidak bisa tidur. Bayangan Luzi yang setiap hari berada di sisinya, kini seakan lenyap, membuatnya tak bisa konsentrasi. Dia bangkit dan duduk seraya menyenderkan tubuhnya pada dipan kasur.


Matanya menuju pintu yang tertutup rapat. Rasanya dia ingin sekali keluar. Tapi keluar untuk apa? Apa dia tidak bisa tidur karna tak ada Luzi di sisinya? Bukan kah selama Luzi berada di sisinya, Math tidak peduli?

__ADS_1


KLEK!!!


Pintu dibuka oleh Math. Tempat yang ia tuju adalah dapur. Dia mengambil minuman dingin untuk sekedar membuatnya rileks.


"Kamu belum tidur?" Suara dari seorang wanita yang sudah menemaninya bertahun-tahun sangat familiar di telinganya.


"Belum," jawabnya acuh masih sambil meneguk minuman itu hingga habis.


"Tumben. Biasanya kau selalu tidur duluan dibanding aku." Math tak mau menjawab. Dia sibuk memandangi Luzi yang berdiri membelakanginya. Luzi menyalakan kompor untuk membuat satu hidangan.


"Sedang apa? Apa kau lapar malam-malam begini?"


Aroma sedap dari roti panggang, mengalihkan perhatian Math. Kakinya bergerak mendekati Luzi yang sedang memanggang roti.


"Roti panggang?" Luzi mengangguk.


"Ini untuk Keyla. Kau pasti belum tahu kabar gembira dari menantumu itu. Keyla sedang hamil. Dan dia bilang ingin roti panggang." Math begitu terkesiap. Tidak mengetahui kabar besar yang bahagia itu.


"Kenapa aku tidak diberi tahu?"


"Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Dan hari ini sudah aku beri tahu. Tapi kau harus jaga rahasia. Rico belum mengetahuinya. Keyla akan memberikan kejutan padanya setelah dia pulang."


Math pun mengangguk patuh. Luzi memberikan satu roti panggang untuk suaminya. Dan pamit untuk segera menuju kamar Keyla. Tak sabar untuk mencicipi roti panggang buatan istrinya, Math sampai tak sadar jika Luzi diam-diam memperhatikannya dari lantai atas. Math begitu lahap menyantap roti panggang buatannya, membuat Luzi terenyuh. Tak banyak hal yang bisa Luzi lakukan untuknya, tapi sebagai seorang istri dia harus sabar menjalani kehidupannya bersama Math. Sikap dingin dan acuh Math, sudah menjadi makanan sehari-harinya.


"Enak sekali," pujinya setelah roti itu habis tak tersisa.


Setelah dirasa cukup kenyang, Math pun kembali ke kamar. Tapi ditengah perjalanan, dia penasaran dengan Luzi dan Keyla. Dia diam-diam melangkah ke arah kamar Keyla. Dan kebetulan saat dilihat, kamar itu tak sepenuhnya di tutup. Ada celah untuknya mengintip ke dalam.


"Bagaimana? Enak, kan?" Luzi terlihat menyuapi Keyla dengan penuh perhatian. Math tak hentinya memandangi momen indah itu dari balik pintu.


"Dia memang wanita yang baik."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2