ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 112 SON DAN LUZI


__ADS_3

Mobil mereka berhenti tepat di depan penginapan. Suasananya sunyi, tak banyak orang yang masuk ke dalam sana. Mereka berjalan bersama menuju kamar yang dulu Sania pesan.


"Jika ibu tak mau pulang. Tolong kau berusaha membujuknya." Son menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tak mau melakukan apa yang diminta istrinya tersebut.


"Tidak mau. Aku hanya mengantarkan mu kesini. Urusan itu aku tidak mau tahu."


"Oh baiklah. Jika tidak mau, tidak apa-apa. Kau bisa pulang sekarang." Kini Sania berdiri membelakanginya, merasa kesal. "Pergilah! Aku bisa mengurus diriku sendiri dan calon bayiku ini," ujarnya seraya mengelus perutnya.


Kini Son merasa kalah, istrinya ini sedang mengandung. Tak mungkin ia membuatnya kesal dan cemberut seperti ini. Sebisa mungkin ia menjaga mood istrinya.


"Baiklah. Aku yang akan membujuknya," pasrahnya kemudian.


Sania tersenyum senang dalam hati lalu perlahan ia mengetok pintunya. Tak butuh waktu lama, pintu pun terbuka.


"Sania kau kesini dengan sia—" Son menggeser tubuhnya agar terlihat. Luzi begitu terkejut melihat Son dan Sania yang datang bersama. "Sania ...." Terlihat kedua mata Luzi yang kecewa. Dia masuk ke dalam tanpa mempersilahkan menantunya untuk masuk.


"Ibu, maafkan Sania. Sania dan Son kesini hanya ingin menjemput Ibu."


"Ibu merasa nyaman disini, kalian pulang saja." Biasanya Luzi akan senang melihat wajah Son, tapi kini dia tak ingin hanyut dalam suasananya. Pikirannya sedang penuh, banyak yang ia pikirkan.


"Ayah sedang dirawat di rumah sakit. Apa Anda tidak ingin melihatnya?" Luzi tersenyum miring. Berita tentang suaminya yang di rumah sakit telah ia terima.


"Ibu sudah tahu, Son. Dan Ibu tidak peduli."


Jawaban Luzi membuat keduanya menjadi merasa terheran-heran. "Ibu, sebenarnya apa yang telah terjadi diantara kalian berdua?"


Luzi terdiam, dia hanya memainkan jari jemarinya saja. Sedangkan Sania tak hentinya menyenggol lengan suaminya untuk gantian berbicara.


"Pulanglah. Setidaknya Anda bertemu dengan kedua putramu. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Anda."


"Aku tidak punya anak! Aku mandul! Apa kau tahu?" Luzi kini tak dapat lagi menahan sesak di dadanya. "Aku tidak memiliki anak. Rico dan Darien bukan putraku!!!" serunya sambil menatap Son dan Sania bergantian. Luzi menangis tersedu-sedu, hidupnya ini sendirian. Rasanya tak ingin ada lagi yang mengganggu hidupnya.


"Ibu ...." Sania ikut menangis melihat ibu mertuanya yang terlihat menyedihkan.

__ADS_1


"Kalian pulang saja. Di dunia ini aku hanya sendirian. Apa kalian tahu? Aku memiliki suami yang tak pernah mencintaiku? Bukan karna aku mandul, tidak! Bahkan sekalipun aku melahirkan anak untuknya, cintanya tak pernah ada untukku. Cintanya hanya untuk seseorang yang telah tiada. Aku sangat menyedihkan bukan?"


Luzi meluapkan semuanya, apa yang ia rasakan selama ini. Terasa menyakitkan jika tak ia keluarkan semua unek-uneknya.


Son tak henti memandangi Luzi, wajah tuanya yang masih terlihat cantik membuatnya iba. Tubuhnya hampir ambruk, tiba-tiba Son menahan tubuhnya agar tak jatuh. Luzi terkejut dengan sikap manis Son yang membantunya.


"Duduklah disini." Son menuntunnya menuju ranjang.


Pria itu tiba-tiba berjongkok di hadapannya. Ia berusaha menurunkan egonya sedikit. Bayangan Luzi dahulu yang sangat perhatian, menyayanginya dan bahkan selalu menemaninya setiap waktu membuat hatinya terbuka sedikit demi sedikit.


"I-i-bu ...." Son memanggilnya walau terasa berat.


Air mata Luzi tambah mengalir deras. Panggilan merdu yang berasal dari mulut putra terakhirnya.


