
TOK!
TOK!
TOK!
"Sania ...." Suara wanita terdengar memanggil nama istrinya. Son berjalan untuk membuka pintu.
Ternyata ada Maria, gadis itu terkejut saat melihat Son yang berada di dalam kamar sepupunya. Dia baru saja pulang dari kampus, tidak tahu jika Son ada di rumah.
Maria tersenyum padanya. Son memandangnya tanpa henti membuat Maria takut sendiri.
"Dia sepertinya bisa melihatku?"
"Ada apa? Kau mencari Sania? Dia ada di dalam kamar mandi."
"Tuan, Anda bisa melihatku?" tanya Maria dengan pandangan tak henti melihat kedua mata Son.
"Maria! Jangan ganggu Son dan Sania!" Raul tiba-tiba menarik paksa tangan putrinya untuk pergi dari sana.
"Ayah, suaminya Sania sudah bisa melihat?" tanyanya sambil berjalan mengikuti langkah kaki ayahnya.
Son menutup pintunya kembali. Pintu kamar mandi terbuka, Son langsung berpura-pura meraba-raba sekelilingnya untuk sampai di ranjang.
"Kau habis kemana?" tanyanya karna posisi Son tidak sedang di ranjang.
"Tadi ada sepupumu. Siapa itu namanya." Son tidak ingat dengan namanya, tapi ia ingat dengan suara Maria. Walaupun dia belum pernah bertemu dengannya, tapi sudah jelas di rumah ini hanya ada Sania dan sepupunya.
Sania tadi melihat Son yang tampak tidak kesusahan saat berjalan. Berbeda dengan dulu saat ia melihat pria itu kesusahan dalam berjalan. Ini adalah tempat baru untuknya, tapi Son seperti sudah menghapal letak-letaknya. Bahkan dia tahu dimana kamar mandi di dalam kamar ini. Dia menaruh curiga.
"Oh, Maria. Ya sudah aku temui dia dulu."
__ADS_1
"Tidak usah! Istirahat lah sudah malam!" Son menyuruhnya untuk beristirahat, dia juga membaringkan tubuhnya.
Sania yang tidak tahu kalau Son sudah bisa melihat, dia dengan sengaja membuka pakaiannya di depan Son. Itu sudah menjadi kebiasaannya. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Tidak peduli akan Son yang ada di dalam kamar, ia pikir Son tidak akan melihat. Sudah sering kali dia seperti ini, saat di rumah suaminya pun sama.
"Gadis itu? Ah benar-benar!" Son meliriknya, menatap dengan jelas Sania berganti pakaian. Ia merasakan sesuatu yang tak biasa di dalam tubuhnya. Tubuh Sania yang mungil terlihat jelas. Bahkan dalaman dengan motif kartun itu melekat di barang berharga miliknya.
"Sedang apa kau?" tanyanya memancing. Karna tak ada suara yang ditimbulkan Sania.
"Aku sedang berganti pakaian," jawabnya polos.
Selesai sudah Sania berganti pakaian, dia kemudian duduk di meja rias. Dia tak pandai merawat diri, berbeda dengan Maria. Dia hanya memakai produk-produk kosmetik yang tidak begitu banyak. Karna wajah Sania juga sudah cantik. Kulitnya juga putih bersih seperti mendiang ibunya.
"Oh ya, tadi ayah mengirimkan pesan padaku. Bahwa besok kita disuruh ke rumah utama. Ibu berulang tahun, kita akan merayakan bersama di sana. Tapi, besok kita pergi cari kado dulu ya," usulnya. Sania menyisir rambutnya yang sudah agak panjang, dia juga ingin pergi ke salon besok.
"Besok kita pulang ke rumah saja!" Son memejamkan matanya, dia menghindari pembicaraan itu.
"Ya kita akan pulang. Tapi ke rumah utama dulu." Sania ingin menyatukan hubungan Son dan Luzi kembali. Tapi dengan cara apa, Sania tidak tahu. Permasalahan yang terjadi di keduanya juga Sania tidak tahu sepenuhnya.
"Sebenarnya ada masalah apa sih kamu dengan ibu? Kenapa kamu seolah-olah membencinya? Bukannya dulu kalian sangat dekat? Kenapa—"
"Diam!!!!!!!!" seru Son. Mendengar Sania yang selalu bicara membuatnya pusing. "Mulutmu terbuat dari apa? Kenapa bicaramu seperti mesin kereta api?"
