ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 80 TIDAK BOLEH MASUK


__ADS_3

"Arrrggggghhhh ...." teriak Son sambil menggenggam erat gelas yang kosong.


CRANGGGGGG!!!!!!


Dia membantingnya dengan amarah yang berapi-api. Semua pelayan ketakutan. Mereka tak berani mendekat, karna Son sekarang sudah bisa melihat. Itu lebih berbahaya, pergerakan Son tak ada yang tahu nantinya.


"Tuan, Anda kenapa?" Hanya pelayan senior yaitu Bi Ranih yang berani menghampirinya. Ini baru satu gelas yang ia pecahkan, tak begitu membahayakan.


"Tutup semua pintu! Jangan biarkan Sania masuk ke dalam rumah! Jika ada yang membiarkan Sania masuk, akan saya pecat detik itu juga!"


Pelayan langsung saling pandang, sebagian besar mereka tahu apa yang menjadi permasalahan keduanya.


"Nona Sania tadi pergi bersama tuan Darien. Mungkin karna itu tuan Son marah," bisiknya pada pelayan yang lain. Mereka semua menjadi mengerti sekarang.


"Tuan, Anda mengusir nona Sania?" tanya Bi Ranih. Dia yang tidak tahu tentang kepergian Sania dan Darien jadi bingung tentang permasalahan mereka.


"Cepat tutup pintunya semua!" teriaknya menggema. Semua pelayan langsung lari terbirit-birit, mereka menutup semua akses pintu.


Son berjalan dengan gagahnya, menuju kamarnya sendiri. Dia terduduk di atas ranjang dengan pandangan menghadap langit-langit kamar. Matanya sudah bisa melihat, semua bayangan tentang Sania di kamar tiba-tiba terlintas di kepalanya lagi. Apa yang dulu sering Sania lakukan di sini, dia membayangkan. Apa dia memang sering bertelanjang di kamarnya bahkan dihadapannya sendiri? Seperti saat mereka menginap di rumah Paman Raul.


Lalu saat Sania diam-diam masuk ke dalam kamar mandi saat Son sedang mandi. Lalu saat Sania diam-diam tidur di kamarnya dan pagi-pagi Son tak sengaja menjatuhkan gelas dan telapak kakinya menginjak pecahan gelas itu, Sania lah yang menjadi pahlawannya saat itu.


"Ah menyebalkan!"


Son tak bisa menghilangkan sosok Sania dalam ingatannya. Sekali pun Sania telah membuatnya kesal. Dia berjalan menuju jendela kamar, dan tak sengaja matanya menatap sosok gadis yang sedang turun dari sebuah taxi.


Tepat di depan gerbang dia berdiri tapi sepertinya satpam melarangnya untuk masuk.


"Maaf, Nona Sania. Anda tidak diperbolehkan masuk," ucapnya dengan suara pelan. Pak Satpam tak tega menyampaikannya, tapi daripada dia dipecat akhirnya memberanikan diri.


"Tidak boleh siapa?" Matanya mendelik. Dia kemudian menatap ke atas, dia melihat Son yang ada dibalik jendela. "Suamiku melarang aku untuk masuk? Baiklah, aku disini saja."


Pak Satpam bingung sendiri, melihat nonanya panasan di depan gerbang. "Hmm, Nona. Anda sebaiknya duduk di sini saja." Pak Satpam menyuruhnya duduk di pos satpam daripada Sania terkena panasnya matahari.

__ADS_1


BIM!


BIM!


Bunyi klakson mobil mengagetkan mereka. Ternyata mobil Darien. Dari dalam mobil Darien memandangi Sania, tapi dengan cepat ia memalingkan wajahnya. Sania ingin mendekat, tapi tiba-tiba Darien melajukan mobilnya dengan cepat.


"Kak Darien marah denganku?" Dia kemudian mengurungkan niatnya untuk menghampirinya. Sania memilih duduk saja di pos satpam sampai dia diperbolehkan masuk oleh Son.


"Tuan Darien, nona Sania tidak diperbolehkan masuk oleh tuan Son." Bi Ranih mengadu pada Darien tapi pria itu acuh. Tak menjawabnya sama sekali, dia malah berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Membuat tenggorokannya basah karna dari tadi dia merasakan tenggorokannya sangat kering.


"Tuan, tolonglah nona Sania ...." Bi Ranih tidak tega melihat Sania yang tidak diperbolehkan untuk masuk.


"Aku bukan suaminya!" jawabnya dan berlalu pergi.


