ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 48 SIKAP ANEH SON


__ADS_3

"Darien, kenapa kau tidak berangkat ke kantor?" Math tiba-tiba datang. Dia menatap putranya dengan tajam. Math kira putranya sedang berada di kantor ternyata malah di rumah santai-santai saja.


Darien masih menatap malas ayahnya. "Darien, di mana ponselmu? Kenapa panggilan dari ibu tidak pernah kau angkat?" Kini Luzi yang bergantian bertanya. Sejak kemarin Luzi sudah mencoba menghubungi putranya, tapi Darien seakan diam. Tak ada balasan atau pun jawaban darinya.


"Itu perusahaan Darien, jadi terserah Darien mau berangkat atau tidak." Begitu lah jawabannya, membuat Math semakin geram saja.


"Kau—" Math tak melanjutkan kata-katanya karna Luzi tiba-tiba mengelus punggungnya memberikan ketenangan.


"Darien, bersiap lah. Kita akan makan bersama di ruang makan. Ayah dan Ibu tunggu di sana." Luzi menarik Math pergi walaupun suaminya itu masih belum puas berbicara dengan Darien.


Di sana masih ada Sania dan Son. Keduanya terdiam mendengar perdebatan antara seorang ayah dan anaknya.


Darien pun beranjak pergi. Dia tak meninggalkan sepatah dua patah untuk Son dan Sania. Soal dia ada perlu dengan Sania seakan sirna begitu saja.


"Kenapa diam?" Son membuyarkan lamunan Sania yang sedang menatap jauh Darien yang pergi. Tubuhnya terguncang saat Son mencoba menggerakkan kursi rodanya sendiri.


"Iya, maaf. Kau harus ganti baju lebih dulu." Sania sebagai istri yang patuh. Dia mengambilkan pakaian untuk Son. "Keluar lah. Aku akan ganti baju sendiri," usirnya kemudian setelah Sania memberikan pakaian untuknya. Sania pun mengalah, dia memilih untuk menunggu di luar.


Padahal dia juga ingin berganti pakaian. Sania masih memiliki banyak baju baru yang belum sempat ia pakai. Entah datangnya dari mana pakaian-pakaian bagus itu. Semuanya tersusun rapi di lemari. Bahkan di lemari kamarnya yang pisah dengan Son juga di sana ada baju miliknya.


"Kenapa kamu di sini, Sania?" Darien kembali datang. Saat ini pakaiannya sudah berubah. Kelihatan lebih rapi dari yang tadi. Sania berdiri di depan pintu, membuat Darien bertanya-tanya


"Hmm, tidak. Sania mau ke dapur, Kak," jawabnya dan langsung melangkahkan kakinya pergi.


"Jangan berbohong, Sania!" Darien menarik tangannya. Rambutnya berayun searah kepalanya yang memutar ke belakang. Wajah cantiknya terlihat sempurna. Darien menarik tangannya dengan lembut, hanya saja Sania merasa terkejut dengan perlakuan Darien yang tiba-tiba. "Kalian ini sebenarnya pasangan suami istri atau bukan? Kenapa seolah-olah kalian masih ada jarak satu sama lain?" Sania yang canggung tangannya dipegang oleh kakak iparnya, perlahan melepaskan pegangan itu. Dia tidak boleh hanyut dalam perasaan.


"Kak Darien bicara apa? Sania dan Son sudah menikah, apa pun yang terjadi pada kami, itu rahasia kami berdua." Sania merasa tersinggung dengan pertanyaan Darien. Walaupun kenyataannya benar, tapi Sania tidak terima. Seharusnya Darien jangan terlalu ikut campur dalam rumah tangganya.


"Oh, maaf. Bukan maksud Kakak seperti itu. Hanya saja Kakak tidak mau kalau antara kamu dan Son hubungannya tidak baik. Kalau ada yang bisa Kakak bantu, pasti akan Kakak bantu." Sania tersenyum, dia mengatakan terima kasih pada Darien yang sudah mencoba peduli.

__ADS_1


"Sania!!!!!!!" Suara Son memanggilnya. Sania dengan sigap masuk ke kamar. Darien ingin ikut masuk tapi dia urungkan. Walaupun dia hanya mencoba peduli tapi jangan terlalu berlebihan.


