
Selama perjalanan di dalam mobil, Son hanya diam. Sania yang berada di sampingnya terus curi-curi pandang. Dia juga bingung harus mengawali pembicaraan tentang apa. Yang ia tahu, suaminya kini sedang diselimuti perasaan kecewa.
Tak terasa, mobil yang ia tumpangi sampai di sebuah pemakaman. Dimana Angela dimakamkan di sini. Son segera turun dan berjalan mendahului. Meninggalkan Sania yang sedang mengambil buket bunga di bagasi mobil.
Langkah demi langkah, Son terus berjalan. Menyelusuri makam-makam yang terlihat bersih, ini berkat dari petugas makam yang sudah dibayar untuk membersihkan makam-makam tersebut.
Langkahnya tertahan, saat ia melihat ada seseorang yang sedang duduk di pinggiran makam ibunya. Wanita dengan pakaian serba hitam, juga selendang hitam yang menghiasi kepalanya. Wanita itu menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Son ...." Bibi Crystal terkejut melihat Son yang juga hari ini mengunjungi makam adiknya. Walaupun sudah lama mereka tidak bertemu, tapi Crystal masih mengenali wajah tampan keponakannya.
"Bibi ...." Son melangkahkan kakinya mendekat. Bibi Crystal adalah saudara ibunya satu-satunya. Dulu mereka sama-sama berkarir di dunia permodelan. Kecantikan mereka hampir sama, bahkan mereka punya garis wajah yang mirip.
Bibi Crystal diketahui tinggal di luar negeri, tapi mungkin ia baru saja pulang ke tanah air.
"Son, sudah lama kita tak berjumpa. Oh ya, Bibi dengar kau sudah menikah? Kenapa Bibi tidak diundang?" Berita tentang Son yang menikah memang sampai ke telinganya, sekalipun ia berada di luar negeri.
"Iya aku sudah menikah. Maaf tidak undang Bibi karna yang Son tahu bahwa Bibi tidak tinggal di sini lagi," jawabnya.
"Memang benar, tapi Bibi pasti akan pulang jika ini menyangkut keponakan Bibi satu-satunya." Bibi Crystal merangkulnya, dia merindukan keponakannya.
Dari arah belakang, Sania mematung. Melihat suaminya berduaan dengan seorang wanita dan terlihat sangat mesra.
Sania berjalan memutari mereka dan meletakkan buket bunga di atas makam Angela.
"Siapa ini, Son?" Bibi Crystal membuka kaca mata hitamnya dan menatap lekat gadis di depannya ini.
__ADS_1
"Ini istriku, Bi." Sania langsung menyalami wanita yang ia ketahui adalah Bibi dari suaminya. Tapi wajahnya sangat awet muda dan masih terlihat sangat cantik. Sania kira, wanita ini seumuran dengan suaminya.
Setelah berdoa bersama untuk ketenangan Angela di sana, Bibi Crystal mengajak Son dan Sania makan siang bersama. Banyak hal yang harus ia sampaikan pada Son.
Sebuah rumah makan sederhana yang terletak tak jauh dari makam. Mereka mengambil meja di outdoor. Suasananya sejuk karna dikelilingi banyak pepohonan.
"Son, Bibi tak menyangka bahwa sekarang kau sudah menikah. Punya istri yang cantik lagi, Angela pasti senang melihatnya di sana." Dia ikut terharu melihat keponakannya sudah menikah. "Hm, tapi sayang sekali Angela harus merasakan sakit saat mengetahui ia dikhianati Math. Son, apa kau tinggal dengan ibu tiri mu?" tanyanya.
Son menggeleng. "Tidak, aku tinggal di rumah sendiri."
"Oh begitu. Bibi dulu memberi usul pada Angela untuk meninggalkan Math saja. Tapi Angela tidak mau, akhirnya dia tinggal satu atap dengan istri Math satunya."
Belum selesai rasa kecewanya, kini Bibinya menambahi menceritakan tentang hal yang menyakitkan lagi. "Ayah sebelum menikah dengan Ibu, beliau sudah menikahi wanita lain sebanyak tiga kali, Bi."
BRAAAKK!!!
"Apaaa ...!! Apa yang kau ucapkan itu benar? Jika benar .... Oh Tuhan, ayahmu benar-benar keterlaluan!" Dia menggelengkan kepalanya, tak menyangka tentang Math yang benar-benar tega.
