
Malam berganti pagi. Tak terasa malam begitu cepat berlalu. Dan akhirnya bertemu lagi dengan pagi. Dimana segala aktivitas akan dimulai dari pagi hari. Anak-anak berangkat ke sekolah, karyawan berangkat ke kantor dan pedagang-pedagang telah memulai lapaknya pagi ini.
Seorang wanita tertidur pulas di dekapan suaminya. Dia menggeliat, merasakan sesuatu menumpu tubuhnya. Perlahan ia menyingkirkan tangan suaminya yang berat. Dia bangun dan mengedarkan pandangan. Sepertinya semalam dia ketiduran di mobil dan suaminya yang telah memindahkannya ke kamar. Jelas saja dia mengantuk, semalam ia bertemu suaminya pukul 12 malam. Dimana semua orang telah terlelap dan bermimpi indah.
Sania menguap lebar, pertanda ia sebenarnya masih mengantuk. Tapi dia paksakan untuk segera bangun dan mempersiapkan segala keperluan suaminya. Son masih terlelap, tampaknya dia kelelahan. Dia pandangi lamat-lamat wajah suaminya itu. Kenapa dia bisa bertemu dengan orang macam ini? pikirnya dalam hati.
Tiba-tiba Sania merasakan pusing, kepalanya terasa berputar-putar. Sampai tak sengaja dia meremas lengan suaminya erat-erat, karna tak tahan dengan pusing di kepalanya. Son akhirnya menggeliat, dia merasakan sakit di lengannya. Matanya perlahan terbuka dan melihat istrinya yang sedang memejamkan mata seperti menahan sakit.
"San ...." Mendengar suara suaminya, ia lantas menoleh. Matanya menyipit karena masih merasakan sakit. "Kau kenapa?" Son segera bangun, dia begitu khawatir sambil memegang dahinya.
"Kepalaku pusing sekali," keluhnya dengan suara lemah.
Son segera meraih ponselnya di atas nakas dan menelpon seseorang. Tak tahan dengan rasa pusingnya, Sania menyenderkan tubuhnya. Son menggenggam erat tangan istrinya memberikan kekuatan.
"Aku sudah telfon dokter. Aku ingin ke dapur sebentar." Sebelum ia berlalu pergi, dia mengecup kening istrinya. Begitu khawatirnya Son, dia berlari sambil berteriak memanggil pelayan.
"Ada apa, Tuan?" Bi Ranih datang menghampiri.
"Buatkan teh hangat untuk istriku cepat!" perintahnya dengan wajah tak ramah sedikit pun.
Son dengan cepat kembali ke kamar untuk menemani istrinya.
"San ...." Son tak mendapati istrinya di ranjang lagi. Lalu matanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup, dia merasa tenang karna ia tahu istrinya ada di dalam.
Dia menunggu istrinya keluar dan berdiri tepat di depan pintu. Hingga saat Sania membuka pintu, ia terkagetkan akan suaminya yang berdiri persis di depan pintu.
"Astaga!" Sania terkejut, dia reflek memegang dadanya.
"Kenapa lama sekali! Ngapain aja di dalam?" tanyanya.
__ADS_1
Son langsung mengecek tubuh istrinya, takut jika terjadi apa-apa.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya cuci muka saja. Dan sepertinya aku masuk angin, perutku terasa tidak enak. Rasanya mual sekali." Son dengan sangat perhatian menuntun jalannya, tak melepaskannya sedetikpun.
"Kita ke rumah sakit saja sekarang." Tak menunggu persetujuan istrinya, Son langsung memakaikan sebuah jaket pada tubuh istrinya.
"Untuk apa? Katanya kau sudah panggil seorang dokter."
"Tidak usah, aku cancel. Lama sekali tidak datang-datang!"
.
.
.
"Jalannya jangan cepat-cepat! Aku masih pusing," tegur Sania sambil memegangi kepalanya. Lalu beralih memegangi perutnya yang terasa tidak enak. Dia menutup mulutnya merasa mual.
"Kau kenapa?" Ia memberhentikan langkahnya menatap istrinya yang semakin pucat. "Ayo aku gendong," tawarnya.
Istrinya menggeleng seraya mengedarkan pandangannya ke keadaan sekitar, terlihat ramai. Dia tentu malu apalagi dia bukanlah anak kecil.
