
Penerangan dibeberapa ruangan sudah dimatikan. Jam dinding menentukan pukul 12 malam. Tengah malam yang sunyi, dia berjalan dengan sempoyongan. Hawa kantuk masih menyelimuti gadis itu. Tapi karna dorongan perutnya yang keroncongan, dia memaksakan berjalan kaki menuju dapur. Berharap bisa menemukan makanan apa saja untuk isi perutnya.
BRUGHH....
Tubuh mungilnya menabrak benda besar yang empuk. Dia langsung membuka matanya lebar-lebar yang semula ia hanya setengah membuka matanya.
"Sania." Darien yang masih memakai pakaian kantor lengkap memegangi tubuh Sania yang hampir ambruk karna menabraknya.
"Ka-kak ...." Sania mengerjabkan matanya lalu mengamati benar-benar orang dihadapannya. Dia tak bisa melihatnya dengan jelas karna ruangan begitu gelap.
"Kau mau kemana?" tanyanya.
"Aku mau ke dapur, Kak," ucapnya sambil menguap lebar. Sungguh dia mengantuk sekali, tapi perutnya kosong. Karna dia sengaja melewatkan makan siang juga malam. Dia hanya memakan buah dan juga cemilan ringan.
"Kau lapar?" tanyanya lagi. Dia lantas menarik tangan Sania, juga menyalakan lampu. "Duduk lah. Kakak buatkan sesuatu." Sania yang masih dalam keadaan lemas karna mengantuk, dia pun menurut saja. Dia duduk di meja makan sambil memandangi Darien dari arah belakang. Darien menaruh jas juga tas kantornya di meja makan. Membuka kancing atasnya hingga menampakkan dadanya sedikit. Rambutnya yang berantakan, menambah kesan seksi. Dia tampak gagah walaupun dari arah belakang. Tubuhnya benar-benar sempurna. Mulutnya yang tertutup tak hentinya memuji kegagahan kakak iparnya yang baik hati itu.
"Kak Darien baru pulang?" tanya Sania. Matanya tak berkedip melihat pesona kakak iparnya. Kenapa pria setampan dirinya belum memiliki kekasih? Dan belum menginginkan untuk menikah?
"Iya. Tadi di kantor banyak kerjaan." Tengah malam ini, Darien memilih membuat roti panggang untuknya. Menu yang simple dan tak banyak bahan. Untung saja stoknya masih ada semua.
Bau harum yang tercipta dari roti panggang, membuat perutnya semakin berdemo. Meminta untuk cepat diisi. Tiba-tiba dia berangan andai saja memiliki suami seperti Darien. Sudah tampan, pengertian, lemah lembut dan dia juga sangat mandiri.
"Ini untukmu, Sania. Makan lah." Darien menyodorkan satu piring berisi roti panggang untuknya.
"Terima kasih, Kak." Sania tak sabar untuk memakannya, tapi dia melihat Darien yang malah diam saja sambil memandangi dirinya. "Roti panggang untuk Kak Darien mana?" tanyanya saat Darien ternyata membawa satu piring saja untuknya.
"Kakak sudah kenyang. Ini semua untukmu," ucap Darien sambil tersenyum. Gadis di depannya, membuat hatinya sedikit lunak. Raganya sebenarnya lelah, tapi dia menyempatkan untuk membuatkan roti panggang sebelum dia beristirahat.
"Ini untuk Kakak." Sania memotong roti panggang miliknya untuk dibagi dua dengannya. "Makan, Kak. Sania tidak mau makan jika Kakak tidak makan," ucapnya mengancam. Wajahnya memohon sangat, berharap Darien mau menemaninya makan.
"Baik lah." Darien akhirnya mau membuka mulutnya. Merasakan enaknya roti panggang buatannya sendiri. Di sela-sela dia makan, Darien curi-curi pandang pada Sania yang sibuk memakan roti. Dia mengamati wajah manisnya. Gadis mungil yang harus merelakan masa mudanya untuk menjadi seorang istri. Itu pasti tidak mudah, bagaimana Sania bisa sekuat ini? Bertahan sampai sejauh ini? Dengan adiknya yang jelas-jelas tak pernah menyukainya. Sebenarnya apa yang Sania cari?
Malam ini, mereka lalui bersama dalam sunyi. Mereka tertawa bersama disaat salah satu dari mereka bercerita akan hal konyol yang pernah terjadi dalam kehidupan mereka. Sania memegangi perutnya yang kram, karna kebanyakan tertawa. Setidaknya malam ini, bisa melepaskan sedikit beban pikirannya tentang hidupnya yang tertekan. Di rumah ini ternyata masih ada malaikat untuknya.