"Ayah yang menceritakan sendiri. Istri pertamanya meninggal pasca melahirkan. Dan istri keduanya yang kini masih tinggal satu atap dengannya."
"Ibu Luzi namanya." Sania ikut menimpali.
"Iya Luzi, nama itu yang sering Angela ceritakan padaku. Dia sangat cemburu dengannya. Berhari-hari dia merasakan iri dan cemburu. Oleh karna itu, dia memilih untuk kerja pagi pulang malam setiap hari."
Son tak ingin mendengarkannya lebih lanjut. Dia tidak tahu jika ibunya dulu sengaja menyibukkan diri sendiri.
__ADS_1
"Tapi itu semua sebuah salah paham. Ayah Math lebih mencintai ibu Angela lebih dari apa pun. Tapi dulu katanya ibu Angela tidak mau diajak menikah. Hingga ayah Math dijodohkan dengan seorang wanita." Sania yang menjelaskan, tak mau semuanya memojokkan Ibu Luzi.
"Diam lah, Sania!" Son menggertaknya.
"Aku hanya menjelaskan. Agar tak ada yang memojokkan ibu Luzi semua. Ibu Luzi juga korban," jawabnya terus membela.
"Diam lah!" Kini Son melayangkan tatapan tajamnya membuat Sania menciut dan buru-buru mengunci mulutnya.
Crystal yang melihat perdebatan mereka lantas berusaha melerai. "Sudahlah, Son. Jangan membentak istrimu seperti itu. Angela juga bersalah, dia menyesal karna sejak awal Math mengajaknya menikah dia tidak mau dan memilih untuk terus mengejar karirnya. Hingga akhirnya Math dijodohkan dengan wanita lain oleh ibunya. Tapi Angela masih beruntung bisa bersanding dengan lelaki pujaannya, sedangkan Bibi—" Ini terlalu memalukan sebenarnya, Crystal akan menceritakan kehidupan percintaannya yang pahit.
"Kenapa, Bi?" tanya Son penasaran.
"Bibi hingga saat ini belum menikah. Karna lelaki pujaan Bibi telah meninggal dunia. Dan rasa penyesalan Bibi juga sama, tidak mau menikah saat awal dulu dia mengajak Bibi untuk menikah. Dulu Bibi sangat berambisi mengejar karir di dunia permodelan. Dimana seorang wanita setelah menikah akan hamil dan itu akan membuat badan kita tidak bagus lagi. Tapi itu sebuah keegoisan seorang wanita. Dan itu Bibi sesali sampai sekarang."
Cerita dari Crystal membuat Son membuka mata. Dia menatap istrinya, dia juga sama awalnya susah melupakan Vennie hingga akhirnya dia menemukan sosok gadis ingusan yang membuatnya penasaran. Berkali-kali dia mengelak telah jatuh hati dengannya, tapi perasaan takut kehilangan saat Sania pergi dari rumah sudah membuatnya cukup mengerti.
"Bibi, jangan bersedih. Sania yakin Bibi nantinya akan menemukan sosok lelaki lain yang bisa meluluhkan hati Bibi. Bibi terlihat masih muda dan cantik," pujinya membuat Crystal tersipu malu.
"Ah, Sania. Kau bisa saja. Apa Bibi terlihat masih muda?" tanyanya sambil mengambil kaca di dalam tasnya. Dia bercermin serta merapikan rambutnya yang bergelombang di bagian ujungnya.
Sania mengangguk, dia benar-benar mengagumi penampilan Bibi Crystal.
***
Masih di makam Renata, Math berjalan menghampiri Rico dan Keyla yang masih berada di makam. Sedangkan Luzi, dia memilih untuk kembali ke mobil. Luzi tak kuasa menahan air matanya tatkala teringat dengan Renata-sahabatnya.
__ADS_1
Dulu saat Math dijodohkan dengan Renata, awalnya dia tidak mau. Tapi memang saat itu dia juga jatuh hati pada paras cantiknya Renata. Hingga usul dari ibunya untuk menikahi Renata, ia setujui.
"Bertahanlah, Renata. Aku mohon." Math terisak saat menyaksikan Renata yang hampir kehilangan kesadaran pasca melahirkan putranya. Tubuhnya lemah dan tiba-tiba matanya terpejam. Membuat seluruh dokter dan perawat yang menangani langsung membawanya ke ruang icu.