Belum sempat melangkah, tiba-tiba Sania ambruk. Tubuhnya tak kuat lagi berdiri disertai pusing yang teramat sangat. Membuatnya pingsan, jatuh mengenai tubuh suaminya. Son dengan sigap membawanya ke UGD.
***
Hari penuh kesunyian. Luzi menatap ke arah luar melalui jendela kamarnya. Menatap kendaraan berlalu lalang di jalanan yang ramai. Matanya melirik sebuah ponsel miliknya yang sengaja ia non aktifkan. Tapi ia butuh ponselnya sekarang, untuk menghubungi seseorang. Perlahan dia berjalan lalu mengambil ponselnya. Baru saja mengaktifkan, beberapa pesan telah masuk dengan pemilik nomer yang sama. Tapi dia tidak menghiraukan, yang ia butuhkan saat ini adalah bantuan dari seseorang yang ahli di bidangnya.
"Tolong urus semuanya. Hanya kau yang bisa bantu aku kali ini. Aku tidak bisa bertemu hari ini, besok saja kita atur jadwal."
__ADS_1
Dia merasa lega sekarang, apa yang ia harapkan akan segera terwujud. Dia bisa bebas menikmati dunia luar. Beberapa pesan yang dikirimkan oleh satu orang membuatnya sedikit penasaran. Ya, sudah tentu ia akan menanyakan dirinya ada dimana.
"Jika nanti aku menemukanmu. Aku tidak akan membiarkanmu keluar kamar! Kau seumur hidup akan di dalam kamar saja! Cepat pulang atau kau menunggu aku yang akan menjemputmu nanti!"
Pesan terakhir yang Math kirimkan padanya. Tak ada sedikitpun rasa takut dalam dirinya. Mana mungkin Math akan menemukan dirinya di sini. Kamar ini yang pesan atas nama Sania, tak ada namanya di sana. Jadi ia pikir, Math tidak bisa menemukannya di sini.
Dia memilih untuk membersihkan diri. Dia bertekad untuk membahagiakan dirinya sendiri dengan caranya sendiri. Tapi dia merasa menyedihkan, tak punya siapa pun untuk bersandar.
"Rico, Darien .... Son." Diantara mereka bertiga yang terlihat sangat peduli dengannya adalah Darien, tapi pria itu telah menikah. Tentu prioritasnya bukan dia lagi. Apalagi karakter Darien yang sangat bucin terhadap pasangannya. Seperti dulu, Darien begitu menyayangi kekasihnya sampai ia tak sadar bahwa telah dikhianati selama berpacaran.
Yang ia rindukan saat ini adalah Renata. Sahabatnya yang sangat peduli dengannya. Wanita itu yang selalu membantunya disaat susah dulu. Renata beruntung, bisa memiliki segalanya. Terkadang ia iri tapi melihat kebaikan Renata, dia jadi sadar diri. Lihatlah dia, punya orang tua yang kaya raya, bisa menikah dengan Math dan bisa memiliki anak yaitu Rico. Sedangkan dia .... Sudah yatim piatu sejak kecil, tak punya harta dan tak bisa memberikan keturunan. Sungguh menyedihkan, takdir hidup yang dijalani Luzi. Tak terasa, air matanya menetes.
Ia menangisi takdir hidupnya. Seperti tak berharga. Matanya terus menerus menatap sebuah botol yang mengandung senyawa. Ia berpikir untuk melakukan hal bodoh lagi. Tapi .... Ia sadar, bahwa itu akan merepotkan semuanya. Dia tidak ingin menjadi sebuah beban. Jika dia mati, pasti akan banyak media yang meliput. Bisa jadi keluarganya dalam satu masalah. Luzi ingin kehidupan mereka tenang, jadi ia mengurungkan niatnya.
***
Math terbangun dari tidurnya. Tak diduga ia ketiduran di atas sofa. Sofa yang berada di ruang tamu. Di atas tubuhnya ada sebuah selimut membalut tubuhnya, ia pikir ini pasti Bi Mar.
"Bi Mar! Bi Mar!" teriaknya menggema.
Bi Mar langsung lari tergopoh-gopoh menghampiri tuan besarnya.
"Iya, Tuan. Ada apa?" jawabnya sambil menunduk.
"Apa istriku sudah pulang?" tanyanya sambil merenggangkan otot-ototnya.
"Nyonya Luzi? Sedari semalam saya belum lihat, Tuan."
Math berdecak sebal. Dia melemparkan selimut ke arah sembarang.
__ADS_1