"Kau sudah selesai pakai baju?" tanya Sania. Walaupun sekarang dia lihat, Son sudah terlihat rapi. Hanya saja rambutnya masih sedikit berantakan.


"Berbicara dengan siapa di luar?" Bukannya menjawab pertanyaannya, dia malah balik bertanya. Kupingnya masih bisa mendengar jelas. Dia sedikit mendengar, suara Sania yang sedang mengobrol dengan seseorang. Itu yang membuatnya akhirnya memanggilnya.


Tapi Sania bingung untuk menjawab. Jika dia bilang habis mengobrol dengan Darien, pria itu pasti langsung marah-marah.


"Hey, jawab!!!!" Son mulai tersulut emosi. "Dengan kakak ipar kesayanganmu itu?" tanyanya menyindir.


"Iya, dengan kak Darien. Apa kau tadi mendengar percakapan kami?" Sania dengan terpaksa berterus terang, karna percuma saja jika dia mencoba berbohong. Son pasti akan terus memaksa berkata jujur.


"Iya. Semuanya," jawab Son jelas.


"Apa saja yang kau dengar?" tanyanya memastikan.


Suasana semakin panas, Son kini meremas sprei dengan kuat. Hatinya seakan panas. Entah apa yang sedang Darien rencanakan, kenapa kakaknya itu mencoba mendekati istrinya.


"Kita pasti sudah ditunggu ayah dan ibu di ruang makan. Ayo kesana." Sania mengalihkan pembicaraan, dia menarik kursi roda ke hadapannya agar dia bisa duduk di sana.


SETTTTT...


Bukannya Son naik ke kursi roda, dia malah tiba-tiba menarik tangannya dengan kuat saat Sania ingin membantunya naik ke kursi roda.


"Awww .... Kau kenapa menarik tangan ku?" tanya Sania menahan sakit.


"Katakan apa yang kalian bicarakan tadi. Jelaskan semuanya!" Tak mengerti dengan sikap Son yang menyeramkan seperti ini. Dia terkadang bingung dengan sikapnya. Mengapa dia selalu saja bertanya pakai nada emosi.


"Kau tadi mengatakan jika kau mendengar se—"

__ADS_1


"Katakan, cepat!" potong Son tidak sabar. Dia hanya ingin mendengar penjelasan darinya bukan malah balik bertanya.


"Kenapa sih dengan orang ini! Menyebalkan!"


"Kita tidak membicarakan apa pun. Hanya saja kak Darien bertanya, hubungan suami istri antara kita itu bagaimana? Kenapa seolah-olah seperti ada jarak," kata Sania menjelaskan.


"Kau ingin tak ada jarak?" jawabnya cepat.


Tangan Sania masih berada di pertahanannya dan kini Son menarik sekalian tubuhnya. Hingga akhirnya Sania berada di pangkuannya.


Sania membelalakkan matanya tidak percaya dengan perilaku Son kali ini. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Sania gugup. Dia merasa malu, jarak mereka sangat dekat. Walaupun Son tidak bisa melihat, tetap saja Sania merasa canggung. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.


"Aku ingin kita tidak ada jarak," ujarnya sambil menyeringai. Matanya yang buta seakan berbicara, dia nampak serius sekarang.


"Hah?????" Son tiba-tiba memegangi dagunya. Membuatnya mendongakkan wajahnya. "Aww, sakit," rintihnya membuat Son perlahan melepas cengkramannya di dagu. Kini beralih memegangi pinggangnya.


"Hey, kau kenapa?" Sania masih terlihat bingung.


"Ini kan yang kau inginkan?" Jarak mereka semakin dekat. Sania bisa merasakan hembusan nafas dari suaminya.


"Apa maksudmu?" Sania hampir saja kehabisan napas. Dia tidak bisa mengontrol detak jantungnya jika berhadapan dengan Son. Cengkraman pada pinggangnya semakin erat, bahkan tangannya dia gerak-gerakan disekitar pinggang hingga perutnya. Sania merasakan hal yang aneh di dalam tubuhnya.


Son pria yang dingin dan cuek. Kini berhasil menyentuh dirinya walaupun sikapnya masih saja kasar. Tangannya meraba pada sisi baju Sania yang pendek. Ingin rasanya menolak, tapi Sania takut. Dan tak ingin mertuanya tau kalau mereka sedang bertengkar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2