__ADS_1
"Sania, kau sudah berjanji pada Kakak." Darien meneguk minumannya sebelum melanjutkan perkataannya. Sedangkan Sania masih sibuk mengunyah roti panggang itu. "Kakak kan sudah membantu kamu untuk menemukan keberadaan bibi Lotus. Kakak ingin kau memberi Kakak hadiah." Dia mengulas senyum tipisnya.
"Hadiah apa, Kak?" Jika Darien meminta hadiah sebuah barang mewah, mungkin dia akan membelikannya menggunakan atm yang ia miliki. Sekali-kali untuk membeli barang mahal mungkin tidak apa lah. Lagi pula atm miliknya jarang ia gunakan untuk foya-foya.
"Sudah mau pagi. Tidur lah. Besok Kakak beri tahu." Darien menyuruhnya untuk segera beristirahat. Karna tubuhnya juga menginginkan untuk segera beristirahat.
***
TOK!
TOK!
TOK!
Suara ketokan pintu pagi-pagi. Gadis mungil yang masih dibalut selimut tebal mulai menggeliat. Dia mulai terganggu dengan suara berisik itu.
TOK!
TOK!
TOK!
"Tuan, sepertinya nona Sania belum bangun," ucap seorang pelayan memberitahu. Darien akhirnya bangun, dia berniat untuk membangunkan adik iparnya.
"Darien, duduk lah!" Suara Rico menghentikan langkah kakinya. Kepalanya menoleh, lalu mengerutkan keningnya. "Kita sarapan saja dulu. Nanti pelayan tinggal mengantarkan makanan saja ke kamar Sania."
"Tapi Kak, tidak biasanya Sa—"
"Duduk lah, Darien! Kakak bilang duduk!" Entah ada apa dengan Rico pagi ini. Kakaknya yang selalu pengertian dan ramah tampak menyebalkan kali ini. Padahal dia hanya ingin membangunkan adik iparnya. Tapi kenapa responnya terlalu berlebihan. Seolah-olah melarangnya, padahal apa salahnya?
Karna tidak mau berdebat, Darien mengalah. Dia duduk kembali dan mengambil piring.
"Berangkat nanti satu mobil dengan Kakak," ucap Rico tanpa memandangnya.
__ADS_1
Benar-benar aneh. Tidak biasanya Rico meminta Darien untuk satu mobil dengannya.
"Ada suatu hal yang harus kita bicarakan segera!"
DEG.
Darien menatap kakaknya. Berharap menemukan jawaban di kedua matanya. Sebenarnya hal apa yang ingin Rico bicarakan pada Darien? Soal kerjaan?
Setelah menyelesaikan sarapannya. Rico dan Darien langsung berangkat ke kantor. Kali ini mereka satu mobil dengan menggunakan sopir. Mereka duduk berdua di jok belakang.
"Darien, tolong jawab pertanyaan Kakak dengan jujur." Rico sedari tadi masih dengan mode serius. Suasana mendadak tegang.
"Kakak mau bertanya soal apa?" tanyanya.
"Soal Sania." Rico langsung menolehkan kepalanya. Banyak yang ingin dia tanyakan pada adiknya.
"Sania? Memangnya ada kaitan apa dengan Sania?" Darien semakin tidak mengerti.
"Kau menyukai Sania? Adik ipar mu sendiri?" Rico menatapnya dengan mata tak berkedip. Dia mulai menaruh curiga pada Darien. "Kakak melihatmu tadi malam. Tepatnya tengah malam," lanjutnya.
Darien terdiam. Dia pikir tengah malam tadi tidak ada yang melihat keduanya di dapur. Tapi ternyata Rico melihatnya.
"Tadi malam Darien membuatkan roti panggang untuknya. Karna dia kelaparan. Jadi—"
"Kau menyukainya?" Rico memotong ucapannya cepat.
"Pertanyaan macam apa ini, Kak? Dia adalah adik ipar Darien. Istri dari Son. Mana mungkin Darien menyukainya. Hanya Darien berusaha menjadi temannya. Sania di sini sendirian, Kak. Aku ingin membuatnya nyaman di sini. Apa Darien salah?"
"Salah! Tindakanmu terlalu berlebihan!" Rico menatap tidak suka. Tidak seharusnya kedekatan seorang kakak ipar dengan adik iparnya seperti itu. Berduaan di dapur tengah malam, bercerita bersama, bersenda gurau bersama dan dalam keadaan sepi.
.
.
__ADS_1
.
.