
Hingga tengah malam tiba, mata Sania masih terjaga. Disebelahnya telah tertidur seorang balita yang menggemaskan. Sudah dua malam ini, mereka tidur bersama. Ada rasa nyaman yang tak bisa ia utarakan.
Tok!
Tok!
Suara ketokan pintu yang suaranya sangat lirih. Dia melirik pada pintu kayu yang dibuka oleh Sarah.
"Sudah kuduga, kau belum tidur." Sarah berjalan pelan-pelan, takut membangunkan anak pertamanya.
"Sarah, ada apa?" Sania terkejut tiba-tiba Sarah masuk ke dalam kamar.
"Aku kebelet buang air kecil tadi, terus tidak sengaja ingin melihat anakku tidur," ucap Sarah. Dia mengelus kepala anak pertamanya dengan lembut dan mencium keningnya sekilas.
Sarah sangat keibuan. Dia bisa menjadi seorang ibu di usianya yang masih muda. Sarah memang lebih tua darinya satu tahun. Tapi memiliki anak di usianya yang belum genap 20 tahun, itu sangat lah hal yang luar biasa.
Sania mengelus perutnya yang rata, bagaimana rasanya jika nanti dia hamil dan memiliki anak. Dia tak bisa membayangkannya nanti.
"Sania, kenapa melamun!" Sarah menepuk lengannya.
Sania tersenyum seraya menggeleng. "Hm, Sarah. Besok aku mau pulang." Setelah ia pikir, sebaiknya dia segera pergi dari sini. Dia tak ingin terus merepotkan Sarah. Apalagi bentar lagi suaminya akan pulang. Tidak enak jika satu rumah dengan orang yang sudah berkeluarga.
"Kau mau kemana? Katanya jika tinggal di rumah pamanmu, nanti suamimu akan mudahnya mencarimu. Di sini saja, buat teman aku." Sarah merasa senang dengan kehadiran Sania, bisa buat temannya di rumah. Selagi suaminya tinggal di mess yang disediakan kantornya.
"Paman pasti mengkhawatirkan ku." Sania sengaja mematikan ponselnya. Berita tentang dirinya yang pergi dari rumah pasti sudah sampai ke telinga pamannya.
***
"Son, ini terakhir kalinya Ayah menasehati mu. Pertama-tama Ayah meminta maaf padamu, jika keputusan Ayah untuk menikahkanmu dengan Sania itu adalah sebuah kesalahan. Ayah seakan mengatur hidupmu. Tapi percayalah Son, Ayah tidak mungkin salah pilih. Kenali lebih dalam Sania, dia gadis yang baik. Jangan tutupi hatimu dan jangan ragu mendekatinya."
__ADS_1
Perkataan ayahnya begitu terngiang-ngiang di kepalanya. Hingga dia terlelap dengan segala pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.
Matahari telah menyapa seluruh penduduk di muka bumi. Sinarnya yang terang, seakan memberikan semangat untuk para penduduk bumi.
"Tuan Son, memanggil saya?" Bi Ranih melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar setelah ia mendapat pesan dari pelayan muda bahwa Son memanggilnya untuk segera ke kamar.
"Bi, apa Bibi tahu dimana Sania?" Otaknya benar-benar buntu. Dia bingung harus bertanya dengan siapa tentang keberadaan Sania.
"Maaf, Tuan. Bibi tidak tahu. Nona Sania tidak sering bercerita tentang kehidupannya atau teman-temannya," jawab Bi Ranih apa adanya. Sania memang orangnya cenderung tertutup.
"Tolong saya, Bi. Tolong hubungi Sania dan tanyakan dia sekarang ada dimana." Son memohon, wajahnya terlihat kusut. Dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang. Sampai-sampai ia meminta tolong pada pelayannya sendiri.
"Baik, Tuan. Akan saya coba." Bi Ranih pamit untuk menghubungi Sania. Dia berharap kalau Sania akan mengangkat panggilannya.
"Maaf, Tuan. Nomer nona Sania tidak aktif."
Son menjatuhkan kembali tubuhnya. Dia benar-benar lelah. Kemana dia akan mencari istrinya?
Setelah ia membersihkan diri dan menyantap sarapan, dia segera melajukan mobilnya ke suatu tempat.