Sania memelototinya, tidak terima dengan ucapannya barusan. Son yang bisa melihat ekspresi Sania pada saat itu berusaha menahan tawanya. Menurutnya itu sangat lucu. Kenapa gadis ingusan itu selalu bertingkah konyol.
"Pokoknya besok kita ke rumah utama! Titik! Aku tidak mau ayah marah karna kita tidak datang. Nanti dikira aku tidak menyampaikan pesan ayah." Sania tidak mau mendengar jawaban Son, dia menutup telinganya dengan bantal. Son yang melihat itu akhirnya hanya bisa diam.
"Kenapa dia tidak mau menjawab? Padahal kupingku sudah aku tutup! Menyebalkan! Dengar ya, aku tidak peduli dengan penolakan kamu. Besok kamu harus ikut!" ujarnya dalam hati. Dia memandangi Son tanpa henti. Ingin rasanya bantal ini melayang mengenai kepalanya yang sekeras batu.
"Keras kepala!!!!!!" teriak Sania secara tiba-tiba. Dan dia langsung menutupi wajahnya dengan bantal dan berbaring membelakangi suaminya.
"Hey! Apa kau bilang!" Son menarik baju Sania dan merebut bantal yang menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Keras kepala!!!!!!" teriaknya tidak jelas karna ditutupi bantal. Son masih mencoba merebut bantal itu, tapi kekuatan Sania ternyata besar juga. Hingga terjadi pergulatan di atas ranjang, Son yang mengeluarkan tenaganya tak sengaja jadi menindihi tubuhnya.
"Ah sakit!" pekiknya karna badan suaminya yang kekar menindihnya.
DAMN!
Lampu kamar tiba-tiba mati. Mereka terdiam dalam beberapa saat. Sania yang ketakutan langsung memegangi lengan suaminya.
"Apa-apaan ini? Mati lampu?" Sania tak dapat menjangkau apa pun dari matanya. Semuanya terlihat gelap.
"Diam lah! Ini gara-gara kau yang selalu saja banyak bicara!" Son perlahan bangkit, dia berjalan sambil meraba-raba menuju pintu.
"Hey, kau mau kemana?"
Sania yang tidak mau ditinggal, dia meminta ikut. "Hey tunggu! Kau kan buta," ucap Sania begitu teringat. Bagaimana mungkin Son dengan berani berjalan sambil meraba-raba. Tak ada yang bisa mengarahkan langkah kakinya, karna Sania juga tak bisa melihat apa pun.
"Kau ini benar-benar bodoh atau ingin bodoh? Aku buta! Aku sudah terbiasa tidak melihat apa pun! Tapi jika kita terus saja di dalam kamar, kita tidak akan mendapatkan penerangan." Son selalu pandai menjawab. Membuat Sania akhirnya mengangguk percaya dan mengerti.
"Aaaaaaaaa ...." Sania berteriak keras saat Paman Raul menghidupkan lilin persis di hadapannya. Membuat wajah Paman Raul yang terlihat garang tiba-tiba muncul secara tiba-tiba.
"Sania, Son!" Paman Raul meletakkan penerangan yang berupa lilin kecil itu di atas meja.
"Paman, mengagetkan Sania!" Jantungnya masih berdebar-debar, dia benar-benar terkejut.
"Maaf, maaf," ucapnya sambil terkekeh.
Lalu datang lagi Pak Mail dengan membawa penerangan yang sepertinya untuk Maria, karna beliau berjalan menuju kamar Maria.
"Sedang ada pemadaman listrik serentak. Jadi kemungkinan besok akan menyala. Istirahat lah. Dan bawa ini." Raul memberikan penerangan untuk dibawa Sania. Tapi matanya melirik pada Son yang mengerlingkan sudut matanya. Paman Raul sebenarnya ingin mengatakan yang sejujurnya pada Sania bahwa suaminya telah operasi mata. Tapi Son meminta untuk merahasiakannya dulu.
"Selamat malam, Paman." Son mengucapkan selamat malam untuk Paman Raul. Pria keras kepala itu memang sangat sopan terhadap orang lain.
__ADS_1