"Ada apa dengan penghuni rumah ini?"


Bi Ranih melongok ke arah depan. Sania terlihat duduk di pos satpam. Dia lantas menyuruh seorang pelayan untuk memberikannya minum dan makanan.


Prok!


Prok!


Prok!


"Bagaimana harimu Kakak? Menyenangkan bukan? Pergi dengan istri orang," sindirnya.


Kedua mata mereka bertemu. Mata yang saling melempar kebencian.


"Dan bagaimana harimu Adik? Apa saat ini kau sedang menghukum istrimu sendiri? Jangan sampai kau menyesal atas perbuatan kamu sendiri."


"Tidak usah ikut campur!" Son menatapnya dengan tajam. Sorot matanya seakan membunuhnya. Darien tidak pernah takut, bahkan jika saat ini mereka berduel, dia pun berani.


"Aku tidak pernah ikut campur. Hanya saja kau selalu ketakutan atas semua yang aku lakukan. Tenang lah, adik. Aku tidak jahat padamu. Kita hanya perlu berteman saja, jadi semuanya akan aman." Darien benar-benar menguji kesabarannya, dia seperti sedang menantangnya.

__ADS_1


"Apa kau menyukai istriku?" tanyanya yang mengandung tuduhannya selama ini.


Darien tersenyum miring. "Istri? Istrimu? Yang mana istrimu? Sania? Gadis yang kau acuhkan selama ini. Yang kau siksa selama ini. Yang tak pernah kau anggap. Yang slalu membuatnya menangis? Jangan pernah menganggapnya sebagai istri jika kamu tidak bisa melindunginya." Kata-kata Darien seperti tamparan buatnya. Dia seakan dihajar habis-habisan oleh perkataan Darien yang benar adanya.


"Diam! Kau tidak tahu apa-apa!" jawabnya tidak terima.


"Aku tahu, aku tahu semuanya!" Son mulai terpancing, dia sudah mengepalkan tangannya bersiap memukul kakaknya. Walaupun dia dari dulu tidak pernah berani memukulnya lebih dulu. Son masih punya sopan santun. "Apa? Kau ingin memukulku?" Darien menantangnya.


"Lebih baik kau bercermin lah! Sebelum cermin mematahkan wajahmu!" Darien mencengkeram erat kaos yang dipakai Son, dia benar-benar sedang memeringatinya dengan kata-kata tajam.


Son menghempaskan kasar tangannya, dia kemudian membetulkan pakaiannya. "Menikahlah! Jadi tidak mengganggu istri orang!"


Darien tidak menghiraukan ucapan Son, dia tetap melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Son berjalan keluar, ingin mengecek dimana Sania.


"Untuk siapa itu?" Son memergoki pelayan yang membawa makanan di atas nampan. Pelayan muda itu ketakutan karena merasa ketahuan.


"Un-untuk nona Sania, Tu-tuan," jawabnya gemetaran.


"Kau sudah lancang ya?"


"Ma-maaf, Tuan. Saya disuruh bi Ranih," jawabnya.


"Singkirkan makanan itu! Bawa kembali ke dapur!" perintahnya tegas.


Sania merasa bosan duduk terus di pos satpam. Dan tiba-tiba dia teringat.


"Pak, suami saya kan buta. Bagaimana kalau saya diam-diam masuk saja ke rumah. Bapak juga akan aman tidak dipecat, dan saya bisa istirahat di kamar saya sendiri," usulnya.


Bukannya Pak Satpam tidak mau, tapi Sania belum tahu kalau suaminya sudah bisa melihat. Jika dia mengiyakan itu berarti Pak Satpam akan siap dipecat.


"Sepertinya saya tidak bisa bantu, Nona. Saya benar-benar takut dipecat," jawab Pak Satpam menolak halus.

__ADS_1


"Pak, suami saya kan tidak bisa melihat—" Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Dia tak bisa melanjutkan kata-katanya kembali. Saat Sania melihat Son berjalan dengan kaki telanjang menuju halaman rumah. Dari pintu utama dia berjalan layaknya manusia normal. Dia bisa melihat, lihatlah dia berjalan dengan angkuhnya. Dengan matanya yang setajam elang menatapnya dari kejauhan. Son benar-benar bisa melihatnya.


"Suamiku sudah bisa melihat?" Tubuhnya mendadak lemas seketika. Dia menolehkan kepalanya pada Pak Satpam yang terlihat biasa saja. "Bapak sudah tahu?"


__ADS_2