"Dimana, Sania! Dimana keponakanku! Kenapa dia belum juga kembali! Jika terjadi apa-apa dengannya, tanganku ini yang akan menghabisi mu!" Son kembali ke rumah Paman Raul, berharap Sania pulang ke rumah ini. Tapi malah dia terkena amarah dari Paman Raul. Dia juga sangat mengkhawatirkan keponakan satu-satunya itu.
"Ayah! Hentikan!" Maria mencoba melerainya, dia menahan emosi ayahnya yang menggebu.
"Sania, kau dimana?" tanyanya dengan mata berair. Raul tidak fokus sekarang, dia memutuskan untuk tidak berangkat kerja hari ini. Dia ingin mencari Sania kemana pun. Kalau bisa dia akan menelusuri seluruh jalanan di kota ini.
"Paman, maafkan Son." Pria itu meminta maaf. Ini semua atas kesalahannya. Andai dia tidak egois, Sania pasti tidak akan pergi. Dia akan tetap tinggal di rumah.
"Pergi! Jangan kembali ke rumah ini jika belum membawa Sania pulang!" serunya membuat Son akhirnya melangkah pergi. Dia benar-benar harus mencari Sania.
__ADS_1
Son memacu mobilnya dengan kencang. Menyalip beberapa kendaraan di depannya, hingga bunyi klakson memenuhi pendengarannya.
"Siallllll!!!!! Dimana kau, Sania! Gadis ingusan!"
Mobil berhenti di sebuah jalanan yang kosong. Matanya berpendar mengelilingi suasana di jalanan kosong itu. Matanya menatap langit, tak ingin menyerah. Sekuat tenaga dia akan mencari istrinya.
"Kau menghilang kemarin untuk operasi mata? Apa itu benar? Kau sekarang sudah bisa melihat dan aku juga akan menepati janjiku."
"Akan menepati janjiku. Akan menepati janjiku."
Kata terakhir yang ia dengar dari Sania, terngiang-ngiang terus di kepalanya. Seharusnya dia jangan memperlihatkan akan matanya yang sudah bisa melihat. Seharusnya dia tetap pura-pura buta saja agar Sania terus disisinya. Dan dia bisa benar-benar melihat ketulusannya.
"Aargggghhhhhhhh"
Dia menyesal, benar-benar menyesal. Dia tak ingin semuanya jadi seperti ini.
"Son! Apa gadis itu telah merebut hatimu?" tanyanya dalam hati.
Membayangkan wajah Sania yang manis, lugu dan juga konyolnya tingkah lakunya. Membuatnya merasakan bahwa tak ada wanita lain di dunia ini yang seperti Sania. Baru kali ini ia bertemu dengan wanita seperti Sania. Ayahnya benar, dia tidak mungkin salah pilih untuk pasangan putranya.
***
Kakinya berpijak di halaman yang luas. Ini saatnya ia kembali. Setelah apa yang dia inginkan sudah ia urus semuanya. Hanya tinggal menghitung waktu. Semuanya akan kembali seperti semula. Dia akan terbebas dengan kehidupan yang menyiksa itu. Dan dia akan kembali menjadi remaja pada umumnya.
"Sania! Kemana saja kamu." Paman Raul langsung memeluk keponakannya. Dia benar-benar khawatir dengan keadaannya. Sania yang dipeluk oleh Raul begitu terkejut. Sudah lama Paman tak memeluknya. Mungkin terakhir kali saat dirinya masih kecil. Disaat orang tuanya masih ada.
"Paman, Sania tidak kemana-mana. Sania tetap di sini." Kedua mata mereka bertemu, Sania merasa terharu melihat mata Pamannya yang berlinang. Tak menyangka bahwa Pamannya akan mengkhawatirkannya sampai seperti ini.
"Sania, jangan pergi lagi. Paman mohon. Jika kau pergi Paman akan terus menyalahkan diri sendiri. Tolong jangan pergi, jika ada masalah tolong cerita pada Paman." Raul tidak mau kehilangan Sania. Kesalahannya yang dulu belum benar-benar ia lupakan, dia ingin menebusnya sampai membuat Sania bahagia selalu.
__ADS_1
"Sania pergi hanya ingin mengurus surat perpisahan aku dan Son. Hanya itu saja."
Raul membelalakkan matanya. Dia begitu terkejut dengan ucapan Sania barusan. Jadi, perpisahan itu benar-benar dari tangan Sania.