"Pulanglah." Son tak mampu melihat wajah Luzi. Dia terus menundukkan kepalanya.


Sania hanya mampu berdiri sambil menyaksikan pemandangan mengharu biru itu.


"Aku sudah mengajukan perpisahan. Jadi sebentar lagi aku bukan lagi istri dari ayahmu," jawab Luzi sambil terisak.


"Jangan berpisah, ayah sangat sedih, Bu." Son kini memberanikan menatap Luzi. Kini mereka berdua saling menatap satu sama lain. Ada sebuah kerinduan yang ada di dalam mata keduanya.


"Aku sudah lelah dengan semuanya. Ayahmu tak pernah mencintaiku. Dan maafkan jika aku selama ini membuat ibumu merasa sakit hati. Aku tidak tahu jika ayahmu mencintai ibumu sebelum mengenal aku, jika aku tahu, aku tidak akan mau menikah dengannya."


Son kali ini paham, ibunya ternyata salah paham dengan semuanya. Ini akibat ayahnya yang tak berterus terang tentang siapa Luzi sebenarnya.


"Ibu ...maafkan aku ...." Son menaruh kepalanya tepat dipangkuan Luzi. Wanita itu menangis lagi, tak percaya hati Son yang kali ini sudah melunak. Tangannya bergetar ingin menyentuh puncak kepala putra terakhirnya.


.


.


.

__ADS_1


.


Tak mau memaksakan Luzi untuk pulang ke rumah utama. Akhirnya Son dan Sania membujuk untuk ke rumah mereka saja. Tapi sebelum itu mereka telah memberitahukan Rico dan Darien bahwa ibunya ada di rumah Son. Tapi Luzi masih saja tidak ingin Math tahu. Tak peduli sekalipun suaminya itu sedang dirawat di rumah sakit.


Dengan adanya Luzi di rumah, membuat Son sedikit tenang meninggalkan Sania di rumah. Setidaknya saat dia di kantor, Sania di rumah ada yang menemani.


"Ibu, sepertinya aku dari dulu sering merepotkan mu. Dulu Ibu yang merawat ku dan menemaniku bermain, sekarang Ibu harus menemani istriku yang sedang hamil," ujarnya tidak enak hati.


Luzi tersenyum lalu menepuk pundaknya pelan. "Ibu merasa tidak direpotkan sama sekali. Kalian ini tetap malaikat-malaikat kecil kesayangan Ibu," ujarnya terkekeh.


Pemandangan yang Sania harapkan dari dulu. Son sudah mulai menerima Luzi kembali. Dia tak lagi membencinya. Ini hanya sebuah kesalahpahaman.


****


Beberapa bulan kemudian....


Di sebuah rumah sakit ternama, pasien silih berganti berdatangan. Padahal hari sudah gelap gulita. Bahkan bulan tak tampak di langit, sepertinya tertutup akan awan hitam.


Suasana sangat dingin, angin bertiup sangat kencang membuat siapa pun tak dapat mengantuk di tengah malam ini.


Seorang pria yang masih mengenakan setelan piyama terlihat cemas berdiri di depan ruangan tertutup. Hatinya benar-benar khawatir menanti kabar baik yang sebentar lagi akan dia terima.


"Kenapa aku tidak boleh masuk!" Dia kesal, dokter tak mengijinkannya untuk menemani istrinya yang sedang bertaruh nyawa. Entah ada peraturan darimana. Tapi Rico yang tak ingin berdebat, akhirnya mengalah.


"Rico, dimana Keyla?" Luzi tiba-tiba datang, padahal Rico hanya memberitahukan orang tua dari istrinya saja tentang Keyla yang akan melahirkan.


"Ibu, Ibu kenapa kesini? Ini sudah malam." Luzi datang bersama Son, pria itu mengisyaratkan bahwa Luzi sendiri yang memaksakan untuk datang. "Duduklah, Bu." Rico mengajaknya untuk duduk.


"Ini momen yang Ibu tunggu-tunggu. Ibu ingin melihat cucu pertama Ibu," ujarnya.


"Son, kau juga kenapa kesini? Sania bagaimana? Dia di rumah bersama siapa?" Kini Son yang menjadi sasaran Rico.


"Sania saat ini berada di rumah Paman Raul, Kak. Dia memang ingin menginap di sana." Rico pun merasa lega mendengar jawabannya.

__ADS_1


Hubungan Rico dan Son memang sudah membaik. Luzi lah yang perlahan membuat keduanya melunak. Tapi berbeda dengan Darien, keduanya memang sama-sama membenci.


__ADS_2